Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Review Film Harusnya Horror, Kisah Hantu Wibu Pemalu

Review Film Harusnya Horror, Kisah Hantu Wibu Pemalu
imdb.com
  • Harusnya Horror mengisahkan hantu wibu pemalu yang harus menakuti 100 ribu manusia dalam 30 hari, lalu bekerja sama dengan kreator konten horor gadungan demi menyelesaikan misinya.

  • Debut penyutradaraan Reza Arap ini membalik formula horor lewat hantu yang lebih takut pada manusia, dengan komedi absurd, aturan gaib konyol, dan minim nuansa mencekam.

  • Film memadukan satire dunia streaming serta referensi Marapthon dengan visual warna kontras, ruang minimalis, dan efek bergaya komik; turut menjadi comeback akting mendiang Lula Lahfah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kalau selama ini hantu identik dengan sosok seram yang bikin bulu kuduk berdiri, film Harusnya Horror justru membalikkan logika itu. Debut penyutradaraan Reza Oktovian alias Reza Arap ini malah menghadirkan arwah yang lebih penakut dibandingkan dengan manusia yang seharusnya ia takut-takuti.

Dibungkus dengan genre komedi fantasi dengan bumbu horor yang absurd, film garapan Ess Jay Pictures ini sukses mencuri perhatian sejak masih berupa teaser di kanal YouTube.

Penasaran seperti apa keseruan cerita dan pesan yang dibawanya? Berikut Popmama.com mengulas review film Harusnya Horror. Yuk, simak sampai habis!

  1. Synopsis Harusnya Horror (2026)

    Cerita bermula dari sesosok hantu wibu yang pemalu dan minder. Sialnya, ia meninggal dunia tepat sebelum sempat menonton episode terakhir anime favoritnya, sebuah keinginan yang terasa sepele tapi jadi ganjalan besar baginya.

    Ketidakrelan itu membawanya pada 1 misi dari kantor akhirat, yaitu wajib menakut-nakuti 100 ribu manusia dalam waktu 30 hari.

    Masalahnya, si hantu ini sama sekali tidak menyeramkan. Alih-alih bikin orang lari terbirit-birit, dialah yang justru lebih dulu gemetar setiap kali berhadapan dengan manusia.

    Demi mengejar targetnya, ia pun terpaksa bergabung dengan sekelompok kreator konten horor gadungan yang sedang bokek dan butuh konten viral supaya dompet mereka kembali terisi.

    Kolaborasi absurd antara hantu introvert dan geng kreator konten inilah yang kemudian memicu berbagai kekacauan lucu, jauh dari kesan mencekam yang biasa ditawarkan film horor pada umumnya.

    Di ujung cerita, sang hantu dihadapkan pada satu pilihan berat, yaitu mengejar ambisi pribadinya untuk menuntaskan misi, atau mempertahankan satu-satunya "keluarga" yang baru saja ia temukan selama berpetualang di dunia manusia.

    Harusnya Horror
    2026
    3.5/5
    Directed by Reza "Arap" Oktovian
    Producer

    David Suwarto, Sridhar Jetty, dan Jimmy Lalwani.

    Writer

    Rahabi Mandra

    Age Rating

    13+

    Genre

    Satire, Supernatural Fantasy, Comedy, dan Fantasy.

    Duration

    106 Minutes

    Release Date

    20-08-2026

    Theme

    Freindship

    Production House

    Ess Jay Studios, Sinegrande, dan Legacy Pictures

    Where to Watch

    Bioskop

    Cast

    Reza Oktovian, Almh Lula Lahfah Tierison, Garry Ang, Yuka Theo, King Aloy / Aldy Renaldy, Bravyson Vconk, Niko Junius, Ibot,Tepe (Teguh Prakoso), dan Yoshua Marcellos.

  2. Trailer Harusnya Horror (2026)

    Cuplikan Film Harusnya Horror

  3. 1. Ketika hantu lebih parno duluan daripada manusianya

    Ketika hantu lebih parno duluan daripada manusianya
    Youtube.com/CINEMA 21

    Salah satu daya tarik utama Harusnya Horror ada pada cara film ini membalik formula horor konvensional. Kalau biasanya penonton diajak waswas menunggu hantu muncul dari balik pintu, di sini yang terjadi malah kebalikannya. Hantu wibu ini justru bersembunyi dan kabur duluan begitu bertemu manusia.

    Konsep ini membuat genre horor-komedi yang diusung terasa segar dan tidak monoton. Alih-alih menyuguhkan jump scare yang mencekam, film ini lebih fokus membangun situasi konyol lewat pertemuan si hantu dengan berbagai karakter aneh.

    Selain itu, ada juga aturan-aturan gaib yang kadang terasa tidak masuk akal. Hasilnya, tawa lebih sering pecah ketimbang jantung berdebar kencang.

  4. 2. Debut sutradara Reza Arap yang jadi kenangan berharga bareng Lula Lahfah

    Debut sutradara Reza Arap yang jadi kenangan berharga bareng Lula Lahfah
    Youtube.com/CINEMA 21

    Di balik cerita yang ringan, ada kisah haru yang menyertai proses produksi Harusnya Horror. Film ini menjadi debut penyutradaraan Reza Arap sekaligus comeback akting mendiang Lula Lahfah, kekasihnya yang sempat terlibat dalam penggarapan proyek ini pada 2025.

    Fakta itu membuat kehadiran Lula di layar lebar terasa lebih dari sekadar peran biasa. Bagi banyak penggemar, momen ini menjadi pengingat sekaligus penghormatan atas kolaborasi kreatif keduanya sebelum akhirnya berpulang.

    Tak heran, unsur emosional ini turut menambah lapisan makna tersendiri di tengah balutan komedi yang dominan sepanjang film.

  5. 3. Satire receh soal dunia kreator konten dan jokes ala Marapthon

    Satire receh soal dunia kreator konten dan jokes ala Marapthon
    Youtube.com/CINEMA 21

    Sebagai sosok yang besar dari dunia digital, Reza Arap tampaknya tidak mau melewatkan kesempatan untuk menyisipkan sentuhan personalnya ke dalam naskah.

    Harusnya Horror banyak memuat lelucon meta seputar dunia live streaming, termasuk referensi ke "Marapthon", proyek maraton siaran langsung yang selama ini ia kelola bersama AAA Clan.

    Pendekatan ini membuat cerita soal kreator konten horor gadungan yang berjuang mencari cuan dari konten viral terasa lebih dekat dengan realita, khususnya bagi kamu yang sering mengikuti dunia konten kreator Tanah Air.

    Satire soal perjuangan bertahan hidup di industri konten dikemas ringan tanpa terasa menggurui, sehingga tetap enak dinikmati oleh penonton awam sekalipun.

  6. 4. Gaya visual segar

    Gaya visual segar
    Youtube.com/CINEMA 21

    Selain dari sisi cerita, Harusnya Horror juga tampil beda secara visual. Film ini berani bermain dengan warna-warna kontras, ruang putih yang minimalis, hingga efek visual bergaya komik.

    Sentuhan estetika semacam ini memberi kesan segar dan modern, sekaligus menegaskan bahwa film ini tidak berniat menjadi horor murni yang menakutkan.

    Kombinasi antara naskah yang absurd dan visual yang playful inilah yang membuat Harusnya Horror terasa seperti angin segar di tengah tren film horor Indonesia yang belakangan lebih banyak mengusung nuansa gelap dan mencekam.

    Nah, itulah pembahasan mengenai review film Harusnya Horror. Semoga informatif dan bermanfaat!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More