7 Ciri-Ciri Autoimun Kulit yang Harus Diperhatikan Sejak Dini

- Gatal menetap, kulit kering yang tidak membaik, serta ruam beragam warna dan bentuk dapat menjadi tanda autoimun kulit yang kerap disangka eksim atau alergi.
- Kulit yang sangat sensitif terhadap matahari, menebal dan mengeras, atau muncul lepuhan gatal di kulit, mulut, maupun alat kelamin perlu diperhatikan.
- Perubahan pigmen menjadi lebih terang atau gelap, termasuk bercak putih susu khas vitiligo pada tangan dan wajah, dapat terjadi saat sistem imun menyerang sel kulit.
Pernah punya ruam atau kulit gatal yang tidak kunjung sembuh meski sudah diberikan krim atau pelembap? Bisa jadi itu bukan sekadar iritasi biasa, melainkan tanda autoimun kulit, kondisi ketika sistem imun malah menyerang sel kulit sendiri.
Sayangnya, gejala autoimun kulit sering disalahartikan sebagai eksim atau alergi biasa, sehingga banyak yang terlambat menyadarinya.
Supaya kamu dapat menanganinya sebelum menjadi semakin parah, berikut Popmama.com mengulas 7 ciri-ciri autoimun kulit yang perlu kamu waspadai. Yuk, simak sampai habis!
Table of Content
1. Kulit terasa gatal

Pexels/Towfiqu barbhuiya Rasa gatal yang tidak kunjung reda kerap menjadi tanda paling awal ketika kulit diserang oleh sistem imun sendiri. Mengutip GoodRx, kondisi dermatitis herpetiformis, yang berkaitan dengan penyakit celiac, memicu lepuhan yang sangat gatal disertai bentol kemerahan hingga keunguan.
Dikutip dari Harvard Health, rasa gatal atau kulit kering yang tidak membaik meski sudah dirawat dengan cara biasa bisa jadi petunjuk bahwa penyebabnya bukan sekadar eksim atau alergi kulit semata.
Menurut jurnal Allied Academies, gangguan ini terjadi karena autoantibodi menyerang protein spesifik di kulit sehingga fungsi normal epidermis dan dermis ikut terganggu. Sitokin inflamasi seperti TNF-alfa juga berperan dalam membuat peradangan di kulit terus berlanjut.
2. Sensitif terhadap matahari

Pexels/cami Beberapa jenis autoimun kulit membuat kulit menjadi mudah bereaksi berlebihan saat terkena sinar matahari. Melansir GoodRx, perlindungan dari matahari menjadi bagian penting dari perawatan, khususnya untuk kondisi lupus dan dermatomiositis, karena paparan sinar matahari sekecil apa pun bisa memperparah gejala.
Dilansir dari Harvard Health, ruam kupu-kupu khas lupus di area hidung dan pipi biasanya muncul atau semakin parah setelah terkena sinar matahari.
3. Muncul ruam pada kulit

Pexels/www.kaboompics.com Menurut GoodRx, ruam ini bisa berwarna merah muda, merah, ungu, atau kecokelatan tergantung pada warna kulit, dengan bentuk yang beragam, mulai dari bercak bulat hingga pola menyerupai kupu-kupu di wajah pada penderita lupus.
Dilansir dari Harvard Health, ruam keunguan kemerahan pada kelopak mata merupakan salah satu tanda awal dermatomiositis, kondisi autoimun yang juga dapat memicu kelemahan otot.
Mengutip Allied Academies, psoriasis adalah salah satu penyakit autoimun kulit yang cukup umum yang ditandai dengan plak tebal dan bersisik akibat sel kulit yang tumbuh terlalu cepat. Kondisi ini dipicu oleh respons imun berlebihan yang melibatkan sel T serta sitokin seperti IL-17 dan IL-23.
4. Lapisan kulit menjadi keras

Wikimedia Commons/Haley Otman Kalau kulit terasa makin tebal dan keras saat disentuh, itu bisa jadi tanda skleroderma. Dilansir dari GoodRx, kondisi ini membuat tubuh memproduksi kolagen berlebihan sehingga kulit mengeras dan tampak mengilap, dengan warna yang lebih gelap dari kulit sekitarnya atau justru pucat.
Dikutip dari Harvard Health, skleroderma tidak hanya mengganggu kulit, tetapi pada tipe yang lebih serius juga dapat memengaruhi organ dalam seperti jantung dan paru-paru.
Skleroderma terbagi menjadi dua jenis, yaitu skleroderma lokal yang hanya memengaruhi kulit dan skleroderma sistemik yang tergolong lebih serius. Kondisi ini paling sering dialami perempuan berusia 30 sampai 50 tahun.
5. Kulit melepuh

Wikimedia Commons/Clément Bucco-Lechat Lepuhan pada kulit juga patut diwaspadai, apalagi kalau muncul di area yang tidak biasa seperti mulut atau alat kelamin. Selain itu, kondisi ini cukup mengganggu aktivitas sehari-hari.
Mengutip GoodRx, pemfigoid bulosa menyebabkan lepuhan besar berisi cairan yang terasa gatal dan kencang, sementara pemfigus menimbulkan lepuhan yang lebih rapuh dan mudah pecah.
Mengutip Harvard Health, pemfigoid bulosa menjadi salah satu ciri khas ketika sistem imun menyerang protein yang berfungsi merekatkan lapisan-lapisan kulit satu sama lain.
Melansir dari Allied Academies, kelompok penyakit ini disebut sebagai penyakit lepuh autoimun, yang muncul saat autoantibodi menyerang protein penjaga sel-sel kulit agar tetap saling melekat. Tingkat keparahannya bisa berbeda-beda, tergantung pada kondisi.
6. Kehilangan pigmen

Pexels/Ron Lach Perubahan warna kulit yang tidak merata juga bisa menjadi sinyal autoimun. Dikutip dari GoodRx, penderita pemfigus kadang mengalami bercak kulit yang menjadi lebih terang atau lebih gelap dari warna kulit aslinya dan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk memudar.
Kondisi lain yang lebih dikenal luas adalah vitiligo, yaitu ketika sel penghasil pigmen dihancurkan oleh sistem imun tubuh sendiri, seperti dijelaskan dalam jurnal Allied Academies.
7. Muncul bercak putih

Wikimedia Commons/Grook Da Oger Bercak putih pada kulit sering menjadi tanda paling khas dari vitiligo. Dilansir dari Harvard Health, bercak berwarna putih susu ini biasanya muncul di tangan dan wajah, bahkan dapat memengaruhi warna bagian mata.
Meski secara fisik tidak berbahaya, mengutip penjelasan jurnal Allied Academies, kondisi ini dapat berdampak besar pada rasa percaya diri dan kondisi psikologis penderitanya.
Nah, itulah pembahasan mengenai 7 ciri-ciri autoimun kulit yang harus diperhatikan perubahannya pada kulit sejak dini. Semoga informatif dan bermanfaat!



















