Review Film Esok Tanpa Ibu, Keterlibatan AI dalam Hubungan Keluarga

- Hubungan antara anak dan papa yang tak dekat terasa relate.
- Tiap karakter dalam film Esok Tanpa Ibu memiliki keunggulan masing-masing, tapi ada sesuatu yang belum dijelaskan secara rinci di film.
- Kehadiran alat teknologi canggih yang tak biasa hadir di film keluarga.
Layar kaca Indonesia baru-baru ini menghadirkan film keluarga yang dapat menyentuh hati siapa pun bagi yang menonton. Film yang bertajuk Esok Tanpa Ibu ini mengisahkan tentang dinamika hubungan antara seorang anak dan papa serta rasanya kehilangan sosok yang amat disayangi.
Alih-alih menjual adegan sedih yang dibuat-buat, ceritanya justru mengalir tenang namun tetap berhasil membuat seseorang ikut mendalami perasaan tiap karakternya. Jika bisa dibilang, film ini cocok dijadikan tontonan bagi setiap keluarga.
Cerita dari film ini juga dibungkus dengan menarik karena ada teknologi canggih yang membuat dinamika hubungan antara anak dan papa itu malah semakin rumit. Kira-kira seperti apa, ya? Berikut Popmama.com akan membagikan review film Esok Tanpa Ibu secara detail.
Sinopsis Film Esok Tanpa Ibu (2026)
Film Esok Tanpa Ibu mengisahkan seorang anak remaja bernama Rama atau Cimot (Ali Fikry) yang hubungannya terasa ada kerenggangan papanya, Hendi (Ringgo Agus Rahman). Namun, ia hanya dekat dengan mamanya, Laras (Dian Sastrowardoyo).
Suatu ketika, Cimot dan Hendi harus menghadapi situasi sulit ketika Laras jatuh koma. Saat mulai terpuruk, Cimot menemukan bantuan tak terduga dalam i-BU, sebuah AI ciptaan temannya yang membuat Rama bisa melihat wajah, suara, dan bahkan menjadikan AI tersebut alat bantu untuk merangsang kerja otak Laras.
Bisakah Rama mengobati kesepian dan menyembuhkan Laras lewat bantuan AI?
| Producer | Dian Sastrowardoyo, Shanty Harmayn, Aoura Lovenson Chandra, Tanya Yuson, Winnie Lau |
| Writer | Gina S. Noer, Diva Apresya, Melarissa Sjarief |
| Age Rating | 13+ |
| Genre | Drama, Cerita Fiksi |
| Duration | 107 Minutes |
| Release Date | 22-01-2026 |
| Theme | Mother, artificial intelligence (a.i.), coma, technology, father, teenage boy, teenager, life, watch |
| Production House | BASE Entertainment, Beacon Film, Refinery Media, DaSun Pictures, PK Films |
| Where to Watch | Bioskop |
| Cast | Ali Fikry, Ringgo Agus Rahman, Dian Sastrowardoyo, Aisha Nurra Datau, Bima Sena |
Trailer Esok Tanpa Ibu (2026)
Cuplikan Esok Tanpa Ibu (2026)
1. Hubungan antara anak dan papa yang tak dekat terasa relate

Film Esok Tanpa Ibu ini menghadirkan film keluarga yang mungkin relate bagi sebagian penonton yang tak punya cukup kedekatan dengan seorang papa. Dikisahkan bahwa sang anak, Rama atau Cimot, memiliki hubungan yang berjarak dengan dengan papanya, Hendi.
Walau tinggal di satu atap rumah, Cimot tak pernah mengungkapkan isi hatinya ke sang papa. Bukan tanpa alasan, Cimot sebagai anak merasa kalau papanya itu selalu menghakimi pendapat atau apa pun yang dilakukan olehnya.
Berbeda dengan sang mama, Laras, hubungannya dengan Cimot begitu dekat. Bahkan, Cimot tak sungkan untuk menceritakan segala hal yang dialaminya kepada Laras. Hal ini dikarenakan sosok Laras sebagai mama bisa mendengarkan serta memvalidasi perasaan yang dialami Cimot, sehingga bisa membuat Cimot merasa aman dan tak takut untuk membagikan pengalamannya ke Laras.
Hal ini menunjukkan bahwa tiap karakternya bisa dirasakan, bahkan relate bagi setiap anak yang memiliki dinamika hubungan dengan papanya. Itulah mengapa setiap anak yang tidak dekat dengan papanya, lebih memilih dekat dengan mamanya karena percaya bisa memvalidasi perasaannya.
Bukan hanya anak, mungkin bagi para kepala rumah yang menonton film ini juga bisa ikut merasakan karakter Hendi di film Esok Tanpa Ibu. Di mana sebagai figur papa sering kali sulit mengekspresikan kalimat nasihat atau kasih sayang, sehingga apa yang didengar oleh anak malah menjadi kalimat menghakimi.
2. Tiap karakternya memiliki keunggulan masing-masing

Para pemain di film Esok Tanpa Ibu juga benar-benar menunjukkan karakternya, sehingga tampak natural dan nyata, seperti karakter Laras yang diperankan Dian Sastrowardoyo. Karakter yang diperankannya itu betul-betul menampilkan sosok mama yang selalu hadir untuk anaknya.
Bukan sekadar hadir, tetapi juga menjadi pendengar yang baik bagi anak. Chemistry yang dibangun Dian Sastrowardoyo dengan Ali Fikry juga terasa begitu dekat.
Kemudian, ada Ringgo Agus Rahman yang berhasil memerankan karakter Hendi sebagai sosok papa di film itu. Momen canggung serta perdebatannya dengan Ali Fikry yang menjadi Cimot itu seolah-olah mirip dengan kerenggangan hubungan antara anak dan papa di dunia nyata. Memang tak bisa dipungkiri, sosok Ringgo sebagai seorang papa memang pas untuk dirinya.
Terakhir, Ali yang memerankan karakter Cimot, anak remaja yang sedang tumbuh dan mengalami banyak proses itu juga tak kalah unggul dari para pemain senior lainnya. Ali yang berperan sebagai anak usia remaja berhasil menunjukkan layaknya ABG pada umumnya, di mana kebanyakan dari anak usia tersebut mengalami lonjakan emosi dan masih labil.
Perannya di film yang kehilangan sosok mama sekaligus teman pendengar, Ali berhasil mengeksekusi letupan emosi yang dirasakannya tanpa terasa berlebihan kepada Ringgo sebagai lawan mainnya. Lewat dialognya, aktor muda ini juga mampu memberikan gestur tubuh serta ekspresi wajah yang pas, terutama ketika dirinya sedang merasa terpuruk akibat kehilangan orang yang disayanginya.
Dinamika emosi yang dimainkan Ali ini terasa naik-turun. Rasanya, Ali benar-benar berhasil menghidupkan potret nyata remaja yang sedang berjuang mencari pegangan di tengah badai duka yang menghantam keluarganya.
Kemudian, cara Ali melempar beberapa dialog ke Ringgo sebagai Hendi ada yang terdengar ketus, bahkan sikapnya yang tidak peduli dengan kehadiran Hendi di rumah membuat karakter Cimot betul-betul hidup dalam dirinya.
Walau di kehidupan nyata, hubungan Ali dan Ringgo terlihat bagaikan seorang anak dan papa, tapi di film berkata lain. Chemistry yang dibangun keduanya di dalam film terasa begitu canggung dan renggang, sehingga sulit untuk mengatakan kalau mereka mungkin akan bisa dekat satu sama lain.
3. Ada sesuatu yang belum dijelaskan secara rinci di film

Walau filmnya terasa bagus dan mampu meneteskan air mata, sayangnya terdapat detail yang kurang rinci dalam film ini. Sebelumnya, Hendi, Laras, dan Cimot tinggal di kawasan perkotaan Jakarta dan kemudian mereka pindah rumah ke kawasan pedesaan, tepatnya di daerah Cendana.
Namun, penjelasan terkait alasan mereka pindah ke kota tersebut masih kurang jelas. Walau begitu, Hendi sempat mengatakan kalau mereka pindah itu untuk Cimot. Terlebih, di sana Hendi bekerja sebagai arsitektur dan memang sedang membangun suatu bangunan.
Alasan mereka pindah rumah juga yang menjadi akibat hubungan antara Rama dengan Hendi menjadi renggang. Padahal, sebelumnya mereka terlihat dekat, bahkan sempat bermain basket bersama.
4. Kehadiran alat teknologi canggih yang tak biasa hadir di film keluarga

Berbeda dengan film keluarga pada umumnya, film Esok Tanpa Ibu menghadirkan sci-fi di dalamnya. Alih-alih hanya mengandalkan akting emosional para pemainnya, film ini juga menyelipkan teknologi AI yang sudah dikenal di zaman ini.
Walau di zaman sekarang teknologi AI sudah ada di dunia nyata, film ini menggambarkan peradaban teknologi AI yang sudah lebih maju dibandingkan di zaman sekarang, seperti hadirnya AI bernama i-BU.
Bahkan, beberapa teknologi canggih di dalam rumah Cimot pun tak kalah menarik, seperti bagaimana orang rumah mengangkat telepon, kulkasnya bisa menampilkan video, hingga meja kerja Hendi yang bisa langsung terhubung ke layar. Kondisi rumahnya seperti menampilkan smart home di masa depan.
Namun, teknologi tersebut juga menimbulkan rasa keresahan. Seperti, sosok Laras yang telah meninggal dunia kemudian digantikan dengan i-BU, sehingga renggangnya hubungan antara Cimot dan Hendi semakin melebar.
Dampak negatifnya lagi, Cimot lebih memilih berinteraksi sosial dengan teknologi AI dibandingkan dengan orang-orang yang memang nyata di kehidupan serta lebih mendengarkan saran AI dibanding saran Laras terkait penggunaan suplemen.
Bukannya memberikan pengaruh yang baik, justru malah menjadi bumerang. Hal ini menunjukkan bahwa tak semua teknologi canggih, seperti AI, mampu memberikan dampak positif bagi para pengguna, terutama untuk anak.
Hal ini juga terasa kian relevan dengan pesatnya perkembangan AI saat ini, di mana dampaknya bukan hanya positif, tapi juga negatif.
Itulah review film Esok Tanpa Ibu. Apabila makin penasaran dengan kisah filmnya, Mama dan Papa bisa mengajak anak untuk menonton film ini di bioskop terdekat, ya.


-FxHfQhwCfmYdAhsfbImbNrKpIbDkxt7y.jpg)















