Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Fine Dining Ini Tawarkan Suasana Intimate,  Gabungkan Cerita dan Rasa
Dok. Rin Culinary Art
  • Rin Culinary Art menghadirkan fine dining bergaya omakase yang terasa hangat dan personal, memadukan cerita, emosi, serta seni dalam setiap hidangan untuk menciptakan pengalaman makan yang immersive.
  • Hidangan di Rin menonjol lewat detail artistik seperti saus biru yang berubah warna dan elemen ‘pasir pantai’, menggambarkan kisah pribadi sang chef sekaligus menghadirkan sensasi visual unik di meja makan.
  • Chef Yohhei mengolah bahan lokal Indonesia dengan teknik Jepang–Italia modern, menampilkan fusion Itameshi berjiwa Nusantara yang memperlihatkan potensi kuliner Indonesia dalam konteks gastronomi kelas dunia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Rin Culinary Art menghadirkan sisi hangat dari fine dining dengan memadukan seni, emosi, dan cerita dalam setiap hidangan. Melalui penggunaan bahan lokal Indonesia yang diolah dengan teknik kelas dunia, restoran ini menunjukkan bahwa keindahan kuliner dapat lahir dari kedekatan rasa dan narasi personal, menciptakan pengalaman makan yang intim, reflektif, dan penuh makna.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Fine dining sering kali identik dengan suasana formal, aturan makan yang rumit, dan pengalaman yang terasa jauh dari keseharian. Namun kesan itu perlahan memudar begitu saya memasuki Rin Culinary Art di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Begitu duduk di depan meja omakase, saya langsung merasa pengalaman makan malam ini akan berbeda. Tidak ada suasana fine dining yang terasa terlalu formal atau menciptakan jarak. Sebaliknya, malam itu justru terasa hangat, intimate, dan penuh rasa penasaran tentang hidangan apa lagi yang akan datang berikutnya.

Satu per satu sajian hadir bukan hanya dengan rasa yang kompleks, tetapi juga cerita yang membuat saya beberapa kali berhenti makan hanya untuk memerhatikan detailnya lebih lama.

Mulai dari tea pairing yang diseduh hingga 15 jam, saus biru yang perlahan berubah warna seperti langit senja, sampai tiramisu unik dari ubi cilembu.

Di titik itu saya sadar, pengalaman bersantap di sini bukan sekadar fine dining biasa. Ada seni, emosi, dan cerita yang ikut disajikan dalam setiap hidangan.

Berikut ini Popmama.com ulas pengalaman saya merasakan energi baik di sebuah restoran yang menghadirkan konsep dekat secara rasa dan cerita.

1. Bukan sekadar makan malam, tapi perjalanan rasa yang dibuat penuh cerita

Dok. Rin Culinary Art

Malam di Rin dimulai dengan tea pairing spesial yang langsung mencuri perhatian. Bukan teh biasa, melainkan racikan teh yang melalui proses seduh hingga 15 jam untuk menghasilkan rasa yang lebih kompleks dan mendalam.

General Manager Rin Culinary Art, Ken Kuwako, menjelaskan bahwa tea pairing menjadi salah satu elemen yang membedakan pengalaman bersantap di Rin.

“Tea pairing di Rin bukan sekadar teh biasa, melainkan special blend yang dirancang khusus untuk memperkaya rasa dan menciptakan pengalaman dining yang lebih immersive dalam setiap sajian,” jelas Ken.

Setiap teh dipadukan dengan elemen floral, buah kering, hingga herba yang membuat rasa terus berkembang di mulut. Bahkan welcome drink yang disajikan malam itu dibuat sedikit sparkling agar terasa lebih playful sejak tegukan pertama.

Bukan hanya makanannya yang dipikirkan secara detail, tetapi juga emosi yang muncul saat tamu menikmati setiap sajian.

2. Hidangan yang berubah warna hingga “pasir palsu” sukses bikin tamu terpukau

Popmama.com/Onic Metheany

Salah satu momen yang paling membekas bagi saya malam itu datang saat black ravioli disajikan di atas sebuah figura lukisan. Dihiasi saus biru terang yang tampilannya benar-benar menyerupai laut. Jujur, awalnya mengira warna biru tersebut hanya bagian dari artistic plating agar terlihat cantik di foto.

Namun ternyata saya diminta mencelupkan kuas ke saus berbasis lime dan lemongrass. Perlahan, warna biru itu mulai berubah menjadi ungu hingga pink, persis seperti gradasi langit saat matahari mulai tenggelam. Di meja makan, semua langsung spontan memerhatikan perubahan warnanya.

Yang membuat saya semakin terpukau, hidangan ini ternyata terinspirasi dari pengalaman Chef Yohhei saat melihat langit berubah warna ketika berada di atas kapal. Jadi bukan sekadar visual cantik, tetapi ada memori dan cerita yang ikut dituangkan ke dalam hidangan tersebut.

Detail kecil lainnya juga membuat saya beberapa kali berhenti makan hanya untuk memerhatikan komponennya lebih dekat. Di bagian bawah piring terdapat elemen menyerupai pasir pantai yang ternyata dibuat dari kombu powder dan kulit focaccia panggang yang dihancurkan hingga menyerupai breadcrumb.

Di momen itu saya merasa pengalaman makan di sini benar-benar berbeda. Rasanya seperti menikmati karya seni yang bisa dimakan, bukan sekadar fine dining biasa.

3. Bahan lokal Indonesia diolah dengan teknik kelas dunia

Dok. Rin Culinary Art

Meski membawa teknik Jepang dan Italia, Rin justru banyak menggunakan bahan-bahan lokal Indonesia sebagai bintang utama.

Mulai dari jantung pisang, lemongrass, ubi cilembu, hingga hasil laut lokal diolah dengan pendekatan modern dan presisi khas Jepang.

Chef Yohhei mengaku terpesona dengan karakter bahan makanan Indonesia yang menurutnya kaya rasa dan memiliki cerita kuat.

“Indonesia memiliki potensi kuliner yang luar biasa. Bahan-bahan di sini memiliki karakter yang kuat, kedalaman rasa, dan cerita yang sangat menarik,” ungkap Chef Yohhei Sasaki.

Chef juga kerap membagikan kisah pribadinya. Ia bercerita bagaimana istrinya sangat mencintai desain dan makanan Indonesia, hingga membuat rumah mereka dipenuhi suasana Nusantara.

Kecintaan itu menjadi inspirasi kuat di balik fusion Itameshi khas Rin, perpaduan teknik Jepang–Italia dengan jiwa Indonesia yang hangat.

4. Fine dining yang dibuat lebih hangat dan terasa dekat

Dok. Rin Culinary Art

Di tengah citra fine dining yang terkadang terasa intimidating, Rin justru ingin menghadirkan pengalaman yang lebih humanis dan welcoming.

Hal itu terasa dari interaksi para chef dan tim restoran yang aktif menjelaskan cerita di balik setiap sajian. Suasana makan malam pun terasa santai, hangat, dan penuh percakapan.

Ken Kuwako mengatakan bahwa Rin memang dibangun bukan hanya untuk menyajikan makanan lezat, tetapi juga menciptakan koneksi emosional dengan para tamu.

“Kami ingin menghadirkan fine dining yang eksklusif dan refined, namun tetap terasa hangat, welcoming, dan relevan bagi lebih banyak orang,” ujar Ken Kuwako.

Pendekatan inilah yang membuat Rin terasa berbeda. Fine dining di sini tidak menciptakan jarak, melainkan justru mengundang tamu untuk ikut larut dalam cerita di balik setiap hidangan.

5. Saat Jakarta punya wajah baru contemporary dining

Popmama.com/Onic Metheany

Seluruh pengalaman makan malam itu kemudian ditutup dengan dessert yang tak kalah menarik. Salah satu yang paling membekas bagi saya adalah tiramisu ubi Cilembu dengan rasa yang lebih dalam dan autentik.

Berbeda dari tiramisu pada umumnya yang cenderung manis dan creamy, versi ini justru terasa lebih lembut dengan karakter manis alami dari ubi Cilembu yang tidak berlebihan. Ada rasa hangat dan comforting yang perlahan muncul di setiap suapan, membuat dessert ini terasa familiar sekaligus tetap elegan.

Menariknya lagi, penutup ini seolah merangkum seluruh pengalaman makan malam di Rin Culinary Art. Tidak berusaha tampil terlalu heboh, tetapi penuh detail, cerita, dan pendekatan yang thoughtful di setiap komponennya.

Dan mungkin itu yang membuat pengalaman bersantap di sini terasa begitu membekas bagi saya. Bukan hanya karena teknik atau plating yang cantik, tetapi karena setiap hidangan terasa punya emosi dan cerita yang ingin disampaikan kepada para tamunya.

Di tengah semakin berkembangnya posisi Indonesia dalam peta kuliner global, kehadiran Rin menjadi pengingat bahwa bahan lokal Indonesia punya potensi besar untuk tampil menonjol tanpa kehilangan akar dan ceritanya sendiri.

Editorial Team

Related Article