Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Melasma Tak Hanya Soal Flek, Ketahui Dampak dan Terapi Tepatnya!

Melasma Tak Hanya Soal Flek, Ketahui Dampak dan Terapi Tepatnya!
Popmama.com/Erica Santoso
Intinya Sih
  • Melasma adalah gangguan pigmentasi kompleks yang lebih sering menyerang wanita usia produktif akibat faktor hormonal dan paparan sinar matahari, bukan sekadar flek biasa di wajah.
  • Kondisi ini dapat merusak skin barrier dan memicu peradangan kronis jika ditangani dengan produk sembarangan, sehingga diperlukan pendekatan medis komprehensif untuk pemulihan kulit menyeluruh.
  • Dampak melasma tak hanya fisik tetapi juga psikologis, menurunkan rasa percaya diri; terapi modern seperti redermalisasi dan growth factors membantu memperbaiki struktur kulit serta kualitas hidup pasien.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernahkah noda kecokelatan di wajah tak kunjung memudar meski kamu telah mencoba berbagai skincare? Banyak orang menganggap melasma sebagai flek biasa yang bisa diatasi dengan krim pemutih sembarangan. Padahal, melasma adalah gangguan pigmentasi kompleks yang membutuhkan pendekatan medis tepat agar tidak justru memperburuk kondisi kulit kamu.

Dalam rangka Melasma Awareness Month 2026, PT Unison Medika Jaya menggelar edukasi bertajuk ”Lebih Paham Melasma, Lebih Tepat Penanganannya” di Amanaia Satrio, Jakarta Selatan, Rabu (15/07/2026).

Acara ini menekankan pentingnya memahami faktor risiko dan terapi medis terkini agar masyarakat tidak lagi melakukan pengobatan mandiri yang berisiko merusak jaringan kulit.

Melasma bukan sekadar masalah estetika, melainkan gangguan biologis yang berdampak pada kualitas hidup. Kurangnya pemahaman sering membuat banyak orang terjebak pengobatan tanpa supervisi yang merusak skin barrier.

Berikut Popmama.com bagikan informasi penting terkait melasma dan cara mengatasinya agar kembali percaya diri.

1. Melasma didominasi oleh wanita

Melasma didominasi oleh wanita
Popmama.com/Erica Santoso

Melasma jauh lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan laki-laki, dengan prevalensi mencapai 90-96% kasus. Kondisi ini paling sering muncul pada perempuan di usia produktif (20-40 tahun) karena pengaruh hormon estrogen dan progesteron yang aktif.

Faktor hormonal ini membuat wanita lebih rentan terhadap perubahan warna kulit yang tidak merata dibandingkan laki-laki. Selain itu, paparan sinar matahari yang intens di negara tropis seperti Indonesia juga menjadi pemicu utama yang membuat wanita Indonesia sangat rentan mengalaminya.

Kombinasi antara usia produktif, paparan sinar UV, dan fluktuasi hormon menjadi alasan utama mengapa melasma lebih dominan menyerang kaum perempuan.

"Kesadaran akan perlindungan kulit sejak dini sangatlah krusial bagi setiap perempuan untuk mencegah keparahan melasma," ujar dr. Stanley Setiawan.

2. Bukan hanya masalah warna kulit

Bukan hanya masalah warna kulit
Popmama.com/Erica Santoso

Secara medis, melasma bukan sekadar perubahan warna menjadi cokelat atau abu-abu di permukaan kulit. Kondisi ini melibatkan kerusakan sistemik pada lapisan kulit, termasuk skin barrier, peradangan kronis, hingga penipisan kulit.

Jika salah ditangani dengan produk yang tidak tepat, melasma bisa menjadi menetap dan semakin sulit untuk dipulihkan. Penggunaan bahan yang keras tanpa pengawasan dokter justru dapat menyebabkan peradangan yang lebih dalam pada jaringan kulit.

"Tidak semua noda gelap di wajah adalah melasma. Karena penyebabnya bisa berbeda, pemeriksaan oleh dokter penting agar pasien mendapatkan terapi yang sesuai," ungkap dr. Stanley Setiawan 

3. Dampak psikologis yang signifikan

Dampak psikologis yang signifikan
Popmama.com/Erica Santoso

Banyak penderita melasma mengalami penurunan rasa percaya diri, stres emosional, hingga terganggunya interaksi sosial. Rasa risih dan lelah karena harus terus menutupi noda dengan makeup tebal membuat kesehatan mental penderita sangat terpengaruh.

Kualitas hidup penderita melasma sering kali menurun karena rasa malu akan perubahan warna kulit wajah. Hal ini sering membuat mereka menarik diri dari lingkungan sosial atau merasa minder saat harus berinteraksi dengan orang lain dalam kegiatan sehari-hari.

"Awalnya saya mengira ini hanya flek biasa. Lama-kelamaan saya jadi kurang percaya diri karena nodanya tidak kunjung memudar. Setelah berkonsultasi dengan dokter, saya baru memahami bahwa melasma memang membutuhkan penanganan yang tepat dan konsisten," ujar Margaret Vivi, seorang penyintas melasma. 

4. Pentingnya diagnosis dan pendekatan komprehensif

Pentingnya diagnosis dan pendekatan komprehensif
Popmama.com/Erica Santoso

Karena penyebab melasma sangat beragam, tidak ada satu metode tunggal yang bisa menyembuhkan semua orang secara instan. Dokter biasanya akan melakukan penilaian menyeluruh untuk memprogramkan terapi kombinasi yang sesuai indikasi.

Setiap pasien memiliki kondisi kulit yang berbeda-beda, sehingga prosedur yang dilakukan harus disesuaikan dengan kebutuhan individu pasien. Kombinasi terapi yang tepat akan membantu menargetkan sumber masalah, bukan sekadar menghilangkan noda di permukaan saja.

"Setiap pasien memiliki kondisi kulit yang berbeda-beda, sehingga prosedur yang dilakukan harus disesuaikan dengan kebutuhan individu pasien," ungkap dr. Stanley Setiawan 

5. Inovasi terapi dengan skin booster dan growth factors

Inovasi terapi dengan skin booster dan growth factors
Popmama.com/Erica Santoso

Kini ada metode redermalisasi untuk memperbaiki struktur kulit dari dalam. Penggunaan kombinasi bahan aktif seperti Succinic Acid dan Hyaluronic Acid terbukti membantu menormalkan aktivitas melanosit yang terlalu aktif di kulit.

Selain itu, penggunaan Growth Factors juga berperan penting dalam mendukung regenerasi seluler dan mengurangi peradangan. Bahan-bahan ini membantu memperbaiki lingkungan seluler kulit sehingga tampilan pigmentasi dapat berangsur membaik secara alami dan lebih sehat.

Perawatan ini tidak hanya berfokus pada estetika, tetapi juga memperbaiki fungsi kulit agar tetap terhidrasi dengan baik. Dengan memperbaiki fondasi kulit dari lapisan dermal, hasil terapi menjadi lebih optimal, tahan lama, dan menjaga kulit tetap awet muda.

"Dalam praktik sehari-hari, saya mengombinasikan redermalisasi menggunakan Hyaluronic Acid dan Succinic Acid dengan Growth Factors untuk memperbaiki kualitas kulit dan mendukung regenerasi selsel," ungkap dr. Ratna Yuliana 

Mulailah langkah dengan diagnosis yang tepat dan lindungi kulit kamu setiap hari dengan sunscreen sebagai bentuk perlindungan mendasar!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More