Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

AIMI Sebut Tantangan Busui yang Bekerja, Respons Negatif Hingga Demosi

AIMI Sebut Tantangan Busui yang Bekerja, Respons Negatif Hingga Demosi
Unsplash.com
Intinya Sih
  • AIMI menyoroti tantangan ibu menyusui di tempat kerja, termasuk ruang laktasi yang jauh dan waktu pumping yang terbatas.
  • Lingkungan kerja yang tidak suportif masih menjadi hambatan bagi pekerja perempuan yang sedang menyusui.
  • Ibu menyusui juga menghadapi risiko mutasi dan demosi, sehingga dukungan perusahaan perlu mencakup keamanan karier.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Dukungan perusahaan untuk ibu menyusui tak hanya menyediakan ruang menyusui, tapi juga stabilitas dan keamanan karier. AIMI menjabarkan mengenai apa saja tantangan para ibu menyusui di kantor. 

Dalam Konferensi Pers Pekan Menyusui Dunia (PMD) 2026, Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)  bertema "Perkuat yang Sudah Berjalan, Bersama AIMI Mewujudkan Keberlanjutan Menyusui" yang diselenggarakan secara daring pada Rabu, 29 Juli 2026 yang dihadiri ⁠Nia Umar, Ketua Umum AIMI Pusat dan Gina Sabrina, Divisi Advokasi AIMI Pusat mengungkapkan ada sejumlah tantangan yang sampai sekarang masih dihadapi ibu menyusui di lingkungan kerja.

Beberapa di antaranya seperti ruang laktasi yang terlalu jauh, waktu pumping yang terbatas, respon lingkungan kerja yang tidak suportif, sampai ancaman mutasi dan demosi. 

Sebenarnya, bagaimana dukungan pemerintah dan perusahaan dalam melindungi pekerja perempuan? Popmama.com akan menjabarkannya untuk Mama. 

1. Kehadiran ruang laktasi yang layak

Kehadiran ruang laktasi yang layak
Spn.or.id

Salah satu syarat yang harus dipenuhi sebuah perusahaan adalah ketersediaan ruang laktasi. Hal itu sudah dimiliki hampir seluruh perusahaan. Namun yang jadi masalah adalah posisinya. 

Sering kali, ruang laktasi ini memiliki beberapa masalah seperti ruang yang belum memenuhi standar, hingga lokasi yang jauh sehingga tidak efisien untuk para pekerja busui. 

3. Lokasi ruang laktasi yang jauh

Wikimedia.org/US Department of Labor
ilustrasi ruang laktasi (wikimedia.org/US Department of Labor)

Pada perusahaan skala kecil, ruang laktasi bisa dijangkau dengan lift atau tangga. Namun pada lingkungan kerja yang lebih luas, seperti pabrik, ruang laktasi bisa jadi sangat jauh. 

Divisi Advokasi AIMI Pusat, Gina Sabrina, yang akrab disapa Monik, memberi contoh pada pekerja perempuan di pabrik. Menurutnya, pekerja perempuan di pabrik sepatu, tekstil, atau garmen bisa membutuhkan waktu sekitar 10 hingga 12 menit hanya untuk berjalan dari area kerja menuju ruang laktasi. 

Dengan waktu istirahat yang terbatas, jarak yang jauh itu bisa mengurangi durasi ibu untuk memerah ASI. 

4. Respons negatif dari kolega

Respons dari kolega
Canva.com/charliepix

Ibu yang baru selesai cuti melahirkan membutuhkan penyesuaian dengan ritme kerja. Seperti contoh, mereka harus memerah ASI secara berkala, terutama saat awal masuk kantor. Namun tantangannya adalah, tidak selalu tersedia waktu yang cukup di tempat kerja. 

Pada akhirnya, sang Ibu harus pumping sambil bekerja. Sayangnya, respons kolega kantor tidak selamanya positif. 

"Jadi kadang mereka menyusui atau sambil memerah ASI, tetapi kemudian respon lingkungan kerja itu tidak suportif," kata Monik dalam konferensi pers AIMI dalam rangka Pekan Menyusui Dunia 2026 secara daring. 

5. Sampai ancaman demosi (penurunan jenjang karir)

Ancaman demosi
Pexels.com/Mikhail Nilov

Selain masalah fasilitas, AIMI juga mendapat konsultasi mengenai ibu menyusui yang menghadapi masalah dalam kariernya.

Ibu tersebut bekerja di salah satu BUMN besar. Saat mendapati masalah dalam perjalanan menyusui, ibu tersebut membutuhkan izin tertentu untuk menyelesaikan masalah menyusui. 

Namun sayangnya, kondisi ini dikaitkan dengan ancaman mutasi, demosi, hingga tidak mendapatkan promosi jabatan. 

"Kadang izin, itu sudah siap demosi, mau dimutasi atau demosi, enggak naik, enggak dapat promosi jabatan. Itu sebenarnya yang jadi masalah," tutur Monik. 

Menurut AIMI, kondisi-kondisi seperti di atas menunjukkan kalau masih terdapat banyak tantangan dalam penerapan dukungan terhadap ibu menyusui di tempat kerja. Dukungan ini memerlukan peran besar dari pemerintah. 

"Pemerintah penting mengeluarkan regulasi, aturan-aturannya untuk perlindungan ibu menyusui," tutup Ketua Umum AIMI Pusat, Nia Umar dalam kesempatan yang sama. 

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More