Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

7 Makanan Penyebab Hipertensi, Wajib Kamu Batasi!

7 Makanan Penyebab Hipertensi, Wajib Kamu Batasi!
Pexels/Kristina Paukshtite
Intinya Sih
Gini Kak
Sisi Positif
  • Hipertensi disebut silent killer karena sering tanpa gejala, namun berdampak serius pada jantung dan pembuluh darah, terutama akibat pola makan tinggi garam, gula, dan lemak.
  • Tujuh makanan utama penyebab hipertensi meliputi makanan asin, manis, daging merah, lemak jenuh, makanan olahan, makanan diasamkan, serta makanan cepat saji yang tinggi natrium dan lemak.
  • Konsumsi berlebihan dari jenis makanan tersebut dapat meningkatkan tekanan darah melalui penumpukan cairan tubuh, kolesterol jahat, resistansi insulin, hingga peradangan dalam pembuluh darah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Tekanan darah tinggi alias hipertensi sering disebut sebagai silent killer karena gejalanya tidak selalu terlihat, padahal dampaknya serius untuk kesehatan jantung dan pembuluh darah. Ironisnya, salah satu penyebab utamanya justru bersembunyi di menu makan sehari-hari yang selama ini terasa biasa saja.

Pola makan punya peran besar dalam mengatur tekanan darah, apalagi bagi orang yang lebih sensitif terhadap perubahan metabolisme tubuh.

Nah, supaya kamu dapat lebih menjaga pola makan, berikut Popmama.com mengulas 7 makanan penyebab hipertensi, dikutip dari Herself Health. Yuk, simak sampai habis!

1. Makanan asin

Makanan asin
Pexels/John Booth

Kalau kamu termasuk penggemar keripik, pretzel, popcorn asin, atau kacang yang sudah ditaburi garam berlebih, sebaiknya mulai mengurangi porsinya. Garam berlebih membuat tubuh menahan lebih banyak cairan untuk mengencerkan kadar natrium dalam darah, sehingga volume darah yang mengalir di pembuluh pun ikut bertambah.

Kondisi ini otomatis menambah tekanan pada dinding arteri. Kalau dibiarkan terus-menerus, pembuluh darah dapat melemah dan kehilangan elastisitasnya, sementara ginjal juga bekerja ekstra untuk membuang kelebihan natrium.

Sup kalengan, sayuran kaleng, daging olahan yang diawetkan, hingga keju olahan juga termasuk dalam daftar makanan asin yang perlu diwaspadai.

2. Makanan manis

Makanan manis
Pexels/Nataliya Vaitkevich

Selain asin, makanan manis juga menjadi biang keladi hipertensi yang sering luput dari perhatian. Kue, permen, yogurt rasa buah, granola, hingga sereal sarapan yang manis dapat memicu kenaikan berat badan, resistansi insulin, dan peradangan dalam tubuh.

Lemak perut yang menumpuk akibat konsumsi gula berlebih dapat mengganggu keseimbangan hormon dan memicu gangguan metabolisme yang berujung pada naiknya tekanan darah.

Belum lagi, resistansi insulin turut memengaruhi cara tubuh mengolah glukosa dan garam, yang keduanya berperan penting untuk kesehatan pembuluh darah.

3. Daging merah

Daging merah
Pexels/Los Muertos Crew

Daging merah memang lezat, tapi kandungan lemak jenuh, kolesterol, dan kadang natrium di dalamnya patut diwaspadai. Lemak jenuh dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) yang lama-lama menumpuk di dinding arteri dan mempersempit alirannya.

Metode memasak seperti memanggang atau menggoreng daging merah pada suhu tinggi juga dapat menghasilkan senyawa yang berkaitan dengan peradangan.

Ditambah lagi, daging merah olahan seperti bacon, sosis, atau daging deli biasanya mengandung lebih banyak garam dan bahan pengawet, sehingga risikonya terhadap tekanan darah pun makin besar.

4. Lemak jenuh

Lemak jenuh
Pexels/Beth Fitzpatrick

Konsumsi lemak jenuh secara berlebihan membuat tubuh memproduksi lebih banyak kolesterol LDL, yang kemudian menumpuk di dinding pembuluh darah dan membentuk plak. Proses ini dikenal dengan istilah aterosklerosis, yaitu kondisi ketika arteri menyempit dan kehilangan kelenturannya.

Ketika pembuluh darah menyempit, jantung harus bekerja lebih keras memompa darah ke seluruh tubuh, dan inilah yang bikin tekanan darah naik. Mentega, keju, potongan daging berlemak, minyak kelapa, hingga kue-kue kering termasuk sumber lemak jenuh yang sebaiknya dibatasi porsinya.

5. Makanan olahan

Makanan olahan
Pexels/Engin Akyurt

Makanan olahan biasanya mengandung natrium tinggi karena berfungsi sebagai pengawet sekaligus penambah rasa. Belum lagi kandungan lemak trans dan gula tambahan yang sering bersembunyi di baliknya.

Makanan kalengan, daging dan keju olahan, mi instan, saus botolan, camilan kemasan, hingga makanan beku siap saji termasuk dalam kategori ini.

Kombinasi natrium, lemak, dan gula tambahan yang tinggi inilah yang membuat makanan olahan menjadi salah satu penyumbang terbesar risiko hipertensi dalam pola makan modern.

6. Makanan yang diasamkan

Makanan yang diasamkan
Pexels/RDNE Stock project

Makanan yang diasamkan atau diawetkan dengan garam, seperti acar, sauerkraut, zaitun, kimchi, hingga cabai acar, memang menggugah selera.

Sayangnya, proses pengawetannya menggunakan garam dalam jumlah cukup banyak untuk mencegah pertumbuhan bakteri.

Konsumsi garam berlebih dari makanan jenis ini dapat membuat tubuh menahan lebih banyak cairan, yang otomatis meningkatkan volume darah.

Ginjal pun bekerja lebih keras menyaring kelebihan natrium, dan kalau dibiarkan dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memperberat risiko hipertensi, terutama pada orang yang memang sudah rentan.

7. Makanan cepat saji

Makanan cepat saji
Pexels/Kristina Paukshtite

Terakhir, siapa sih yang tidak tergoda dengan burger, kentang goreng, atau ayam goreng tepung dari gerai makanan cepat saji? Sayangnya, makanan jenis ini biasanya diberi garam dalam jumlah besar demi cita rasa yang lebih menggugah sekaligus memperpanjang masa simpan.

Kandungan lemak trans dan lemak jenuhnya yang tinggi turut mendongkrak kolesterol jahat, sementara porsinya yang besar dan rendah nutrisi bikin berat badan gampang naik.

Konsumsi makanan cepat saji secara rutin dalam jangka panjang dapat memicu peradangan dan resistansi insulin, dua faktor yang sama-sama berkontribusi pada tekanan darah tinggi.

Nah, itulah pembahasan mengenai 7 makanan penyebab hipertensi yang porsinya dapat kamu coba batasi. Semoga bermanfaat!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More