Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apakah Autoimun Bisa Sembuh? Begini Penjelasannya!
Pexels/Ron Lach
  • Penyakit autoimun belum dapat disembuhkan total, tetapi sebagian penderita dapat mengalami remisi panjang; terapi seperti CAR-T masih dalam tahap riset dan belum menjadi pengobatan standar.
  • Autoimun bisa muncul pada usia berapa pun, lebih banyak dialami perempuan, dan risikonya disorot pada masa perubahan hormon, termasuk usia subur serta perempuan 40–55 tahun.
  • Tingkat bahaya autoimun bergantung pada jenis dan organ terdampak; gejalanya meliputi kelelahan ekstrem hingga perubahan kulit, dengan pemicu diduga mencakup infeksi, genetik, lingkungan, merokok, stres, dan cedera berulang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Penyakit autoimun adalah kondisi ketika sistem imun menyerang sel sehat tubuh. Hingga saat ini belum ada obat yang menyembuhkan total, tetapi gejala dapat mereda dalam fase remisi.
  • Who?
    Penderita autoimun dapat berasal dari semua usia, termasuk anak-anak. Perempuan disebut mencakup hampir 80 persen penderita dan lebih rentan pada masa usia subur serta usia 40–55 tahun untuk gangguan tiroid tertentu.
  • Where?
    Autoimun dapat menyerang seluruh tubuh atau organ tertentu, termasuk sendi, kulit, tiroid, sistem saraf, jantung, dan pankreas, bergantung pada jenis penyakitnya.
  • When?
    Autoimun dapat muncul kapan saja tanpa patokan usia pasti. Gejala dapat datang dan pergi dalam periode flare, sementara sebagian pasien dapat mengalami remisi dalam waktu panjang.
  • Why?
    Penyebab pasti masih belum diketahui. Faktor yang diduga berperan meliputi infeksi, genetik, hormon, paparan lingkungan, merokok, stres berkepanjangan, serta cedera atau tekanan berulang pada jaringan.
  • How?
    Kondisi terjadi saat respons imun salah sasaran. Pemantauan dokter diperlukan untuk mengendalikan gejala; terapi CAR-T dilaporkan mendorong remisi pada sejumlah pasien, tetapi masih dalam tahap riset dan belum tersedia luas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Autoimun terjadi saat penjaga tubuh salah menyerang tubuh sendiri. Orang bisa sangat lelah, sendinya sakit, atau kulitnya berubah. Sampai sekarang belum ada obat yang menyembuhkan total. Tapi gejalanya bisa lama reda. Autoimun bisa dialami anak atau orang dewasa, dan perlu diperiksa dokter agar tidak makin parah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah dengar teman, saudara, atau bahkan diri sendiri yang tiba-tiba mudah capek, nyeri sendi tanpa sebab yang jelas, atau kulitnya bermasalah, padahal pola makan sudah dijaga?

Bisa jadi itu tanda-tanda autoimun, kondisi ketika sistem imun yang seharusnya melindungi tubuh justru balik menyerang tubuh sendiri.

Pertanyaan yang paling sering muncul begitu kata autoimun disebut adalah apakah penderita autoimun bisa sembuh total dari penyakit yang dialaminya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, berikut Popmama.com merangkum apakah autoimun bisa sembuh? Yuk, simak sampai habis!

Apakah Penyakit Autoimun Dapat Disembuhkan?

Pexels/Armin Rimoldi

Sistem imun ibarat pasukan penjaga yang tugasnya melawan musuh seperti virus dan bakteri. Nah, pada orang dengan autoimun, pasukan ini malah salah sasaran dan menyerang sel-sel sehat di tubuhnya sendiri. .

Jadi, apakah autoimun bisa sembuh total? Sejauh ini, jawabannya belum. Belum ada obat yang benar-benar menyembuhkan autoimun.

Namun, kabar baiknya, sebagian penderita bisa mengalami remisi, yaitu periode panjang di mana gejala mereda atau bahkan nyaris tidak terasa. Remisi ini bukan berarti sembuh total, tetapi cukup membuat aktivitas harian menjadi lebih ringan.

Mengutip Nature, setelah puluhan tahun penelitian yang berulang kali menemui jalan buntu, para ilmuwan kini mulai melihat titik terang dalam mengembangkan terapi yang memulihkan toleransi sistem imun, terutama untuk kondisi seperti diabetes tipe 1, lupus, dan multiple sclerosis. 

Beberapa pendekatan, seperti terapi sel CAR-T, bahkan dilaporkan berhasil membuat autoimun pada sejumlah pasien memasuki fase remisi. Sayangnya, terapi semacam ini masih dalam tahap riset dan belum menjadi pengobatan standar yang tersedia luas.

Pada Usia Berapa Autoimun Muncul?

Pexels/Polina Hedzenko

Setelah tahu soal peluang sembuhnya, pertanyaan berikutnya yang sering muncul adalah kapan sebenarnya autoimun mulai menyerang. Sayangnya, tidak ada patokan usia yang pasti karena autoimun bisa muncul kapan saja.

Meski begitu, ada beberapa fase hidup yang membuat risikonya naik. Menurut Johns Hopkins Medicine, autoimun memengaruhi jutaan orang dan hampir 80 persen di antaranya adalah perempuan. 

Salah satu teori yang dikemukakan oleh dr. Ana-Maria Orbai, rheumatologist dari Johns Hopkins, mengatakan kadar hormon perempuan yang lebih tinggi, terutama pada masa usia subur, diduga membuat perempuan lebih rentan mengalami autoimun, meski hal ini belum terbukti sepenuhnya.

Fase hidup lain yang juga menjadi sorotan adalah usia paruh baya. Dikutip dari FN Institute, perempuan usia 40 sampai 55 tahun cenderung lebih rentan mengalami gangguan tiroid yang berkaitan dengan autoimun, seperti Hashimoto dan Graves. 

Jadi, meski autoimun bisa muncul pada usia berapa pun, termasuk pada anak-anak, momen-momen ketika hormon tubuh sedang banyak berubah tampaknya menjadi periode yang perlu diwaspadai.

Apakah Autoimun Berbahaya?

Pexels/www.kaboompics.com

Tingkat bahaya autoimun ini sebenarnya bervariasi, tergantung pada jenis kondisi dan bagian tubuh yang diserang. Dilansir dari Cleveland Clinic, hidup dengan autoimun seperti lupus, rheumatoid arthritis, atau multiple sclerosis memang bisa terasa kompleks dan serius. 

Beberapa kondisi, seperti multiple sclerosis dan miokarditis, disebut lebih berisiko fatal dibandingkan dengan autoimun lainnya, meski itu bukan berarti selalu berakhir fatal. Diabetes tipe 1 pun bisa berbahaya jika tidak dikelola dengan baik.

Dilansir dari FN Institute, autoimun dapat berdampak melumpuhkan, baik secara fisik maupun mental, karena dapat menyerang seluruh tubuh atau organ tertentu secara spesifik.

Jadi, meski tidak semua kasus autoimun mengancam nyawa, kondisi ini tetap membutuhkan pemantauan rutin dari dokter supaya gejalanya terkendali dan tidak makin parah.

Ciri-Ciri Terkena Autoimun

Pexels/www.kaboompics.com

Nah, agar bisa dikenali sejak dini, penting untuk mengetahui ciri-ciri khas autoimun. Berikut beberapa tanda yang perlu kamu waspadai, dirangkum dari FN Institute:

  1. Kelelahan ekstrem: Rasa lelah berlebihan yang tidak hilang meski sudah istirahat cukup sering menjadi keluhan utama penderita autoimun.

  2. Nyeri, bengkak, atau kaku pada sendi dan otot: Gejala ini biasanya muncul pada kondisi seperti rheumatoid arthritis dan dapat datang-pergi (kambuh) sesuai pola flare.

  3. Gangguan pencernaan: Penderita autoimun sering merasa kembung dan mudah lelah sekitar 30 menit setelah makan, bahkan pola buang air besarnya juga bisa berubah.

  4. Perubahan pada rambut dan kulit: Rambut rontok, kulit kering, atau justru muncul ruam dan kemerahan sering menyertai gangguan tiroid autoimun seperti Hashimoto.

  5. Berat badan naik atau turun tanpa sebab yang jelas: Hal ini bisa jadi tanda tiroid yang kurang aktif (berat badan naik) atau terlalu aktif (berat badan turun).

  6. Demam berulang atau gejala yang datang dan pergi: Fenomena ini disebut flare, yaitu periode gejala memburuk yang dapat dipicu oleh aktivitas, makanan, atau waktu tertentu.

  7. Jantung berdebar dan mudah cemas: Tanda ini kerap muncul pada gangguan tiroid yang terlalu aktif, seperti pada penyakit Graves.

Kalau kamu merasakan beberapa tanda ini secara berulang, tidak ada salahnya untuk berkonsultasi dengan dokter supaya bisa ditelusuri lebih lanjut.

Penyebab Autoimun

Pexels/Monstera Production

Sampai sekarang, penyebab pasti autoimun sebenarnya belum diketahui. Namun, para ahli sudah menemukan beberapa faktor yang diduga kuat berperan. 

  1. Infeksi virus: Dilansir dari Cleveland Clinic, infeksi seperti COVID-19 dan virus Epstein-Barr dapat memicu autoimun. Johns Hopkins Medicine menambahkan bahwa respons imun terhadap infeksi kadang salah sasaran dan ikut menyerang sel sehat, seperti yang diduga terjadi pada rheumatoid arthritis atau psoriasis setelah radang tenggorokan akibat bakteri strep.

  2. Faktor genetik dan riwayat keluarga: Memiliki keluarga dengan autoimun dapat meningkatkan risiko, meski menurut Johns Hopkins Medicine, faktor genetik saja belum tentu langsung memicu penyakit ini untuk muncul.

  3. Jenis kelamin: Perempuan diketahui lebih rentan mengalami autoimun dibandingkan dengan laki-laki, salah satunya diduga berkaitan dengan faktor hormon.

  4. Paparan lingkungan: Dikutip dari Cleveland Clinic, paparan zat kimia tertentu di tempat tinggal atau tempat kerja dapat menjadi pemicu.

  5. Kebiasaan merokok: Rokok dan produk tembakau lain disebut berpotensi memicu berbagai masalah kesehatan, termasuk autoimun.

  6. Stres berkepanjangan: Dilansir FN Institute,stres kronis merupakan salah satu faktor besar di balik meningkatnya kasus autoimun belakangan ini. Stres yang terus-menerus bikin kelenjar adrenal memproduksi hormon stres berlebihan, yang pada akhirnya bisa mengganggu kerja sistem imun.

  7. Cedera atau tekanan berulang pada jaringan tubuh. Johns Hopkins Medicine menjelaskan, area tubuh yang sering mengalami tekanan tinggi, seperti tendon pada pelari, bisa memicu respons imun abnormal yang berujung pada peradangan.

Jadi, autoimun ini bukan disebabkan oleh satu hal tunggal, melainkan gabungan dari beberapa faktor yang saling berkaitan.

Nah, itulah pembahasan mengenai apakah autoimun bisa sembuh? Semoga informatif dan bermanfaat!

Curated For You

Editorial Team

Related Article