- Jika pasangan kamu memiliki sindrom Peter Pan, kamu mungkin mendapat kesan, mereka akan hidup dalam dunianya sendirian.
- Salah satunya, mereka tidak peduli dengan diri mereka. Terkadang mereka membiarkan pakaian atau piring kotor menumpuk.
- Atau sampah menumpuk yang dibiarkan begitu saja.
- Bahkan, kamu harus membantu mereka untuk merawat diri, seperti anak kecil.
Peter Pan Syndrome, Masalah Psikologis Menolak untuk Dewasa

"Semua anak tumbuh besar, kecuali satu, tumbuh dewasa," J. M. M. Barrie menulis dalam novel 1911 "Peter dan Wendy." Dia berbicara tentang Peter Pan, bocah yang tidak akan tumbuh dewasa.
Meskipun tidak ada sihir yang sebenarnya mencegah anak-anak dari tumbuh secara fisik, beberapa orang dewasa masih belum bisa move on dari masa kecil lho.
Bahkan, banyak dari mereka yang menghindari tanggung jawab, baik emosional dan finansial. Kondisi ini disebut sebagai "Peter Pan Syndrome." Mengambil nama tokoh dongeng anak-anak dunia.
Lalu, apa masalah yang dialami penderitanya? Popmama.com akan merangkum informasinya untuk kamu.
1. Penjelasan sindrom Peter Pan

Organisasi Kesehatan Dunia tidak mengenali Sindrom Peter Pan sebagai kelainan gangguan kesehatan. Namun, banyak ahli percaya bahwa ini adalah kondisi kesehatan mental yang dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang.
Karena Peter Pan Syndrome tidak secara resmi didiagnosis sebagai gangguan kesehatan, tidak ada gejala atau karakteristik yang jelas atau bahkan alasan yang menyebabkannya.
Menurut Universitas Granada, 'Peter Pan Syndrome' memengaruhi orang-orang yang tidak mau atau merasa tidak dapat tumbuh dewasa.
Penderitanya seolah terjebak di dalam tubuh orang dewasa. Namun dengan pikiran anak-anak.
2. Sejarah dan pertama kali ditemukan

Pertama kali muncul di buku Dr. Dan Kiley's 1983, "Peter Pan Syndrome: Pria yang belum pernah dewasa."
Sementara Kiley berfokus pada perilaku ini pada laki-laki. Ternyata penderitanya tak hanya laki-laki saja, tapi juga bisa dialami perempuan.
Setelah berbagai penelitian, diketahui sindrom Peter Pan dapat memengaruhi orang-orang dari berbagai jenis kelamin atau budaya.
Pola perilakunya pun berbeda dengan masalah kesehatan mental yang lain. Bahkan, tak terdeteksi dari luar. Jangan lupa, sindrom ini tak diakui sebagai masalah kejiwaan oleh WHO.
3. Tak bisa diketahui secara klinis

Melansir dari Medical News Today, orang dengan Peter Pan Syndrome cenderung hidup oleh filosofi ini setiap hari, "Aku tidak bisa dewasa hari ini"?
Karena Peter Pan Syndrome bukanlah diagnosis klinis, para ahli belum menentukan gejala resmi. Dampaknya ternyata cukup besar bagi kehidupan seseorang.
"Dalam hubungan, saya pikir ini muncul paling jelas dalam tingkat ambisi, harapan, tujuan hidup, dan kemampuan untuk membuat komitmen," jelas Patrick Cheatham, seorang psikolog di Portland, Oregon.
4. Ciri-ciri dari Peter Pan Syndrome

- Lebih suka "hidup untuk hari ini" dan menunjukkan sedikit minat dalam membuat rencana jangka panjang.
- Tidak tersedianya hubungan emosional, misalnya tidak bisa mendefinisikan hubungan.
- Secara konsisten menghindari mengatasi masalah
- Sering kehilangan pekerjaan karena kurangnya usaha, keterlambatan, atau melewatkan pekerjaan.
- Berangan-angan tanpa melihat kenyataan, juga tak ada upaya untuk mencapainya.
- Ledakan emosional ketika menghadapi situasi stres.
- Kecenderungan untuk membuat alasan dan menyalahkan orang lain ketika ada yang salah.
- Takut pada evaluasi negatif
Tanda-tanda ini juga dapat berhubungan dengan masalah lain, tetapi seseorang yang menunjukkan beberapa tanda dan gejala di atas mungkin memiliki sindrom Peter Pan.



















