Rambut rontok merupakan kondisi yang cukup umum dan bisa terjadi karena berbagai faktor, mulai dari perubahan hormon, stres, hingga kondisi kesehatan tertentu.
Benarkah Autoimun Bisa Menyebabkan Rambut Rontok? Ini Penjelasannya

- Alopecia areata adalah penyakit autoimun yang menyerang folikel rambut, memicu kebotakan bercak di kulit kepala atau kerontokan pada bagian tubuh lain.
- Kondisi ini dapat dialami siapa saja, dengan risiko lebih tinggi pada anak-anak, riwayat keluarga alopecia, serta riwayat diabetes, lupus, atau gangguan tiroid.
- Penanganan disesuaikan dengan tingkat kerontokan, meliputi kortikosteroid, minoxidil, fototerapi, PRP, imunoterapi topikal, hingga penyamaran rambut; konsultasi dokter dianjurkan bila rontok berlanjut.
Namun, pada beberapa kasus, kerontokan rambut dapat berkaitan dengan gangguan pada sistem kekebalan tubuh. Salah satunya alopecia areata, penyakit autoimun yang dapat menyebabkan kerontokan rambut.
Lantas, apa itu alopecia areata? Untuk mengetahui jawabannya, simak penjelasan yang sudah Popmama.com rangkum dari Cleveland Clinic berikut ini.
Table of Content
Apa itu Alopecia Areata?

Pinterest/HealthCentral Alopecia areata adalah salah satu penyakit autoimun yang menyerang folikel rambut dan dapat memicu kerontokan.
Kondisi ini umumnya ditandai dengan munculnya area kebotakan berbentuk bulat atau bercak pada kulit kepala, meski kerontokan juga bisa terjadi di bagian tubuh lainnya.
Nama alopecia areata sendiri menggambarkan pola kerontokan yang muncul pada area tertentu. Tingkat kerontokannya pun dapat berbeda pada setiap orang.
Berdasarkan area dan jumlah rambut yang mengalami kerontokan, alopecia areata terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu:
Alopecia areata totalis: Kerontokan terjadi hingga seluruh rambut di kulit kepala hilang.
Alopecia areata universalis: Kerontokan menyebabkan seluruh rambut di kulit kepala dan tubuh hilang.
Diffuse alopecia areata: Rambut menipis secara menyeluruh, bukan rontok dalam bentuk bercak.
Ophiasis alopecia areata: Kerontokan membentuk pola seperti pita pada bagian belakang hingga sisi bawah kulit kepala.
Siapa yang Bisa Mengalami Alopecia Areata?

Pexels.com/Towfiqu barbhuiya Alopecia areata bisa terjadi pada siapa saja. Meski begitu, ada beberapa kondisi yang membuat seseorang lebih rentan mengalami kerontokan rambut akibat penyakit autoimun ini.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risikonya antara lain:
Masih berusia anak-anak.
Ada anggota keluarga yang pernah mengalami alopecia areata.
Memiliki riwayat penyakit autoimun, seperti diabetes, lupus, atau gangguan tiroid, baik pada diri sendiri maupun anggota keluarga.
Gejala Alopecia Areata

Pexels.com/Towfiqu barbhuiya Gejala alopecia areata yang paling umum adalah munculnya kerontokan rambut pada area tertentu.
Kondisi ini tidak hanya dapat terjadi di kulit kepala, tetapi juga pada rambut wajah, alis, bulu mata, hingga bagian tubuh lainnya.
Selain itu, alopecia areata juga dapat ditandai dengan munculnya cekungan kecil pada permukaan kuku (nail pitting).
Pada sebagian besar kasus, area yang mengalami kerontokan tidak menunjukkan gejala lain. Namun, pada kondisi tertentu, beberapa tanda berikut juga dapat muncul:
Area yang mengalami kerontokan terasa gatal.
Warna kulit pada area tersebut dapat berubah menjadi kemerahan, ungu, cokelat, atau abu-abu.
Lubang folikel rambut terlihat lebih jelas pada permukaan kulit.
Muncul titik-titik hitam yang merupakan bagian batang rambut di dalam folikel.
Tumbuh rambut pendek yang lebih tebal di bagian ujung dan menipis ke arah kulit kepala, yang dikenal sebagai exclamation point hairs.
Rambut yang tumbuh kembali berwarna putih.
Bagaimana Alopecia Areata Ditangani?

Magnific.com/magnific Penanganan alopecia areata bisa berbeda pada setiap orang. Dokter biasanya akan menyesuaikan perawatan dengan kondisi dan tingkat kerontokan rambut yang dialami. Beberapa pilihan penanganan yang dapat diberikan meliputi:
Kortikosteroid: Obat ini dapat membantu mengurangi peradangan akibat respons sistem imun yang menyerang folikel rambut. Penggunaannya bisa berupa suntikan pada area yang mengalami kerontokan, obat minum, atau obat oles seperti krim dan salep.
Minoxidil (Rogaine®): Obat oles yang dapat membantu merangsang pertumbuhan rambut. Hasilnya biasanya tidak langsung terlihat dan membutuhkan waktu beberapa minggu hingga bulan.
Fototerapi: Terapi ini memanfaatkan paparan sinar ultraviolet dari lampu khusus untuk membantu menangani kondisi tertentu pada kulit dan kuku, termasuk alopecia areata.
Platelet-rich plasma (PRP): Pada prosedur ini, darah diambil dan diproses untuk mendapatkan bagian yang kaya trombosit. Cairan tersebut kemudian disuntikkan ke kulit kepala dengan tujuan membantu merangsang pertumbuhan rambut.
Imunoterapi topikal: Perawatan ini dilakukan dengan mengoleskan zat tertentu pada kulit kepala untuk memicu reaksi imun yang diharapkan dapat merangsang pertumbuhan rambut kembali.
Menyamarkan kerontokan: Jika pengobatan belum memberikan hasil yang optimal, kerontokan dapat disamarkan dengan menata rambut, menggunakan wig, atau hair extensions.
Kondisi rambut terkadang memang bisa membuat khawatir. Jika kerontokan terjadi terus-menerus, segera konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui penyebabnya dan mendapatkan penanganan yang tepat.











-BmLTjTr1oGPHSNRat7EBtBn3jvBShSSo.jpg)








