Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

BPS: Angka Kelahiran Bayi di Indonesia Menurun Drastis Selama 20 Tahun

BPS: Angka Kelahiran Bayi di Indonesia Menurun Drastis Selama 20 Tahun
Pexels.com/Vidal Balielo Jr.)
Intinya Sih
  • BPS mencatat rata-rata jumlah anak yang dilahirkan perempuan Indonesia menurun drastis selama 20 tahun terakhir.
  • Penurunan terlihat pada total fertility rate atau TFR, yang menggambarkan rata-rata jumlah kelahiran per perempuan.
  • Program KB dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan disebut sebagai faktor yang memengaruhi penurunan angka kelahiran.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa rata-rata jumlah anak yang dilahirkan di Indonesia menurun tajam dalam 20 tahun terakhir. Salah satunya adalah karena dampak dari KB dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. 

BPS mencatat total fertility rate (TFR) atau rata-rata jumlah anak yang dilahirkan setiap perempuan Indonesia selama 20 tahun belakangan ini menurun drastis. Rata-rata tersebut kurang dari setengah angka rata-rata pada 20 tahun belakangan. 

Apa penyebabnya? Popmama.com akan merangkumkannya untuk Mama. 


1. Ada di angka rata-rata, 2,13 anak per perempuan

Pixabay.com/newborn baby
Pixabay.com/newborn baby

Wakil Kepala BPS Sonny Harry Budiutomo mengungkapkan, hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 menunjukkan TFR Indonesia kini mencapai 2,13 anak per perempuan usia reproduksi 15 sampai 49 tahun. 

Angka tersebut lebih rendah dibanding pada awal tahun 1970-an yang mencapai 5,6 anak per perempuan. 

3. Efek keberhasilan dari program KB

Pexels/Katerina Kolomina
Pexels/Katerina Kolomina

Program Keluarga Berencana yang mencanangkan dua anak cukup dimulai pada tahun 1970 untuk menekan angka kelahiran di Indonesia. Ternyata, efeknya baru bisa dirasakan 20 tahun kemudian. 

"Program keluarga berencana tidak langsung memberikan hasil ketika diluncurkan pada 1970 karena membutuhkan proses perubahan perilaku di masyarakat," ujar Sonny. 

Menurutnya, dampaknya baru benar-benar terasa pada tahun 1990-an, ketika angka kelahiran mulai menurun. 


4. Kualitas pelayanan kesehatan meningkat, angka kelahiran anak menurun

Unsplash.com/Daniel McGuire
Unsplash.com/Daniel McGuire

Lebih lanjut, Sonny mengatakan kalau peningkatan kualitas layanan kesehatan memengaruhi penurunan angka kelahiran. Karena pada masa lalu, banyak keluarga memilih punya banyak anak karena tingginya angka kematian bayi

Menurut Sonny, kondisi saat ini sudah berbeda. Ada akses ke layanan kesehatan yang lebih mudah, pemeriksaan kehamilan yang komprehensif, serta pelayanan ibu dan anak jauh lebih baik sampai ke tingkat desa. 

Karena tingkat kelangsungan hidup anak makin tinggi, masyarakat merasa dua anak cukup dan tidak lagi merasa perlu memiliki banyak anak seperti generasi sebelumnya. 

5. Tapi kenapa jumlah penduduk Indonesia tetap bertambah?

Unsplash.com/Raymond Yeung
Unsplash.com/Raymond Yeung

Meski angka kelahiran terus menurun, namun jumlah penduduk Indonesia tetap bertambah. Hal ini ternyata dipengaruhi dengan fenomena population momentum, yaitu besarnya kelompok penduduk yang memasuki usia reproduksi secara bersamaan. 

Pada generasi yang lahir setelah 1990, mereka, menurut Sonny, lebih mempertahankan pola keluarga kecil karena nilai-nilai program KB telah mengakar di masyarakat. 

 

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More