Hal yang Harus Dilakukan saat Bayi Menggigit Puting Ketika Menyusui

- Bayi sering menggigit puting karena gusi gatal saat tumbuh gigi, rasa bosan di akhir menyusu, atau pelekatan yang kurang tepat sehingga menimbulkan rasa sakit bagi Mama.
- Reaksi tenang, teknik jari kelingking untuk melepas isapan, serta komunikasi tegas dan jeda menyusui membantu bayi memahami batasan tanpa membuatnya trauma.
- Perbaikan posisi pelekatan, pemberian teether dingin, dan menjaga kelancaran aliran ASI menjadi langkah penting mencegah gigitan berulang serta menjaga kenyamanan dan kesehatan payudara Mama.
Mengalami momen si Kecil tiba-tiba menggigit puting saat sedang asyik menyusui memang bisa bikin kaget sekaligus meringis menahan perih ya, Ma.
Pasti ada perasaan bercampur antara keinginan untuk segera melepaskan pelukan ya, Ma, tetapi di sisi lain Mama tidak tega melihat wajah polosnya yang sedang menikmati susu. Situasi ini sering kali membuat Mama merasa trauma atau merasa ragu melanjutkan proses menyusui akibat rasa sakit yang tertinggal di area payudara.
Nah, nggak perlu khawatir ya, Ma, Mama tidak sendirian dalam menghadapi halangan ini.
Banyak Mama lain di luar sana yang juga pernah mengalami stres atau kecemasan terkait drama "gigit-menggigit" ini hingga merasa ingin berhenti.
Padahal, menyusui seharusnya menjadi waktu bonding yang menyenangkan, tenang, dan penuh kasih sayang bagi Mama dan si Kecil. Rasa sakit yang muncul juga kadang-kadang memang dapat mengganggu stabilitas emosi Mama setelah melahirkan.
Umumnya, bayi mulai menggigit puting saat gusi mereka mengalami gatal karena proses tumbuh gigi atau sekadar mengeksplorasi kekuatan rahang mereka, Ma.
Selain itu, bayi juga sering kali menggigit di akhir sesi menyusui ketika mereka merasa sudah kenyang dan mulai bosan, beralih menjadi aktivitas bermain. Memahami alasan di balik perilaku ini sangat penting agar Mama tidak berpikir si Kecil sengaja ingin menyakiti Mama.
Selain itu, Mama juga penting menyadari bahwa bayi belum memiliki pemahaman tentang empati atau kesadaran bahwa tindakan mereka dapat menyebabkan rasa sakit yang signifikan pada Mama.
Mereka berada dalam fase oral, di mana mulut menjadi alat utama untuk memahami dunia di sekelilingnya dan merespons ketidaknyamanan yang dirasakan. Maka dari itu, reaksi yang tenang namun tetap tegas dari Mama sangat diperlukan agar kebiasaan menggigit ini tidak menjadi pola yang menetap.
Berdasarkan studi yang dirilis oleh The Royal Women's Hospital, posisi pelekatan (latching) yang kurang sempurna sering kali menjadi pemicu utama bayi menjepit puting dengan gusinya, Ma.
Penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa saat pelekatan dalam (deep latch) tercapai, lidah bayi secara alami akan menutupi gusi bawahnya, sehingga secara anatomis si Kecil tidak mungkin menggigit puting tanpa menggigit lidahnya sendiri. Jadi, memperbaiki teknik posisi menyusui merupakan kunci perlindungan utama bagi Mama.
Apabila hal ini terus dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, Mama mungkin akan mengalami lecet, luka terbuka, hingga risiko mastitis yang menyakitkan.
Mengetahui langkah antisipasi yang tepat bukan hanya soal kenyamanan sesaat, tapi juga demi menjaga kesehatan payudara Mama secara jangka panjang selama masa menyusui. Kesehatan fisik Mama adalah modal utama agar kualitas pemberian nutrisi tetap terjaga dan si Kecil mendapatkan haknya dengan optimal.
Nah, biar Mama nggak lagi merasa was-was setiap kali jam menyusui tiba, penting nih untuk tahu langkah praktis yang didukung oleh panduan ahli kesehatan.
Yuk, simak langkah-langkah praktis dan efektif yang bisa Mama terapkan untuk mengatasi si Kecil yang hobi menggigit puting. Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya khusus untuk Mama dibawah ini!
Table of Content
1. Tetap tenang dan hindari reaksi spontan yang berlebihan

Saat gigi kecil atau gusi kerasnya menekan puting, reaksi instinktif Mama mungkin berteriak atau menarik bayi dengan cepat karena kaget.
Tetapi, menurut sebuah penelitian yang dimuat dalam jurnal Pediatrics, reaksi yang berlebihan justru dapat memberikan efek negatif bagi psikologi bayi, Ma. Si Kecil mungkin akan merasa takut, atau sebaliknya, ia malah bisa melihat teriakan Mama sebagai tanggapan menarik yang ingin diulang.
Panduan dari La Leche League International juga menyatakan bahwa bayi sering mengulang gigitan karena mereka ingin mendapatkan reaksi dari sang Ibu.
Jadi kalau Mama berteriak dengan nada suara yang tinggi, bayi bisa saja menghubungkan gigitan tersebut dengan "permainan" suara yang seru.
Hal ini mendorong rasa ingin tahu mereka untuk melakukannya lagi di sesi menyusui berikutnya demi melihat "pertunjukan" yang sama.
Sebaiknya, coba tarik napas dalam-dalam Ma, tetap tenang, dan kontrol ekspresi wajah Mama agar tidak terlihat seperti sedang bercanda.
Mengeluarkan puting dari mulut bayi dengan cara yang lembut namun tegas akan lebih efektif dalam menyampaikan bahwasanya tindakannya tidak menyenangkan bagi Mama.
Konsistensi dalam menjaga ketenangan akan membantu si Kecil memahami bahwa menyusui adalah momen untuk nutrisi, bukan saat untuk bermain.
Dengan bersikap tenang, Mama juga dapat memastikan suasana menyusui tetap nyaman dan tidak menakutkan bagi si Kecil yang sangat peka terhadap emosi sekitarnya, lho.
Bayi yang mengalami trauma karena reaksi yang keras dari Ibunya berisiko mengalami nursing strike atau mogok menyusu secara tiba-tiba.
2. Gunakan teknik jari kelingking untuk memecah isapan

Jangan sekali-kali menarik payudara Mama dengan paksa ketika si Kecil masih mengunci rahangnya pada puting, meski rasa sakitnya sangat terasa ya, Ma.
Menarik puting saat tergigit justru bisa memperburuk kerusakan jaringan kulit dan menyebabkan luka pada area puting yang sensitif. Hal Ini bisa menyebabkan perdarahan kecil yang tidak diinginkan pada payudara Mama.
Metode yang paling aman dan direkomendasikan oleh Academy of Breastfeeding Medicine (ABM) adalah dengan menyelipkan jari kelingking ke sudut mulut bayi.
Masukkan jari sampai menyentuh antara gusi atas dan bawahnya, lalu putar sedikit untuk membebaskan vakum atau tekanan isapan.
Dengan cara ini, mulut bayi akan membuka dengan sendirinya tanpa perlu ada gesekan kasar yang bisa melukai jaringan kulit Mama.
Teknik ini juga dianggap sebagai standar terbaik oleh konselor laktasi di seluruh dunia karena memungkinkan Mama untuk mengendalikan situasi tanpa melukai gusi bayi.
Setelah isapan terputus dan rahang bayi terbuka, Mama bisa dengan aman menarik puting dan menjauhkan bayi sebentar. Ini juga memberi kesempatan bagi Mama untuk memeriksa apakah ada luka atau lecet yang membutuhkan perhatian lebih.
Langkah sederhana ini sangat penting untuk menjaga kesehatan jaringan kulit payudara Mama agar tidak terinfeksi bakteri seperti Staphylococcus aureus. Pastikan juga kuku jari kelingking Mama selalu pendek, bersih, dan halus ya, supaya tidak melukai area mukosa mulut si Kecil.
Keamanan jari mama sama pentingnya dengan keamanan mulut Si Kecil selama proses melepas isapan ini berlangsung.
3. Berikan komunikasi verbal dan terapkan "konsekuensi alami"

Meskipun si Kecil belum dapat berbicara, ternyata ia merupakan komunikator yang handal dan sangat peka terhadap perubahan intonasi suara Mama, lho.
Ketika ia menggigit, langsung tatap matanya dengan ekspresi serius dan ucapkan dengan nada rendah namun tegas, “Jangan, sayang, itu menyakitkan Mama.” Komunikasi langsung ini membantu bayi membangun pengertian tentang hubungan antara tindakannya dan perasaan negatif yang dialami Mama.
Setelah memberikan peringatan lisan, Mama disarankan untuk memberikan jeda menyusui sejenak atau menempatkan bayi di tempat tidur yang aman. Tindakan ini merupakan bentuk "konsekuensi alami" yang membantu bayi memahami bahwa menggigit berarti berakhirnya waktu menyusu yang menyenangkan. Biasanya, jeda selama 1 hingga 2 menit sudah cukup memberikan sinyal kepada bayi bahwa ada aturan dalam proses menyusui.
World Health Organization (WHO) dalam panduan Care for Child Development juga menekankan pentingnya pengasuhan yang responsif, di mana Mama merespons sinyal-sinyal bayi dengan cara yang tepat dan mendidik.
Mengajarkan bayi tentang batasan saat menyusui adalah bagian dari stimulasi perkembangan kognitifnya. Dengan secara konsisten memberikan jeda, bayi secara bertahap akan belajar mengendalikan keinginan menggigit agar bisa terus menyusu
Jangan lupa, Ma, untuk memberikan penguatan positif saat si Kecil menyusu dengan baik tanpa menggigit di sesi berikutnya.
Mama juga bisa membelainya dengan lembut atau membisikkan pujian seperti “Anak yang pintar, nyusunya sangat bagus.” Menurut teori psikologi perkembangan, pujian akan lebih efektif dalam membentuk perilaku baik bayi dibandingkan hanya memberikan teguran saat ia membuat kesalahan.
4. Antisipasi gigitan dengan memperhatikan perubahan isapan

Bayi jarang sekali menggigit di awal sesi menyusui saat mereka sedang sangat lapar, karena fokus utama mereka adalah mengisap dan menelan. Gigitan sering kali terjadi di akhir sesi, Ma, ketika perut mereka sudah terisi dan mulai merasa jenuh. Berdasarkan pengamatan klinik laktasi, pada saat ini, posisi lidah bayi umumnya tidak lagi menjulur untuk menutupi gusi bawah.
Mama perlu menjadi pengamat yang teliti terhadap pola isapan bayi selama sesi menyusui.
Perhatikan jika isapannya mulai melambat, seringkali berpaling ke berbagai arah, atau mulai menarik puting dengan mulutnya. Jika Mama melihat tanda-tanda bahwa bayi mulai “iseng” dan kehilangan fokus pada menelan ASI, itu adalah peringatan bahwa mereka mungkin akan segera menggigit.
Sebelum gigitan itu benar-benar terjadi, Mama bisa segera lepaskan isapan bayi dan tawarkan aktivitas alternatif seperti menyendawakan atau bermain dengan bayi.
Bersiap-siap sebelum kejadian lebih baik dibandingkan harus merawat puting yang sudah terluka akibat gigitan “iseng”. Nggak cuma itu, memfokuskan diri pada ritme isapan bayi juga akan membantu Mama menghindari momen yang mengejutkan dan menyakitkan.
Memahami ritme kenyang bayi ternyata juga membantu Mama mewujudkan pengalaman menyusui yang lebih teratur dan minim stres.
Selalu tetap waspada jika bayi mulai tampak melamun tetapi masih menempel pada puting tanpa ada aktivitas menelan ya, Ma.
Kondisi comfort nursing saat bayi sudah kenyang adalah saat yang paling berisiko bagi Mama untuk mengalami gigitan yang tidak terduga.
5. Perbaiki pelekatan (latching) menurut standar laktasi

Secara anatomis, jika bayi melakukan pelekatan yang benar dan dalam (deep latch), ia sebenarnya tidak akan bisa menggigit puting Mama tanpa melukai dirinya sendiri. Hal ini dikarenakan saat menyusu dengan benar, lidah bayi berada di atas gusi bawah. Sebuah studi dalam Journal of Human Lactation menjelaskan bahwa posisi lidah ini berfungsi sebagai bantalan pelindung alami bagi puting Mama selama menyusu.
Mama harus memastikan mulut si Kecil terbuka lebar dan mencakup sebagian besar area areola, terutama bagian bawah. Jika pelekatan terlalu dangkal atau hanya di ujung puting saja, bayi akan merasa aliran ASI kurang maksimal dan secara refleks akan menjepitkan gusinya untuk "memerah" ASI. Inilah yang menjadi penyebab utama munculnya gesekan dan tekanan menyakitkan yang kita rasakan sebagai gigitan.
Penelitian menunjukkan bahwa posisi menyusui yang ergonomis sangat membantu mencapai pelekatan yang optimal dan aman. Jika Mama merasa posisi bayi mulai bergeser—mungkin karena ia semakin besar dan aktif—jangan ragu untuk menyangga tubuhnya dengan bantal agar mulutnya tetap sejajar. Pelekatan yang dalam adalah kunci utama kenyamanan payudara Mama dari risiko luka mekanis akibat gigitan bayi.
Bila Mama merasakan sensasi "terjepit" di tengah sesi, segera lepaskan isapan si Kecil dan ulangi proses pelekatan dari awal. Jangan membiarkan bayi terus menyusu dengan posisi yang salah hanya karena Mama merasa lelah untuk membetulkannya. Pelekatan yang dangkal dalam waktu lama adalah penyebab nomor satu kerusakan saraf puting yang bisa membuat proses menyusui terasa menyiksa.
6. Sediakan teether sebelum memulai sesi menyusui

Salah satu penyebab paling umum bayi menggigit adalah fase pertumbuhan gigi (teething). Berdasarkan data dari American Academy of Pediatrics (AAP), pertumbuhan gigi menyebabkan gusi bayi membengkak dan terasa gatal. Bayi menggigit puting Mama sering kali bukan karena nakal, melainkan karena mencari tekanan yang bisa meredakan rasa tidak nyaman di gusinya tersebut.
Sebagai solusi, Mama bisa memberikan mainan gigi (teether) yang sudah didinginkan di dalam lemari es sebelum sesi menyusui dimulai. Rasa dingin dari teether memberikan efek mati rasa sementara (numbing effect) pada gusi bayi yang meradang. Hal ini membuat si Kecil merasa lebih nyaman sehingga ia tidak lagi merasa perlu "memijat" gusinya dengan cara menggigit puting Mama saat sedang menyusu.
AAP juga menyarankan penggunaan waslap bersih yang dibasahi air dingin untuk dipijatkan lembut ke gusi si Kecil sebelum ia makan atau menyusu. Cara ini sangat efektif untuk menenangkan bayi yang rewel karena rasa gatal pada gusinya. Jika kondisi gusinya sudah terasa lebih adem, si Kecil biasanya akan lebih fokus untuk menghisap ASI secara tenang tanpa disertai drama ingin menggigit.
Setelah selesai menyusu pun, jika si Kecil tampak masih ingin menggigit sesuatu, segera tawarkan kembali benda-benda yang memang aman untuk digigit. Dengan cara ini, Mama secara tidak langsung mengajari si Kecil untuk membedakan antara "benda untuk digigit" (mainan) dan "sumber makanan" (payudara Mama) yang harus diperlakukan dengan sangat lembut.
7. Pastikan suplai dan aliran ASI mama tetap alncar

Terkadang, alasan bayi menggigit bersifat komunikatif, yaitu ia merasa frustrasi dengan aliran ASI Mama yang tidak sesuai harapannya. Jika aliran ASI Mama terlalu lambat, bayi mungkin akan menggigit sebagai bentuk protes atau mencoba merangsang aliran keluar dengan menekan payudara. Sebuah riset menunjukkan bahwa bayi yang lapar cenderung lebih agresif jika aliran ASI tidak kunjung keluar.
Untuk mengatasi aliran yang lambat, Mama bisa melakukan kompres hangat pada payudara sebelum menyusui atau melakukan pijat oksitosin untuk merangsang Let-Down Reflex (LDR). Ketika ASI mengalir deras dan mudah didapatkan, si Kecil akan merasa puas dan fokus untuk menelan, sehingga keinginan untuk menggigit karena frustrasi bisa berkurang drastis secara otomatis.
Sebaliknya, jika aliran ASI Mama terlalu deras (oversupply), bayi mungkin menggigit untuk menahan aliran agar ia tidak tersedak. Dalam kasus ini, cobalah posisi menyusui laid-back (Mama bersandar ke belakang) agar gravitasi membantu memperlambat pancuran ASI. Posisi ini memungkinkan si Kecil menyusu dengan lebih rileks tanpa perlu menjepit puting untuk mengontrol volume susu yang masuk.
Menjaga hidrasi dan manajemen stres Mama juga berperan penting dalam kestabilan aliran ASI selama masa menyusui. Jika masalah gigitan ini terus berlanjut meski Mama sudah mencoba berbagai cara, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter atau konselor laktasi. Mendapatkan bantuan profesional akan memberikan Mama solusi yang lebih personal dan memastikan perjalanan mengASIhi tetap berjalan lancar.
Menghadapi drama si Kecil yang hobi menggigit puting memang menguji kesabaran ya, Ma, tapi percayalah bahwa fase ini hanya sementara dan bisa diatasi dengan konsistensi serta teknik pelekatan yang tepat agar momen mengASIhi kembali terasa indah dan bebas drama. Semangat terus untuk Mama-mama hebat yang sedang berjuang memberikan nutrisi terbaik, karena kenyamanan Mama adalah kunci kebahagiaan si Kecil juga!
Nah, kalau Mama sendiri, punya tips jitu atau pengalaman unik lainnya saat menghadapi si Kecil yang mulai hobi "gemas" menggigit saat menyusu?


















