“Orang yang bisa normal itu tapi minta caesar, sebenernya nggak papa sih. Sejujurnya dokter senang itu caesar mas, justru kalau kita nggak bagus menjaga moral kita yang bisa normal mungkin disesarkan. Tapi kan kita nggak begitu ya. Banyak dokter berusaha menahan (caesar), karena bahaya-bahaya operasi caesar tuh bukan hanya pada saat itu,” kata dr. Indra Tarigan, Sp.OG selaku dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi.
Efek Jangka Panjang Melahirkan Caesar Menurut Dokter Kandungan

- Operasi caesar memiliki risiko lebih besar dibanding persalinan normal, sehingga keputusan melakukannya perlu didasari pemahaman matang dan bukan sekadar tren.
- Efek jangka panjang caesar mencakup peningkatan risiko emboli air ketuban, plasenta akreta pada kehamilan berikutnya, serta perlengketan organ akibat jaringan parut.
- Risiko perdarahan pasca operasi caesar juga lebih tinggi dibanding persalinan normal, sehingga penting bagi calon ibu memahami manfaat dan risikonya sebelum memilih metode ini.
Persalinan caesar sering kali menjadi pilihan bagi sebagian perempuan yang akan melahirkan, baik karena kondisi medis maupun keinginan pribadi. Di balik prosesnya yang dianggap lebih praktis, operasi caesar ternyata tetap memiliki sejumlah risiko.
Banyak perempuan yang tidak tahu bahwa da beberapa efek jangka panjang muncul setelah tindakan operasi dilakukan, terutama jika keputusan caesar dipilih tanpa alasan medis yang kuat.
Berikut Popmama.com siap membahas informasi lebih lanjut mengenai efek jangka panjang melahirkan caesar berdasarkan penjelasan dr. Indra Tarigan, Sp.OG melansir dari kanal YouTube Raditya Dika.
Table of Content
1. Operasi caesar memiliki risiko lebih besar dibanding persalinan normal
Operasi caesar sebenarnya boleh saja dipilih oleh para Mama yang menginginkannya. Namun, keputusan tersebut sebaiknya diambil berdasarkan pemahaman yang matang, bukan karena ikut tren atau ketidaktahuan mengenai risikonya.
Bahkan, banyak dokter justru berusaha menahan tindakan caesar apabila kondisi Mama dan bayi masih memungkinkan untuk melahirkan normal. Hal ini karena operasi caesar termasuk prosedur bedah besar yang memiliki dampak jangka pendek maupun jangka panjang bagi kesehatan Mama.
2. Risiko emboli air ketuban bisa meningkat setelah caesar

Salah satu komplikasi serius yang disebutkan dr. Indra adalah meningkatnya risiko emboli air ketuban. Kondisi ini terjadi ketika cairan ketuban masuk ke aliran darah ibu dan memicu reaksi berbahaya pada tubuh.
Meski tergolong jarang, emboli air ketuban merupakan komplikasi yang sangat serius karena dapat menyebabkan gangguan pernapasan, penurunan tekanan darah drastis, hingga mengancam nyawa ibu.
Risiko ini menjadi salah satu alasan mengapa tindakan caesar tidak boleh dianggap sepele.
“Jangka panjangnya itu kejadian emboli air ketuban meningkat,” ujar dr. Indra Tarigan, Sp.OG.
3. Bekas operasi caesar sebelumnya dapat memicu plasenta akreta pada kehamilan berikutnya

Ada pula risiko plasenta akreta yang bisa terjadi pada Mama dengan riwayat operasi caesar sebelumnya. Kondisi ini terjadi ketika plasenta menempel terlalu dalam pada dinding rahim, khususnya di area bekas luka operasi lama.
Plasenta akreta termasuk komplikasi berbahaya karena saat proses persalinan berlangsung, plasenta sulit dilepaskan dari rahim. Dalam beberapa kasus, dokter bahkan harus mengangkat rahim sekaligus demi menghentikan perdarahan hebat yang terjadi.
“Belum lagi plasenta akreta. Plasenta akreta itu juga seram, misalnya dia hamil terus plasenta atau ari-arinya itu nempel melekat dalam dinding bekas operasi yang lama,” ucap dr. Indra Tarigan, Sp.OG.
“Dan itu kalau nanti bayinya dilahirkan, plasentanya ini nggak bisa dilepas. Jadi kadang-kadang ini harus kita angkat bersamaan dengan rahimnya dan mengangkat rahim sekalian caesar itu kan nggak segampang yang orang pikirkan,” lanjutnya
4. Perlengketan organ setelah operasi caesar bisa memicu komplikasi serius

Efek jangka panjang lain yang dapat muncul setelah operasi caesar adalah perlengketan organ di dalam tubuh. Kondisi ini biasanya terjadi karena adanya jaringan parut pasca operasi yang membuat organ-organ di area perut saling menempel.
Perlengketan dapat menyebabkan rasa nyeri berkepanjangan, gangguan pada organ reproduksi, hingga menyulitkan operasi berikutnya apabila Mama kembali menjalani caesar di masa depan.
Risiko komplikasi inilah yang menurut dr. Indra perlu dipahami oleh setiap Mama sebelum memilih persalinan caesar.
“Belum lagi perlengketan dan segala macam. Itu kenapa banyak orang meninggal,” ujar dr. Indra Tarigan, Sp.OG.
5. Risiko perdarahan pasca operasi caesar lebih tinggi

Selain komplikasi lain, dr. Indra menegaskan bahwa risiko perdarahan setelah operasi caesar juga lebih besar dibandingkan persalinan normal.
Perdarahan pasca operasi dapat terjadi akibat luka sayatan pada rahim maupun komplikasi lain selama proses tindakan bedah berlangsung.
Karena itu, Mama disarankan untuk mencari informasi sebanyak mungkin sebelum menentukan metode persalinan. Operasi caesar memang bisa menjadi solusi terbaik dalam kondisi tertentu, tetapi keputusan tersebut tetap perlu mempertimbangkan manfaat dan risikonya secara menyeluruh.
“Makanya saya selalu bilang nggak papa sebenarnya orang kalau mau lahir caesar by request kan sekarang. Nggak papa sebenarnya, tapi jangan sampai memilih itu karena ketidaktahuan kita. Banyak orang yang nggak paham, orang-orang yang meninggal karena caesar itu lebih banyak dibandingkan orang yang melahirkan normal,” jelas dr. Indra Tarigan, Sp.OG.
“Justru orang yang perdarahan setelah caesar itu lebih banyak dibanding yang normal,” pungkasnya.
Itu dia penjelasan mengenai efek jangka panjang melahirkan caesar menurut dokter kandungan. Semoga bisa menjadi ilmu baru bagi Mama semua, ya.


















