Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Apakah Kanker Kulit Menular? Fakta Penting untuk Diwaspadai
Freepik/Freepik

  • Kanker kulit tidak menular, berkembang dari mutasi sel kulit individu, bukan karena virus atau bakteri.

  • Mekanisme terjadinya kanker kulit adalah mutasi DNA pada sel kulit yang tumbuh tanpa kendali, dipicu oleh paparan sinar UV.

  • Kanker kulit bisa dicegah dengan perlindungan sinar UV, deteksi dini, dan pola hidup sehat untuk mendukung kesehatan kulit.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Mama, pasti ada yang bertanya-tanya: “Apakah kanker kulit bisa menular ke orang lain?”.

Menurut American Cancer Society, kanker kulit tidak menular, karena berkembang dari sel kulit individu yang mengalami mutasi, bukan karena virus atau bakteri.

Mayo Clinic menjelaskan bahwa sel kulit yang bermutasi hanya tumbuh di tubuh penderita dan tidak dapat berpindah melalui kontak fisik, berbagi pakaian, atau penggunaan alat mandi yang sama.

Mama bisa merasa lega karena fokus utama adalah deteksi dini, pencegahan, dan dukungan keluarga, bukan kekhawatiran akan penularan. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menegaskan bahwa kanker dan penyakit menular memiliki mekanisme berbeda.

Kanker terjadi akibat mutasi sel, sedangkan penyakit menular melibatkan mikroorganisme. Jadi Mama tetap bisa bersosialisasi tanpa takut tertular, sambil tetap memperhatikan kesehatan kulit sendiri dan anak-anak.

Nah, supaya Mama nggak bingung, berikut Popmama.com telah rangkum pembahasan mengenai apakah kanker kulit menular? Simak pembahasannya dibawah ini.

Mekanisme Terjadinya Kanker Kulit

istockphoto/Anastasia Korchagina

Mama tahu nggak sih awal mula adanya kanker kulit? Kanker kulit terjadi karena mutasi DNA pada sel kulit, sehingga sel tersebut tumbuh dan membelah tanpa kendali.

Menurut Mayo Clinic, sel kulit sehat biasanya tumbuh, mati, dan digantikan sel baru, namun sel yang bermutasi ini tidak mati sesuai siklusnya, sehingga menumpuk dan membentuk tumor. Proses metastasis bisa terjadi pada jenis kanker kulit agresif, seperti melanoma.

Healthline menjelaskan bahwa sel kanker dapat bergerak melalui pembuluh darah atau sistem limfatik ke bagian tubuh lain, tapi ini hanya di tubuh yang sama, tidak menular ke orang lain.

Mama bisa lebih tenang karena mekanisme ini bersifat internal. Paparan sinar UV dari matahari atau tanning bed adalah pemicu mutasi paling umum.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sinar UV merusak DNA sel kulit sehingga memicu perubahan yang bisa berkembang menjadi kanker jika tidak dicegah. Mama bisa melindungi kulit dengan sunscreen, pakaian pelindung, dan menghindari paparan langsung di jam puncak.

10 Fakta Penting Tentang Kanker Kulit

dermnetnz.org

Kanker kulit sering dianggap sebagai masalah ringan karena muncul di permukaan tubuh dan tampak “terlihat jelas”. Padahal, penyakit ini bisa berkembang secara agresif dan mengancam nyawa jika tidak terdeteksi sejak dini.

Banyak kasus kanker kulit baru diketahui ketika kondisinya sudah lanjut akibat kurangnya pemahaman masyarakat tentang tanda dan risikonya. Agar tidak keliru menilai kondisi kulit sendiri, berikut 10 fakta penting tentang kanker kulit yang perlu dipahami secara menyeluruh.

  1. Kanker kulit terjadi akibat pertumbuhan sel yang tidak normal

Kanker kulit terjadi ketika sel-sel kulit mengalami mutasi genetik dan tumbuh secara tidak terkendali. Mutasi ini membuat sel terus membelah tanpa mekanisme perbaikan alami, sehingga membentuk jaringan abnormal atau tumor.

Proses ini tidak terjadi secara instan, melainkan berkembang perlahan akibat paparan faktor risiko tertentu. Dalam banyak kasus, kerusakan sel sudah terjadi jauh sebelum gejala terlihat di permukaan kulit. Inilah sebabnya kanker kulit sering baru disadari saat muncul perubahan nyata, padahal proses penyakitnya sudah berlangsung lama.

  1. Paparan sinar UV menjadi faktor risiko utama

Paparan sinar ultraviolet (UV) dari matahari merupakan penyebab utama kanker kulit. Sinar UV dapat merusak DNA sel kulit, terutama jika paparan terjadi secara berulang dan tanpa perlindungan.

Risiko meningkat pada orang yang sering beraktivitas di luar ruangan, jarang menggunakan tabir surya, atau memiliki riwayat kulit terbakar matahari. Bahkan, paparan sinar UV sejak usia anak-anak dapat meningkatkan risiko kanker kulit di kemudian hari.

Selain matahari, sumber UV buatan seperti tanning bed juga berkontribusi besar terhadap peningkatan risiko kanker kulit.

  1. Melanoma adalah jenis kanker kulit paling berbahaya

Dari berbagai jenis kanker kulit, melanoma dikenal sebagai yang paling agresif. Kanker ini berasal dari sel melanosit dan memiliki kemampuan menyebar cepat ke organ lain. Meski jumlah kasusnya lebih sedikit dibanding kanker kulit non-melanoma, melanoma menyumbang angka kematian yang lebih tinggi. Hal ini terjadi karena melanoma sering terdeteksi terlambat.

Deteksi dini sangat krusial, karena melanoma pada tahap awal memiliki tingkat kesembuhan yang jauh lebih baik.

  1. Kanker kulit tidak selalu muncul di area terpapar matahari

Banyak orang mengira kanker kulit hanya muncul di wajah atau tangan. Faktanya, kanker kulit juga bisa muncul di area tersembunyi, seperti kulit kepala, telapak kaki, bawah kuku, bahkan area genital. Khusus melanoma, lokasi kemunculannya bisa sangat tidak terduga.

Karena itu, pemeriksaan kulit sebaiknya dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya di area yang sering terlihat. Area tersembunyi justru sering luput dari perhatian dan membuat diagnosis terlambat.

  1. Tidak semua kanker kulit tampak seperti tahi lalat

Meski sering dikaitkan dengan perubahan tahi lalat, kanker kulit tidak selalu berbentuk bintik hitam. Beberapa jenis kanker kulit tampak seperti bercak merah, luka yang tidak sembuh, atau kulit yang menebal dan bersisik.

Inilah alasan mengapa banyak orang mengabaikan tanda awal kanker kulit karena dianggap sebagai iritasi biasa atau luka ringan. Padahal, luka yang tidak kunjung sembuh bisa menjadi tanda kanker.

Perubahan apa pun pada kulit yang berlangsung lama perlu diwaspadai, meski tampilannya tidak mencolok.

  1. Perubahan kulit yang terus berkembang perlu diwaspadai

Salah satu ciri utama kanker kulit adalah perubahan yang terus berlangsung dari waktu ke waktu. Lesi dapat berubah ukuran, warna, bentuk, atau tekstur secara perlahan.Berbeda dengan kondisi kulit biasa yang cenderung membaik, kanker kulit justru menunjukkan pola progresif.

Perubahan ini sering tidak disertai rasa sakit sehingga mudah diabaikan. Memantau perubahan kulit secara rutin menjadi langkah penting dalam deteksi dini kanker kulit.

  1. Kanker kulit bisa menyebabkan rasa gatal, nyeri, atau pendarahan

Pada tahap tertentu, kanker kulit dapat menimbulkan sensasi tidak nyaman, seperti gatal menetap, perih, nyeri, atau rasa terbakar. Sensasi ini muncul akibat peradangan dan kerusakan jaringan.

Selain itu, kanker kulit sering mudah berdarah atau membentuk luka yang sulit sembuh. Kondisi ini terjadi karena struktur kulit pada area kanker menjadi rapuh. Jika bintik atau luka di kulit sering berdarah tanpa sebab jelas, pemeriksaan medis sebaiknya segera dilakukan.

  1. Siapapun bisa terkena kanker kulit

Kanker kulit tidak hanya menyerang orang dengan kulit terang. Meski risikonya lebih tinggi, semua warna kulit tetap bisa terkena kanker kulit, termasuk melanoma. Pada orang dengan kulit lebih gelap, kanker kulit sering terdeteksi lebih lambat karena dianggap berisiko rendah.

Padahal, ketika terdiagnosis, kondisinya sering sudah lanjut. Kesadaran bahwa kanker kulit dapat menyerang siapa saja sangat penting untuk mendorong pemeriksaan dini.

  1. Deteksi dini sangat menentukan peluang kesembuhan

Salah satu fakta terpenting tentang kanker kulit adalah tingginya peluang sembuh jika terdeteksi sejak dini. Pada tahap awal, kanker kulit umumnya dapat diangkat melalui prosedur medis sederhana.

Sebaliknya, jika terlambat ditangani, sel kanker dapat menyebar ke kelenjar getah bening dan organ lain. Kondisi ini membuat pengobatan menjadi lebih kompleks dan berat. Karena itu, pemeriksaan kulit secara rutin dan kewaspadaan terhadap perubahan kecil sangat dianjurkan.

  1. Kanker kulit bisa dicegah dengan perlindungan yang tepat

Meski tidak semua faktor risiko dapat dihindari, kanker kulit termasuk penyakit yang sebagian besar dapat dicegah. Penggunaan tabir surya, pakaian pelindung, dan menghindari paparan matahari berlebihan menjadi langkah utama.

Selain itu, kebiasaan memeriksa kulit sendiri dan berkonsultasi ke dokter jika ada perubahan mencurigakan juga berperan besar dalam pencegahan. Dengan perlindungan dan kesadaran yang tepat, risiko kanker kulit dapat ditekan secara signifikan.

6 Cara Mencegah Kanker Kulit yang Perlu Dilakukan Sejak Dini

Freepik/Freepik

Kanker kulit merupakan salah satu jenis kanker yang paling banyak terjadi, namun juga termasuk yang paling dapat dicegah. Sebagian besar risikonya berasal dari kebiasaan sehari-hari yang sebenarnya bisa dikontrol.

Karena itu, memahami langkah pencegahan secara menyeluruh sangat penting untuk menjaga kesehatan kulit jangka panjang. Berikut 6 cara-cara mencegah kanker kulit yang perlu dilakukan secara konsisten.

  1. Gunakan tabir surya secara rutin dan tepat

Tabir surya berfungsi melindungi kulit dari paparan sinar ultraviolet (UVA dan UVB) yang dapat merusak DNA sel kulit. Kerusakan DNA inilah yang menjadi awal terjadinya mutasi sel dan memicu kanker kulit.

Gunakan tabir surya dengan SPF minimal 30 dan perlindungan spektrum luas. Aplikasikan secara merata ke seluruh area kulit yang terpapar, termasuk wajah, leher, telinga, punggung tangan, dan kaki. Banyak orang hanya mengoleskan sunscreen di wajah, padahal area lain juga berisiko tinggi.

Selain itu, pemakaian tabir surya perlu diulang setiap 2 jam, terutama saat beraktivitas di luar ruangan, berkeringat, atau berenang. Tanpa pengulangan, efektivitas perlindungan akan menurun dan kulit kembali terpapar sinar UV secara langsung.

  1. Batasi paparan sinar matahari berlebihan

Sinar matahari memiliki manfaat bagi tubuh, tetapi paparan berlebihan justru berbahaya bagi kulit. Intensitas sinar UV paling tinggi terjadi pada pukul 10.00 hingga 16.00, sehingga risiko kerusakan kulit juga meningkat pada jam-jam tersebut.

Jika memungkinkan, sebaiknya Mama mengurangi aktivitas luar ruangan pada waktu tersebut atau mencari tempat teduh. Paparan sinar UV yang terjadi berulang kali, meski tanpa rasa terbakar, tetap dapat menumpuk dan meningkatkan risiko kanker kulit.

Perlu dipahami bahwa sinar UV tidak hanya berbahaya saat cuaca terik. Pada hari mendung atau berawan, sinar UV tetap dapat menembus awan dan merusak kulit. Karena itu, perlindungan tetap diperlukan meskipun matahari tidak terasa menyengat.

  1. Gunakan pakaian pelindung saat beraktivitas di luar

Pakaian merupakan bentuk perlindungan fisik yang efektif terhadap sinar UV. Menggunakan pakaian berlengan panjang, celana panjang, dan topi bertepi lebar dapat mengurangi paparan langsung sinar matahari ke kulit.

Topi sangat penting untuk melindungi area wajah, telinga, dan kulit kepala—bagian tubuh yang sering menjadi lokasi kanker kulit, tetapi kerap diabaikan. Sementara itu, kacamata hitam membantu melindungi area sekitar mata dari paparan UV.

Untuk perlindungan maksimal, pilih pakaian dengan bahan yang rapat dan tidak terlalu tipis. Saat dikombinasikan dengan tabir surya, pakaian pelindung dapat secara signifikan menurunkan risiko kerusakan kulit akibat sinar matahari.

  1. Hindari penggunaan tanning bed

Tanning bed memancarkan sinar UV buatan yang dapat merusak sel kulit dengan cara yang sama seperti sinar matahari. Bahkan, dalam beberapa kasus, intensitas sinar UV dari tanning bed bisa lebih tinggi dibanding paparan alami.

Penggunaan tanning bed, terutama pada usia muda, terbukti meningkatkan risiko melanoma secara signifikan. Risiko ini akan semakin tinggi jika tanning bed digunakan secara rutin atau dalam jangka panjang.

Kulit yang terlihat lebih gelap akibat tanning sebenarnya merupakan tanda bahwa kulit sedang mengalami kerusakan. Karena itu, menghindari tanning bed sepenuhnya merupakan langkah penting dalam pencegahan kanker kulit

  1. Periksa kulit secara mandiri dan rutin

Pemeriksaan kulit secara mandiri membantu Mama mengenali kondisi normal kulit sendiri. Dengan begitu, setiap perubahan kecil akan lebih mudah terdeteksi sejak awal.

Perhatikan seluruh permukaan tubuh, termasuk area yang jarang terlihat seperti kulit kepala, belakang telinga, punggung, telapak kaki, sela jari, dan bawah kuku. Gunakan cermin atau bantuan orang lain jika diperlukan.

Jika Mama menemukan tahi lalat baru, perubahan warna, ukuran, bentuk, atau luka yang tidak kunjung sembuh, sebaiknya catat dan pantau perkembangannya. Pemeriksaan rutin ini berperan besar dalam deteksi dini kanker kulit.

  1. Segera konsultasi ke dokter jika ada perubahan mencurigakan

Tidak semua perubahan kulit bersifat berbahaya, tetapi perubahan yang berlangsung terus-menerus perlu dievaluasi secara medis. Dokter kulit memiliki kemampuan untuk membedakan lesi jinak dan yang berpotensi ganas melalui pemeriksaan klinis maupun penunjang.

Menunda pemeriksaan sering kali menjadi alasan kanker kulit terdeteksi pada tahap lanjut. Padahal, jika ditemukan sejak dini, sebagian besar kanker kulit dapat ditangani dengan prosedur sederhana.

Karena itu, jangan menunggu hingga muncul rasa nyeri atau perdarahan. Perubahan kecil yang tampak sepele bisa menjadi tanda awal yang sangat penting.

Mama, kanker kulit tidak menular, tapi tetap menjadi salah satu kanker paling umum di dunia. Fokus Mama harus pada deteksi dini, pencegahan, dan edukasi keluarga.

Dengan kesadaran, pemeriksaan rutin, dan langkah pencegahan tepat, Mama bisa menjaga kesehatan kulit keluarga, mendeteksi kanker kulit sejak awal, dan meningkatkan efektivitas pengobatan jika diperlukan.

Editorial Team