Kalau kamu perhatikan, penyakit autoimun sepertinya makin sering terdengar belakangan ini dan mayoritas yang terkena adalah perempuan. Sejumlah penelitian memang menunjukkan hal serupa, yaitu sekitar 70-80 persen pengidap autoimun di dunia adalah perempuan.
6 Penyebab Autoimun pada Perempuan yang Jarang Disadari

- Sekitar 70–80 persen pengidap autoimun global adalah perempuan; fluktuasi estrogen dapat meningkatkan aktivitas imun, terutama saat pubertas, kehamilan, dan masa nifas.
- Faktor genetik, termasuk dua kromosom X dan gangguan inaktivasi kromosom X, dapat meningkatkan kerentanan, tetapi tidak otomatis menyebabkan autoimun.
- Infeksi tersembunyi, polusi, bahan kimia, stres kronis, serta pola makan buruk, kurang tidur, merokok, alkohol, dan minim olahraga dapat memicu atau memperbesar risiko autoimun.
Pertanyaannya, kenapa perempuan menjadi lebih rentan mengalami kondisi ini dibandingkan dengan laki-laki? Ternyata ada beberapa faktor yang saling berkaitan satu sama lain.
Penasaran apa saja penyebabnya? Berikut Popmama.com mengulas 6 penyebab autoimun pada perempuan agar kamu bisa lebih waspada sejak dini. Yuk, simak sampai habis!
Table of Content
1. Hormon estrogen yang naik turun

Pexels/Picas Joe Mengutip laman resmi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, Sp.PD-KR menjelaskan bahwa hormon estrogen memiliki pengaruh besar terhadap sistem kekebalan tubuh perempuan.
Ketika hormon ini mengalami perubahan atau ketidakseimbangan, kondisi tersebut dapat memicu munculnya penyakit autoimun, terlebih lagi pada perempuan hamil.
Melansir laman Ohio State University Wexner Medical Center, estrogen diketahui dapat meningkatkan aktivitas sel imun seperti sel T dan sel B.
Di satu sisi, ini membantu tubuh melawan infeksi, tetapi di sisi lain justru berisiko memicu reaksi autoimun pada orang yang sudah memiliki kecenderungan genetik.
Studi dalam jurnal Cureus yang dipublikasikan di PMC turut mencatat bahwa banyak penyakit autoimun muncul saat perempuan mengalami perubahan hormon besar, seperti pubertas, kehamilan, hingga masa nifas.
2. Faktor genetik

Pexels/Nicola Narracci Selain hormon, faktor genetik juga berperan besar dalam kemunculan autoimun. Mengutip laman UGM, Prof. Nyoman Kertia mengungkapkan bahwa penyakit autoimun memang dipengaruhi oleh faktor genetik.
Meski begitu, bukan berarti semua pengidap memiliki riwayat keluarga dengan autoimun.
Menurut UC Davis Biotechnology Program, salah satu penjelasan paling meyakinkan datang dari kromosom X. Karena perempuan memiliki dua kromosom X, sementara laki-laki hanya satu, jumlah gen yang berpotensi bermutasi pun jadi lebih banyak pada perempuan.
Riset dari PMC turut memperkuat hal ini dengan menyebutkan bahwa proses "inaktivasi kromosom X" pada perempuan dapat berjalan tidak sempurna.
Ketika proses ini terganggu, protein pada kromosom X yang seharusnya tidak aktif dapat dianggap sebagai benda asing oleh sistem imun sehingga memicu serangan autoimun.
Meski begitu, memiliki faktor genetik bukan berarti kamu pasti akan mengalami autoimun, karena faktor lain juga ikut menentukan.
3. Infeksi virus atau bakteri yang tak terdeteksi

Pexels/Monstera Production Infeksi juga disebut-sebut sebagai salah satu pemicu autoimun, meski sering luput dari perhatian. Mengutip Activated Health & Wellness, beberapa kondisi autoimun dapat dipicu atau diperparah oleh infeksi yang tidak terdiagnosis, seperti virus Epstein-Barr atau penyakit Lyme.
Infeksi semacam ini kerap bersembunyi dan jarang terdeteksi melalui pemeriksaan medis biasa, sehingga baru terungkap setelah gejala autoimun benar-benar muncul dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Itulah kenapa pemeriksaan menyeluruh diperlukan jika tubuh kamu terus-menerus terasa tidak fit tanpa sebab yang jelas.
4. Faktor lingkungan di sekitar kita

Pexels/Ihsan Adityawarman Faktor lingkungan juga tak kalah penting sebagai pemicu autoimun. Dikutip dari laman UGM, Prof. Nyoman Kertia menyebut polusi udara dan pola makan yang kurang sehat termasuk faktor lingkungan yang dapat memicu autoimun.
Mengutip Ohio State University Wexner Medical Center, paparan sinar ultraviolet berlebihan, pestisida, hingga merkuri organik dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit seperti lupus dan rheumatoid arthritis.
Dilansir dari Activated Health & Wellness, paparan bahan kimia, plastik, dan racun lingkungan lainnya dapat memicu kondisi leaky gut atau kebocoran usus, di mana partikel makanan yang belum tercerna sempurna juga memicu respons imun berlebihan.
5. Stres

Pexels/www.kaboompics.com Dari semua faktor, stres menjadi salah satu yang paling disorot. Mengutip laman UGM, Prof. Nyoman Kertia menyebut stres sebagai faktor dominan penyebab autoimun, bahkan pada pasien mahasiswa yang awalnya sehat tetapi jatuh sakit setelah menghadapi tekanan akademik dan beban hidup.
Ia pun menegaskan bahwa manajemen stres adalah salah satu kunci utama pengelolaan autoimun, di samping menjaga waktu istirahat dan membatasi paparan sinar matahari berlebihan.
Mengutip Activated Health & Wellness, perempuan sering kali memikul banyak peran sekaligus, mulai dari pekerjaan, keluarga, hingga urusan sosial, sehingga stres kronis lebih mudah menumpuk dan mengganggu keseimbangan sistem imun.
6. Gaya hidup yang kurang sehat

Pexels/Vitaly Gariev Terakhir, gaya hidup sehari-hari juga berpengaruh terhadap risiko autoimun. Riset dalam jurnal Cureus di PMC menuliskan bahwa kebiasaan seperti pola makan buruk, kurang olahraga, kurang tidur, merokok, dan konsumsi alkohol berlebihan dapat memperbesar peluang munculnya autoimun.
Dilansir dari UGM, orang yang memiliki bakat genetik autoimun sebaiknya menghindari rokok dan alkohol, serta menjaga lingkungan tetap bersih sebagai bagian dari pola hidup sehat.
Nah, itulah pembahasan mengenai 6 penyebab autoimun pada perempuan. Semoga informatif dan bermanfaat!




















