Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

Sering Telat Haid? Ternyata Ada Hubungan dengan Hormon, Stres, dan Pola Hidup

Sering Telat Haid? Ternyata Ada Hubungan dengan Hormon, Stres, dan Pola Hidup
Pexels/Karola G
Intinya Sih
5W1H
Gini Kak
  • Keseimbangan hormon seperti estrogen, progesteron, FSH, dan LH berperan penting menjaga siklus menstruasi tetap teratur melalui sistem hypothalamic–pituitary–ovarian axis.
  • Kehamilan dan gangguan ovulasi menjadi penyebab umum berhentinya menstruasi atau amenore sekunder pada perempuan usia reproduksi.
  • Stres, perubahan pola olahraga, serta berat badan dapat mengganggu keseimbangan hormon; pemeriksaan medis disarankan bila haid tidak datang lebih dari tiga bulan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Siklus menstruasi merupakan salah satu indikator penting kesehatan reproduksi perempuan. Siklus yang teratur biasanya menandakan keseimbangan hormon dalam tubuh berjalan dengan baik.

Menurut dr. Elisia Atnil, Sp.OG., FICS, dokter spesialis obstetri dan ginekologi dari RS Pondok Indah – Puri Indah, menstruasi sangat dipengaruhi oleh sistem hormon tubuh. Ketika terjadi perubahan pada hormon, siklus haid juga bisa ikut berubah.

“Untuk bisa menstruasi secara teratur dan baik, itu karena hormon,” jelas dr. Elisia untuk sesi Popmama Talk Maret 2026.

Karena itu, berbagai faktor seperti kehamilan, gangguan ovulasi, hingga stres dan perubahan gaya hidup bisa memengaruhi siklus menstruasi. 

Berikut Popmama.com rangkuma hal yang perlu dipahami tentang kaitan hormon, stres, dan gaya hidup terhadap menstruasi.

1. Keseimbangan hormon menentukan kelancaran siklus menstruasi

ilustrasi tanggal menstruasi
Pexels/Leeloo The First

Siklus menstruasi terjadi karena kerja sama beberapa hormon reproduksi, seperti estrogen, progesteron, follicle-stimulating hormone (FSH), dan luteinizing hormone (LH). Hormon-hormon ini bekerja dalam sistem yang dikenal sebagai hypothalamic–pituitary–ovarian axis (HPO axis).

Jika salah satu hormon terganggu, siklus menstruasi bisa menjadi tidak teratur atau bahkan berhenti sementara.

Menurut dr. Elisia, siklus haid yang datang setiap bulan biasanya menjadi tanda bahwa tubuh berada dalam kondisi yang baik.

“Jika siklus haidnya normal setiap bulan, itu lumayan mencerminkan kondisi tubuh baik-baik saja,” jelas dr. Elisia.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Human Reproduction Update juga menjelaskan bahwa keseimbangan hormon pada HPO axis sangat menentukan apakah ovulasi dan menstruasi dapat terjadi secara normal.

2. Kehamilan dan gangguan ovulasi bisa menyebabkan menstruasi berhenti

ilustrasi perempuan menstruasi
Unsplash/Sasun Bughdaryan

Salah satu penyebab paling umum tidak datangnya menstruasi adalah kehamilan, terutama pada perempuan usia reproduksi yang aktif secara seksual.

“Pada perempuan usia reproduksi yang aktif seksual, penyebab paling umum tidak menstruasi adalah hamil atau tidak,” kata dr. Elisia.

Selain itu, tidak menstruasi juga bisa terjadi karena gangguan ovulasi atau masalah kesuburan. Ketika ovulasi tidak terjadi, siklus hormon yang mengatur peluruhan dinding rahim ikut terganggu.

Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet Diabetes & Endocrinology, gangguan ovulasi merupakan salah satu penyebab utama amenore sekunder, yaitu kondisi ketika menstruasi berhenti pada perempuan yang sebelumnya memiliki siklus normal.

3. Stres dan perubahan gaya hidup memengaruhi hormon tubuh

ilustrasi menstruasi
Pexels/polina-zimmerman

Tidak hanya faktor biologis, kondisi psikologis dan gaya hidup juga dapat memengaruhi siklus menstruasi. Stres, perubahan pola olahraga, hingga perubahan berat badan dapat mengganggu keseimbangan hormon yang mengatur menstruasi.

“Misalnya awalnya olahraga lalu tidak, itu bisa memengaruhi siklus menstruasi,” jelas dr. Elisia.

Penelitian dalam jurnal Endocrine Reviews menyebutkan bahwa stres dapat memengaruhi hormon di otak yang mengontrol ovulasi. Kondisi ini dikenal sebagai functional hypothalamic amenorrhea, yaitu berhentinya menstruasi akibat gangguan sinyal hormon dari otak.

Namun, dr. Elisia menjelaskan bahwa keterlambatan haid selama 1–2 bulan masih bisa terjadi karena stres atau perubahan gaya hidup.

“Kalau ada masalah haid 1–2 bulan bisa jadi karena stres atau gaya hidup. Tapi kalau sampai 3 bulan, itu harus diperiksa,” tambahnya.

Karena itu, menjaga keseimbangan hormon melalui pola hidup sehat, mengelola stres, serta memerhatikan perubahan pada tubuh menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan reproduksi.

Kapan Harus ke Dokter?

Ilustrasi menstruasi
Freepik

Tidak menstruasi selama beberapa bulan berturut-turut atau sebaliknya, menstruasi 3 bulan atau lebih berturut-turut sebaiknya tidak diabaikan.

Jika mengalami kondisi tersebut, pemeriksaan ke dokter penting dilakukan untuk mengetahui penyebabnya dan mendapatkan penanganan yang tepat.

Itulah dia pembahasan mengenai sering telat haid. Semoga bermanfaat ya, Ma!

POPMAMA TALK Maret 2026 - dr. Elisia Atnil, Sp. O.G, FICS
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi dari RS Pondok Indah - Puri Indah

Senior Editor - Novy Agrina    
Editor - Onic Metheany & Denisa Permataningtias   
Content Writer - Putri Syifa Nurfadilah & Sania Chandra Nurfitriana    
Script - Sania Chandra Nurfitriana    
Social Media - Irma Erdiyanti  
Photographer - Hari Firmanto  
Videographer - Hari Firmanto  
Video Editor - Hari Firmanto
Design - Aristika Medinasari

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Denisa Permataningtias
EditorDenisa Permataningtias
Follow Us

Latest in Life

See More