Air Putih
Air putih rasanya frasa yang kurang tepat
Mengingat warnanya tidak putih, melainkan bening
Seperti sifat egois juga kurang tepat, menuntut apa yang langit sudah tentukan
Untuk mencintai dalam hening
Hati berat setiap harinya, secara sadar kalian semua meringankan
Seiring waktu dan sikap yang masih berjalan dengan sungkan
Dia melihat, dia tersenyum, dengan air putih di botol kita semua yang tak sama ukurannya
Terima kasih
Hanya itu yang ego saya bisa berikan sebagai ganti dari apa yang kalian terima
Seperti apa yang saya terima dari dia dan kalian dalam bentuk kasih
Oh ya, katanya dia, jangan lupa minum air putih
Reza Arap Buat Puisi untuk Lula Lahfah di Marapthon Sambil Menangis

- Mengupas metafora "Air Putih" sebagai simbol hubungan yang transparan dan apa adanya, bukan sekadar label sempurna yang dipaksakan.
- Puisi ini menyoroti keberanian Reza Arap mengakui kerapuhannya di depan publik sebagai bentuk apresiasi tertinggi atas kasih sayang yang ia terima dari orang-orang terdekat.
- Memahami bahwa setiap orang mencintai dengan cara dan "ukuran botol" yang berbeda, namun perhatian sekecil pengingat "minum air" adalah penyelamat jiwa yang sedang lelah.
Ada sebuah kejujuran yang menyesakkan saat melihat seseorang yang biasanya tampil tangguh, tiba-tiba runtuh setelah ditinggal orang terkasih. Hal itu ditunjukkan Reza ‘Arap’ Oktovian saat salah satu sesi Marapthon pada Minggu (15/2/2026).
Reza Arap dalam sesi itu bersama teman-temannya membacakan puisi yang mereka buat. Namun, ia tidak sekadar membacakan baris-baris kalimat karena puisi itu seolah sedang menelanjangi egonya.
Dengan suara yang bergetar dan aliran air mata yang tak mampu dibendung, ia mempersembahkan sebuah puisi untuk kekasihnya yang sudah meninggal, Lula Lahfah. Dalam puisinya Reza menekankan secara konsisten bahwa Lula menjadi "pengingat" di tengah badai hidupnya.
Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya.
Isi Puisi Reza Arap untuk Lula Lahfah

Makna Puisi Reza Arap untuk Lula Lahfah
1. Tentang kejujuran yang sering disalahartikan

Reza Arap membuka puisinya dengan sebuah kalimat: Air putih itu sebenarnya bening, bukan putih.
Lewat analogi ini, Arap bercermin pada dirinya sendiri dan hubungannya dengan orang-orang sekitar. Seringkali dalam sebuah hubungan, kita terlalu sibuk mencari kesempurnaan, hingga kita lupa menghargai kejujuran yang bening dan apa adanya.
Ini memperlihatkan segala retak dan luka tanpa ditutup-tutupi. Di hadapan Lula, Arap merasa tidak perlu menjadi putih yang suci karena ia cukup menjadi bening, agar segala rapuhnya bisa terlihat dan diterima.
2. Melawan ego yang menuntut takdir

Mencintai dalam hening adalah sebuah perjuangan melawan diri sendiri. Reza Arap mengakui betapa beratnya rasa egois yang menuntut dunia berjalan sesuai keinginannya, menuntut apa yang sebenarnya sudah ditentukan oleh langit.
Dari puisi ini ia seolah masih mencoba ikhlas bahwa Lula Lahfah sudah tidak ada. Egonya mengatakan tidak mau menerima takdir, tetapi nasib berkata lain.
Reza hanya bisa mengenang memori dan kehadiran Lula yang tulus, ia belajar bahwa cinta tidak selamanya harus tentang memiliki atau perayaan yang megah. Kadang, cinta adalah tentang menelan ego dalam diam dan membiarkan diri kita diringankan oleh kehadiran orang lain.
3. Botol yang tak sama ukurannya, isinya tetap kasih

Baris yang paling menyayat hati hingga membuat Reza Arap tak tahan menangis adalah ketika ia menyebut tentang air putih dalam botol yang tak sama ukurannya. Ini adalah pengakuan bahwa setiap manusia memiliki kapasitas yang berbeda dalam memberi dan menerima kasih sayang.
Mungkin Lula memberinya perhatian lewat pesan singkat "jangan lupa minum air putih”, sebuah hal sepele tetapi juga terkenang untuk Arap. Ia menyadari bahwa meski kapasitas botol emosi setiap orang berbeda, esensinya tetap sama: sebuah upaya untuk menjaga satu sama lain agar tetap bertahan hidup.
Di balik botol-botol itu, ada senyuman tulus yang menjadi alasan baginya untuk tetap melangkah. Di mana kita Reza Arap berusaha menjalani itu sebisanya tanpa Lula Lahfah.


















