Indonesia tengah menghadapi tantangan gizi yang tidak sederhana. Di satu sisi, angka stunting masih menjadi pekerjaan rumah besar. Di sisi lain, tren kelebihan berat badan dan konsumsi pangan olahan terus meningkat, terutama di wilayah perkotaan.
Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan pangan bukan lagi semata soal ketersediaan, tetapi juga soal kualitas, pola konsumsi, serta akses terhadap informasi gizi yang tepat.
Di tengah kompleksitas tersebut, transformasi digital mulai dilihat sebagai bagian dari solusi.
Transformasi digital yang inklusif berarti menghadirkan solusi yang sesuai dengan kebiasaan masyarakat, melibatkan petani dan keluarga, serta berbasis pada pangan lokal yang sudah akrab di meja makan sehari-hari.
Pendekatan inilah yang diusung dalam riset kolaboratif MyINDAH Diet yang didukung oleh KONEKSI.
Inisiatif ini mempertemukan berbagai institusi seperti The University of Queensland, Monash University, BRIN, IPB University, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, bersama mitra lainnya.
Kolaborasi lintas disiplin ini berfokus pada solusi digital untuk mendorong pola makan sehat dan berkelanjutan di wilayah perkotaan dan peri-perkotaan di Pulau Jawa.
Berikut, Popmama.com akan membahas lebih rinci tentang pola makan sehat dan berkelanjutan melalui transformasi digital. Yuk simak pembahasan berikut ini.
