Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

Cara Tahu Masa Subur setelah Melahirkan, Cek Tandanya yuk, Ma!

Cara Tahu Masa Subur setelah Melahirkan, Cek Tandanya yuk, Ma!
Popmama.com/Nadya Julyanti/AI
Intinya Sih

  • Artikel menjelaskan pentingnya mengenali masa subur setelah melahirkan agar Mama bisa merencanakan kehamilan dengan lebih bijak, terutama karena perubahan hormon dan pola menyusui memengaruhi kesuburan.
  • Dijabarkan delapan cara mendeteksi masa subur pasca persalinan, mulai dari metode amenore laktasi, pengamatan lendir serviks, penggunaan alat uji ovulasi, hingga pencatatan suhu basal tubuh.
  • Tanda fisik seperti nyeri ovulasi, perubahan posisi serviks, lonjakan gairah seksual, dan sensitivitas payudara disebut sebagai sinyal alami bahwa tubuh Mama mulai kembali subur.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Masa-masa setelah melahirkan memang penuh kebahagiaan, ya, Ma. Tapi pasti mulai muncul setumpuk pertanyaan di kepala Mama, ya. Mulai dari urusan popok, popa tidur yang berantakan, sampai urusan "kapan ya siklus tubuhku balik normal lagi?". Apalagi buat Mama yang ingin merencanakan jarak kehamilan atau justru ingin menundanya, memahami sinyal tubuh sendiri itu penting banget, lho, Ma.

Banyak yang bilang kalau menyusui bisa jadi KB alami, tetapi jangan sampai "kecolongan" karena kurang paham tandanya ya, Ma. Tubuh Mama ini hebat banget dalam memberikan sinyal, tapi setelah melahirkan, sinyalnya sering kali tertutup oleh rasa lelah dan perubahan hormon Mama yang drastis. Maka dari itu, Mama perlu menjadi "detektif" bagi tubuh sendiri agar dapat mendeteksi kapan jendela kesuburan itu terbuka kembali.

Nah, mengenali masa subur bukan cuma soal hitung-hitungan kalender saja lho, Ma. Kondisi hormon setiap Mama setelah bersalin itu unik, ada yang cepat kembali subur dalam hitungan bulan, tapi ada juga yang butuh waktu lebih lama terutama jika memberikan ASI eksklusif. Jadi, tanpa pemahaman yang tepat, Mama mungkin saja melewatkan ovulasi pertama yang terjadi bahkan sebelum menstruasi pertama muncul kembali.

Biar Mama nggak bingung lagi dan bisa lebih "pede" mengatur rencana keluarga, berikut Popmama.com bahas tuntas cara mengetahui masa subur setelah melahirkan, Ma. Simak langkah-langkahnya di bawah ini ya, Ma!

Table of Content

1. Memantau status metode amenore laktasi (MAL)

1. Memantau status metode amenore laktasi (MAL)

Cara Tahu Masa Subur setelah Melahirkan, Cek Tandanya yuk, Ma! 6.jpg
Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Cara mengetahui masa subur setelah melahirkan yang paling mendasar bagi ibu baru adalah dengan mengevaluasi apakah Mama masih dalam kondisi Metode Amenore Laktasi (MAL). Secara harfiah, Amenore berarti tidak menstruasi, dan Laktasi berarti menyusui. Menurut World Health Organization (WHO), Mama dianggap masih dalam masa tidak subur alami jika memenuhi tiga syarat mutlak yaitu, bayi di bawah 6 bulan, Mama belum haid kembali, dan menyusui eksklusif.

Berdasarkan data dari The Academy of Breastfeeding Medicine, efektivitas MAL dalam menunda kesuburan mencapai 98%, lho, Ma. Nah, cara mengetahuinya sangat sederhana, Mama cukup memantau apakah ada bercak darah yang muncul setelah masa nifas selesai. Jika ada spotting atau darah meskipun sedikit, itu merupakan tanda bahwa sistem reproduksi Mama sudah mulai "bangun" kembali dan MAL sudah tidak lagi efektif.

Penelitian dalam Journal of Midwifery & Women's Health juga menekankan bahwa frekuensi menyusui sangat menentukan. Apabila Mama memberikan jeda menyusui lebih dari 6 jam di malam hari, hormon prolaktinnya akan menurun secara signifikan. Penurunan hormon ini merupakan lampu hijau bagi tubuh untuk mulai mempersiapkan ovulasi kembali, meskipun Mama mungkin belum menyadarinya secara fisik.

Jadi, memantau rutinitas menyusui adalah cara tahu paling awal apakah "benteng" alami Mama masih kuat atau tidak. Nah, begitu Mama mulai memberikan MPASI atau si Kecil mulai jarang menyusu langsung pada puting, Mama harus segera waspada. Di titik inilah Mama perlu mulai memperhatikan tanda-tanda fisik lainnya karena masa subur bisa datang kapan saja tanpa permisi, Ma.

2. Mengamati tekstur lendir serviks (cervical mucus)

Cara Tahu Masa Subur setelah Melahirkan, Cek Tandanya yuk, Ma! 7.jpg
Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Secara biologis, cara untuk tahu Mama sudah subur kembali adalah dengan mengecek lendir serviks. Mama mungkin akan merasa area kewanitaan cenderung kering setelah masa nifas selesai. Nah, hal ini disebabkan oleh kadar estrogen yang masih rendah, Ma. Tetapi, saat mendekati masa subur, tubuh Mama akan memproduksi cairan yang berfungsi memudahkan perjalanan sperma menuju sel telur.

Ciri khas masa subur adalah lendir yang teksturnya bening, licin, dan elastis seperti putih telur mentah (Egg White Cervical Mucus). Jika Mama menemukan cairan jenis ini saat menyeka setelah buang air kecil, itu tandanya ovulasi sudah sangat dekat, ya, Ma. Cairan ini sangat kaya akan nutrisi untuk menjaga sperma tetap hidup di dalam rahim selama 3 hingga 5 hari ke depan.

Berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam jurnal Human Reproduction, pengamatan lendir serviks memiliki tingkat akurasi yang tinggi jika dilakukan dengan telaten. Mama juga disarankan untuk mengeceknya setiap hari di waktu yang sama, misalnya saat mandi pagi. Jika lendir masih keruh, kental, atau lengket, biasanya itu menandakan Mama masih berada di fase tidak subur atau fase transisi.

Memang awalnya terasa sedikit repot ya, Ma, harus sering-sering mengecek area kewanitaan sendiri. Tapi, ini merupakan sinyal biologis yang paling jujur yang diberikan oleh tubuh Mama pasca bersalin. Dengan mengenali perubahan tekstur ini, Mama bisa tahu kapan harus lebih waspada saat berhubungan intim dengan Papa agar tidak terjadi kehamilan yang tidak direncanakan.

3. Menggunakan alat uji ovulasi atau OPK

Cara Tahu Masa Subur setelah Melahirkan, Cek Tandanya yuk, Ma! 8.jpg
Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Nah, cara tahu kesuburan Mama setelah melahirkan yang lebih praktis dan memberikan hasil visual pasti, Ovulation Predictor Kit (OPK) adalah solusinya. Alat ini bekerja dengan mendeteksi lonjakan Luteinizing Hormone (LH) dalam urin Mama. Berdasarkan studi yang diterbitkan oleh American Society for Reproductive Medicine (ASRM), peninhkatan LH terjadi sekitar 24 hingga 48 jam sebelum sel telur dilepaskan.

Penelitian dalam jurnal Fertility and Sterility juga menunjukkan bahwa OPK memiliki tingkat akurasi hingga 99% dalam mendeteksi lonjakan hormon tersebut dalam kondisi laboratorium, Ma. Cara pakainya pun sangat mudah, Ma, mirip dengan test pack kehamilan. Jadi, kalau muncul dua garis tegas pada alat tes, artinya tubuh Mama sedang berada di puncak masa subur dan ovulasi akan segera terjadi.

Bagi Mama yang baru melahirkan, penggunaan OPK sangat membantu untuk mendeteksi ovulasi pertama yang seringkali terjadi tanpa peringatan menstruasi sebelumnya. Hal ini terjadi karena siklus hormon pasca persalinan cenderung belum stabil. Nah, alat ini memberikan kepastian yang lebih kuat dibandingkan hanya sekadar menebak-nebak. Mama jadi tidak perlu galau lagi memikirkan kapan waktu subur itu datang.

Disisi lain, data dari Food and Drug Administration (FDA) juga menyebutkan bahwa tes ini paling efektif jika dilakukan pada siang atau sore hari, bukan urin pertama Mama di pagi hari. Dengan mengetahui kapan lonjakan LH terjadi melalui alat ini, Mama bisa mendapatkan bukti fisik yang nyata. Ini sangat membantu Mama yang ingin mengatur jarak kelahiran anak dengan lebih presisi dan terencana.

4. Mencatat suhu basal tubuh (BBT) secara rutin

Cara Tahu Masa Subur setelah Melahirkan, Cek Tandanya yuk, Ma! 4.jpg
Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Suhu Basal Tubuh atau Basal Body Temperature (BBT) merupakan suhu terendah tubuh Mama saat bangun tidur di pagi hari. Secara alami, suhu tubuh Mama akan melonjak sekitar 0,3 hingga 0,5 derajat Celsius, segera setelah ovulasi terjadi. Kenaikan suhu ini dipicu oleh hormon progesteron yang mulai mendominasi tubuh setelah sel telur dilepaskan dari indung telur, Ma.

Nah, biar hasilnya lebih akurat, Mama disarankan menggunakan termometer basal khusus yang memiliki dua angka di belakang koma. Meskipun mungkin melelahkan karena jadwal tidur yang terganggu si Kecil, cobalah mengukur suhu setelah setidaknya 3 jam tidur tanpa terputus, ya, Ma. Jika suhu tetap tinggi selama tiga hari berturut-turut, Mama bisa tahu bahwa ovulasi sebenarnya sudah lewat.

Pakar kesehatan dari Mayo Clinic juga menyebutkan bahwa metode ini sangat efektif untuk mengonfirmasi ovulasi telah terjadi. Dengan mencatat suhu setiap hari dalam sebuah grafik atau aplikasi, Mama bisa melihat pola unik tubuh Mama pasca melahirkan. Data ini sangat membantu Mama memetakan kapan biasanya jendela kesuburan Mama mulai aktif kembali secara teratur.

Metode ini memang membutuhkan konsistensi yang cukup tinggi setiap pagi sebelum Mama melakukan aktivitas apapun, termasuk turun dari tempat tidur. Tetapi, dengan menggabungkan data suhu basal dan pengamatan lendir serviks, Mama akan memiliki gambaran yang sangat lengkap. Jadi, ini merupakan cara cerdas untuk memahami ritme metabolisme tubuh Mama yang baru setelah menjadi ibu.

5. Mengecek perubahan posisi leher rahim (serviks)

Cara Tahu Masa Subur setelah Melahirkan, Cek Tandanya yuk, Ma! 5.jpg
Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Cara mengetahui masa subur setelah melahirkan yang sangat efektif namun jarang diketahui banyak orang adalah dengan mengecek posisi leher rahim secara mandiri. Saat sedang tidak subur, leher rahim atau serviks Mama akan terasa rendah, keras seperti tekstur ujung hidung, dan tertutup rapat. Tetapi, saat masa subur tiba, leher rahim Mama akan bergerak naik ke atas sehingga terasa lebih jauh dan sulit dijangkau.

Kondisi ini dikenal oleh para ahli dengan istilah SHOW (Soft, High, Open, and Wet). Saat subur, leher rahim akan terasa lebih lunak seperti tekstur bibir dan sedikit terbuka, Ma. Menurut panduan dari American Pregnancy Association, terjadinya perubahan fisik ini merupakan respons terhadap peningkatan hormon estrogen untuk memudahkan jalan bagi sperma masuk ke dalam rahim, Mama.

Mama bisa mengeceknya sendiri dengan jari yang sudah dicuci bersih dan pastikan kuku Mama pendek, ya, agar tidak melukai area sensitif. Lakukan dengan posisi yang nyaman, seperti jongkok atau satu kaki di atas kloset, Ma. Kalau Mama merasakan area serviks terasa sangat lembut dan posisinya tinggi, itu tandanya tubuh Mama sedang di masa puncak kesuburan.

Banyak Mama yang merasa cara ini sangat akurat karena bisa merasakan langsung perubahan fisik di dalam tubuhnya. Dengan memantau posisi serviks secara berkala ini, Mama jadi lebih peka terhadap perubahan hormon internal yang tidak kasat mata. Cara tahu ini sangat membantu bagi Mama yang ingin benar-benar "bersahabat" dengan kondisi organ reproduksinya sendiri.

6. Mengenali nyeri ovulasi atau mittelschmerz

Cara Tahu Masa Subur setelah Melahirkan, Cek Tandanya yuk, Ma! 2.jpg
Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Jangan abaikan rasa nyeri atau kram ringan yang tiba-tiba muncul di salah satu sisi perut bawah ya, Ma. Gejala ini disebut Mittelschmerz yang berasal dari bahasa Jerman berarti "nyeri tengah". Menurut penelitian dari Mayo Clinic, nyeri ini dialami oleh sekitar 20% wanita dan merupakan tanda fisik yang nyata bahwa sel telur baru saja dilepaskan dari indung telur.

Rasa nyerinya bisa berupa denyutan tumpul atau kram tajam yang berlangsung singkat, Ma, mulai dari beberapa menit hingga 24 jam. Studi dalam Journal of Reproduction & Infertility juga menjelaskan bahwa nyeri ini terjadi karena adanya iritasi pada lapisan perut, Mama. Iritasi ini terjadi karena cairan atau sedikit darah ikut keluar saat folikel sel telur pecah.

Bagi Mama yang baru melahirkan, sensitivitas area panggul mungkin meningkat, Ma, sehingga gejala ini bisa terasa lebih nyata dibandingkan sebelum hamil. Terkadang, nyeri ini juga disertai dengan sedikit perasaan kembung atau tidak nyaman di area perut bawah, lho. Jadi, kalau Mama merasakannya, itu merupakan "alarm" alami yang memberi tahu bahwa Mama sedang berada di puncak masa subur.

Meskipun tidak semua Mama merasakan Mittelschmerz, bagi yang merasakannya, ini merupakan cara tahu yang sangat praktis tanpa memerlukan alat apapun. Cobalah untuk lebih peka terhadap sinyal "nyut-nyutan" di perut bawah Mama setiap bulannya, ya. Dengan begitu, Mama bisa langsung tahu kapan tubuh sedang dalam kondisi paling siap untuk kembali bereproduksi.

7. Memperhatikan lonjakan gairah seksual (libido)

Cara Tahu Masa Subur setelah Melahirkan, Cek Tandanya yuk, Ma! 3.jpg
Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Mama, tahu nggak sih, perubahan suasana hati dan gairah bisa menjadi cara tahu masa subur yang sangat alami, lho? Secara biologis, saat tubuh Mama mendekati ovulasi, kadar hormon estrogen akan mencapai puncaknya di dalam darah. Berdasarkan riset dari University of Lethbridge, lonjakan hormon ini secara alami akan meningkatkan libido atau gairah seksual Mama.

Nah, ini merupakan mekanisme alami tubuh Mama untuk mendorong terjadinya reproduksi saat sel telur sudah siap dibuahi. Selain gairah yang meningkat, Mama mungkin merasa lebih berenergi, lebih percaya diri, atau bahkan merasa lebih cantik dari biasanya. Jika Mama merasa tiba-tiba ingin lebih manja dan "dekat" dengan Papa, bisa jadi itu juga sinyal kuat dari hormon masa subur Mama.

Selain itu, penelitian yang dimuat dalam jurnal Hormones and Behavior menunjukkan bahwa perempuan dalam fase subur juga cenderung memiliki indra penciuman yang lebih tajam. Mama mungkin jadi lebih sensitif terhadap aroma tubuh Papa atau wangi-wangian tertentu. Hal ini adalah cara tubuh Mama mendeteksi kesiapan biologis untuk bereproduksi kembali.

Memang rasa lelah mengurus si Kecil sering kali menutupi sinyal ini, Ma, tetapi jika Mama mulai merasakan gairah yang muncul secara berpola, jangan abaikan ya. Lonjakan libido yang muncul secara berkala adalah indikator kuat bahwa hormon kesuburan Mama sudah mulai kembali bekerja.

8. Amati sensitivitas pada bagian payudara

Cara Tahu Masa Subur setelah Melahirkan, Cek Tandanya yuk, Ma! 9.jpg
Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Tanda terakhir yang sering menjadi cara tahu masa subur adalah payudara Mama yang terasa lebih sensitif atau sedikit nyeri saat tersentuh. Hal ini disebabkan oleh perubahan kadar hormon setelah sel telur dilepaskan dari indung telur, Ma. Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), sensitivitas ini terjadi karena jaringan payudara bereaksi terhadap hormon progesteron.

Banyak Mama yang sering keliru membedakan nyeri ini dengan tanda akan menstruasi atau efek menyusui. Nah, Ma, perbedaannya nyeri karena masa subur biasanya terasa lebih ringan dan tidak disertai dengan rasa payudara kencang yang penuh ASI. Jadi, jika payudara terasa lebih peka secara tiba-tiba di luar jadwal menyusui si Kecil, itu bisa jadi sinyal kesuburan yang nyata, Ma.

Sensitivitas ini bisa berlangsung selama beberapa hari, selama proses ovulasi berlangsung, ya, Ma. Mama bisa mencatat kapan rasa nyeri ini muncul dalam kalender kesehatan Mama untuk melihat apakah ada pola bulanan yang konsisten. Dengan mengenali tanda kecil ini, Mama jadi punya tambahan data untuk memastikan status kesuburan Mama setiap bulannya.

Mengenali tanda fisik pada payudara ini juga bisa membantu Mama untuk lebih waspada terhadap perubahan hormon yang terjadi di dalam tubuh. Walaupun terlihat sepele, bagi banyak Mama, ini merupakan salah satu cara tahu yang paling mudah dideteksi tanpa memerlukan alat bantu tambahan juga. Jadi, mulai sekarang coba lebih peka dengan perubahan-perubahan kecil pada tubuh Mama ya!

Mengenali kembali tubuh Mama setelah melahirkan memang butuh waktu dan kesabaran ekstra, tapi percayalah Ma, ini merupakan investasi besar untuk kesehatan reproduksi Mama ke depannya. Dengan memahami tanda-tanda masa subur secara detail, Mama nggak hanya bisa merencanakan keluarga dengan lebih bijak, tapi juga jadi lebih "kenal" dengan versi baru diri Mama setelah menjadi seorang Ibu. Semangat terus ya, Ma, dalam menjaga kesehatan dan keharmonisan keluarga!

Gimana nih, Ma, dari kedelapan tanda tadi, ada nggak sih yang diam-diam sudah Mama rasakan tapi sempat Mama cuekin?

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Onic Metheany
EditorOnic Metheany
Follow Us

Related Articles

See More