Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apa yang Dirasakan oleh Penderita Autoimun? Ini Penjelasannya
Wikimedia Commons/Haley Otman
  • Autoimun terjadi ketika sistem imun menyerang jaringan sehat, memicu gejala seperti kelelahan berkepanjangan, demam berulang, nyeri sendi, ruam, gangguan pencernaan, dan kambuhan peradangan.
  • Penyebab pastinya belum diketahui; risiko dikaitkan dengan infeksi, genetik, perempuan, lingkungan, merokok, dan obat tertentu. Diagnosis dapat memakan waktu lewat riwayat medis, tes darah, pencitraan, serta eliminasi penyakit lain.
  • Autoimun merupakan kondisi kronis tanpa obat permanen, tetapi gejala dapat dikendalikan dan remisi mungkin terjadi melalui obat, pemantauan dokter, terapi fisik, serta penyesuaian gaya hidup.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Autoimun adalah kondisi ketika sistem imun keliru menyerang jaringan sehat tubuh, dengan gejala yang dapat meliputi kelelahan, demam berulang, nyeri sendi, ruam, gangguan pencernaan, dan pembengkakan kelenjar getah bening.
  • Who?
    Penderita penyakit autoimun mengalami gejala yang berbeda-beda, termasuk pada rheumatoid arthritis, lupus, multiple sclerosis, psoriasis, diabetes tipe 1, penyakit Graves, dan Hashimoto's thyroiditis.
  • Where?
    Serangan autoimun dapat terjadi pada berbagai bagian tubuh, termasuk sendi, kulit, saluran pencernaan, kelenjar tiroid, pankreas, sistem saraf, ginjal, dan kelenjar getah bening.
  • When?
    Gejala dapat datang dan pergi dalam periode kambuhan atau flare. Proses diagnosis dapat memerlukan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun karena gejalanya menyerupai penyakit lain.
  • Why?
    Penyebab pasti autoimun hingga saat ini belum ada kepastian. Faktor yang dikaitkan meliputi infeksi, genetik, jenis kelamin perempuan, paparan lingkungan atau bahan kimia, merokok, obat tertentu, dan cedera jaringan berulang.
  • How?
    Dokter menilai gejala, riwayat keluarga, tes darah, pencitraan, dan diagnosis banding. Kondisi kronis ini dikelola melalui obat anti-inflamasi, imunosupresan, terapi fisik, pemantauan rutin, serta penyesuaian gaya hidup.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Autoimun terjadi saat penjaga tubuh malah menyerang bagian tubuh yang sehat. Orang bisa sangat lelah, demam, sakit dan bengkak, atau kulit merah. Gejalanya kadang datang lalu pergi. Dokter perlu memeriksa beberapa kali. Autoimun belum bisa sembuh total, tapi obat dan hidup sehat bisa membantu orang merasa lebih baik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah dengar cerita orang yang bolak-balik ke dokter karena merasa badannya kurang baik, tapi hasil tesnya selalu normal? Bisa jadi itu tanda-tanda autoimun, kondisi yang gejalanya sering membingungkan karena bisa muncul di banyak bagian tubuh sekaligus.

Menurut Cleveland Clinic, autoimun terjadi saat sistem imun yang seharusnya melindungi tubuh justru salah sasaran dan menyerang jaringan sehat itu sendiri. 

Nah, biar kamu tidak bingung dengan apa yang dialami oleh tubuh yang menderita autoimun, berikut Popmama.com mengulas apa yang dirasakan oleh penderita autoimun? Yuk, simak sampai habis!

Apa yang Dirasakan Tubuh Penderita Autoimun?

Pexels/Towfiqu barbhuiya

Gejala autoimun memang terkenal menipu karena mirip dengan penyakit biasa. Mengutip WebMD, beberapa gejala yang paling umum dirasakan penderita autoimun meliputi:

  • Kelelahan yang tidak kunjung hilang meski sudah istirahat

  • Demam yang sering kambuh tanpa sebab jelas

  • Rasa tidak enak badan secara umum

  • Nyeri dan bengkak di area sendi

  • Masalah kulit, seperti kemerahan atau ruam

  • Nyeri perut atau gangguan pencernaan

  • Kelenjar getah bening yang membengkak

Menurut Cleveland Clinic, banyak gejala ini muncul karena adanya peradangan yang dapat ditandai dengan rasa hangat, kemerahan, bengkak, dan nyeri pada area tertentu.

Gejala ini juga sering datang dan pergi dalam periode yang disebut "flare" atau kambuhan, jadi jangan heran kalau kamu ngerasa baik-baik saja di satu waktu, lalu tiba-tiba drop di waktu lain.

Kenapa Autoimun Bisa Terjadi?

Pexels/Monstera Production

Sampai sekarang, penyebab pasti autoimun masih menjadi misteri besar di dunia medis. Tetapi, ada beberapa faktor yang dipercaya dapat memicu kondisi ini.

Beberapa faktor risiko autoimun antara lain:

  • Infeksi virus atau bakteri tertentu

  • Faktor genetik atau riwayat keluarga

  • Jenis kelamin, di mana perempuan lebih rentan terkena autoimun

  • Paparan bahan kimia atau faktor lingkungan lain

  • Kebiasaan merokok

  • Efek samping obat-obatan tertentu

Menurut Johns Hopkins Medicine, salah satu teori yang berkembang adalah teori kerusakan, di mana cedera berulang pada jaringan tubuh dapat memicu respons imun yang keliru.

Selain itu, kadar hormon yang lebih tinggi pada perempuan, terutama pada usia subur, juga diduga menjadi salah satu alasan kenapa autoimun lebih sering menyerang perempuan dibandingkan dengan laki-laki.

Berapa Lama Penderita Autoimun Harus Berobat?

Pexels/Ron Lach

Ini pertanyaan yang paling sering muncul begitu seseorang didiagnosis autoimun. Menurut Cleveland Clinic, autoimun adalah kondisi kronis yang umumnya perlu dikelola seumur hidup karena belum ada obat yang dapat menyembuhkannya secara total.

Kabar baiknya, mengutip Better Start, banyak penderita autoimun bisa mencapai masa remisi, yaitu periode panjang di mana gejala mereda atau bahkan nyaris tidak terasa.

Remisi ini bukan berarti sembuh total, tetapi kualitas hidup penderita bisa jauh lebih baik jika pengobatan dan gaya hidup dikelola dengan konsisten.

Jadi, alih-alih menunggu sembuh, penderita autoimun biasanya diarahkan untuk fokus mengendalikan gejala melalui kombinasi obat, pemantauan rutin ke dokter, dan penyesuaian gaya hidup dalam jangka panjang.

Jenis-Jenis Penyakit Autoimun yang Paling Umum

Pexels/Armin Rimoldi

Ada lebih dari seratus jenis penyakit autoimun yang telah diidentifikasi. Mengutip Cleveland Clinic, berikut beberapa jenis yang paling sering ditemukan:

  • Rheumatoid arthritis (RA): Menyerang sendi dan menyebabkan nyeri serta bengkak

  • Lupus: Penyakit yang menyerang berbagai organ mulai dari sendi hingga ginjal

  • Multiple sclerosis (MS): Penyakit yang  menyerang sistem saraf

  • Psoriasis: Penyakit yang menyebabkan kulit bersisik dan meradang

  • Diabetes tipe 1: Penyakit yang menyerang sel penghasil insulin di pankreas

  • Penyakit Graves: Penyakit yang membuat kelenjar tiroid terlalu aktif

  • Hashimoto's thyroiditis: Penyakit yang membuat kelenjar tiroid kurang aktif

Masing-masing jenis punya target serangan yang berbeda di tubuh, makanya gejalanya pun bisa sangat bervariasi antara satu penderita dengan yang lain.

Bagaimana Cara Mendiagnosis Penyakit Autoimun?

Pexels/Tahir Xəlfəquliyev

Mendiagnosis autoimun itu tidak semudah cek darah sekali lalu langsung ketahuan. Menurut WebMD, prosesnya kadang membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun karena gejalanya mirip dengan penyakit lain.

Berikut tahapan yang biasa dilakukan dokter, mengutip Cleveland Clinic:

  • Wawancara mendalam soal gejala dan riwayat kesehatan keluarga

  • Tes darah, seperti tes antibodi antinuklear (ANA) dan tes autoantibodi lain

  • Tes pencitraan, seperti rontgen, MRI, CT scan, atau USG

  • Diagnosis banding, yaitu proses eliminasi kemungkinan penyakit lain yang gejalanya mirip

Dokter biasanya akan menggabungkan semua hasil ini untuk memastikan diagnosis, karena satu jenis tes saja belum cukup untuk memastikan seseorang memiliki penyakit autoimun.

Cara Mengobati Autoimun

Pexels/Anna Shvets

Sampai saat ini belum ada obat yang bisa menyembuhkan autoimun secara permanen. Tetapi, bukan berarti penderita tidak punya harapan, karena ada banyak cara untuk mengendalikan gejalanya.

Berikut beberapa pengobatan yang umum digunakan meliputi:

  • Obat pereda nyeri dan anti-inflamasi, seperti NSAID atau kortikosteroid

  • Obat imunosupresan untuk menurunkan aktivitas sistem imun yang berlebihan

  • Terapi fisik dan terapi okupasi untuk menjaga fungsi tubuh

  • Perubahan gaya hidup, seperti pola makan anti-inflamasi dan olahraga rutin

Menurut Institute for Functional Medicine (IFM), pendekatan gaya hidup seperti menjaga kesehatan usus dan pola makan bergaya Mediterania juga dapat membantu meredakan peradangan dan mendukung pengobatan medis yang sedang dijalani.

Nah, itulah pembahasan mengenai apa yang dirasakan oleh penderita autoimun? Semoga informatif dan bermanfaat!

Curated For You

Editorial Team

Related Article