Comscore Tracker
TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Jangan Anggap Remeh, Ini Bahaya Kehujanan pada Ibu Hamil

Sebaiknya hindari kehujanan selama kehamilan, ya, Ma!

27 Desember 2022

Jangan Anggap Remeh, Ini Bahaya Kehujanan Ibu Hamil
Pexels.com/MicheleRaffoni

Seperti yang Mama tahu, Indonesia adalah negara beriklim tropis yang memiliki dua musim, yakni musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan di Indonesia terkadang tidak dapat diprediksi. Di akhir hingga awal tahun biasanya beberapa daerah akan sering diguyur hujan.

Karenanya, tak dipungkiri risiko kehujanan saat beraktivitas jadi meningkat serta menimbulkan masalah kesehatan pada banyak orang termasuk pada Ibu hamil.

Mengutip dari sebuah studi penelitian di Bangladesh, menyatakan kalau sistem kekebalan tubuh seseorang dipengaruhi oleh musim. Dengan kata lain, musim hujan dapat menurunkan daya tahan tubuh.

Kondisi tersebut salah satunya disebabkan karena kurangnya vitamin D dari paparan sinar matahari sehingga memengaruhi kekebalan tubuh. Hal ini juga berlaku bagi ibu hamil.

Untuk penjelasan lebih lengkapnya, berikut Popmama.com telah merangkum soal bahaya kehujanan pada ibu hamil. Yuk, simak penjelasannya, Ma!

Dampak Hujan Ekstrem pada Kehamilan

Dampak Hujan Ekstrem Kehamilan
Pexels.com/MinAn

Mengutip dari Independent, ibu hamil yang terdampak curah hujan ekstrem lebih mungkin memiliki bayi dengan berat lahir rendah.

Para peneliti dari Universitas Lancaster dan lembaga penelitian kesehatan FIOCRUZ Brasil mengamati bagaimana berat badan lahir, pertumbuhan janin, dan durasi kehamilan dipengaruhi oleh variabilitas curah hujan lokal.

Studi ini juga menemukan bahwa curah hujan yang tinggi, yang tidak dianggap ekstrem, menghasilkan kemungkinan 40 persen lebih besar bagi perempuan yang melahirkan anak dengan dengan berat badan rendah.

Berat badan lahir rendah dan kelahiran prematur dapat berdampak negatif pada kesehatan dan perkembangan anak.

Selain itu, melansir dari Dawn, di belahan dunia lainnya, tepatnya di daerah terpencil Pakistan, hujan deras yang menyebabkan bencana banjir juga mempengaruhi kesehatan ibu hamil.

Komplikasi kesehatan yang dialami banyak ibu hamil di daerah beriklim ekstrem tersebut misalnya anemia, gangguan hipertensi, kelahiran prematur, perdarahan postpartum, malnutrisi, dan infeksi. Kondisi ini merupakan penyebab utama kematian ibu hamil.

Dalam beberapa kondisi, konsekuesi iklim ekstrem dapat merugikan ibu hamil. Jika cuaca ekstrem menyebabkan gagal panen, hal itu dapat membatasi akses ke makanan, terutama di komunitas pertanian subsisten sehingga sumber makanan akan berkurang. 

Bencana bajir berdampak besar pada kehidupan sehari-hari masyarakat. Ditambah dengan stres dan kecemasan yang terjadi di masa kehamilan dapat berkontribusi pada kelahiran prematur dan mengganggu perkembangan anak yang normal.

Selain itu, ibu hamil yang sering kehujanan juga dapat mengalami komplikasi kesehatan seperti:

1. Menurunnya sistem imun tubuh

1. Menurun sistem imun tubuh
Pexels/Ketut Subiyanto

Tentunya setelah kehujanan, tubuh akan merasa kedinginan. Penurunan suhu tubuh ini juga mengakibatan sistem imun sedikit melemah.

Rhinovirus atau bisa disebut dengan virus penyebab pilek dapat berkembang dengan baik ketika suhu tubuh lebih rendah dari 37 derajat celsius.

Saat kehujanan, suhu biasanya menurun sampai 33 - 35 celcius sehingga kuatnya rhinovirus tentu sulit ditaklukan oleh sistem imun yang lemah apalagi jika menyerang kekebalan tubuh ibu hamil yang umumnya lebih rentan.

Akibatnya, virus tersebut menang dan menyebabkan infeksi di dalam rongga hidung sehinga Mama bisa terkena berbagai penyakit, seperti sakit tengorokan, batuk, hidung tersumbat, dan demam.

Editors' Picks

2. Diare

2. Diare
Freepik/Bignai
Dok. Jovee

Menurut National Health Portal, diare musiman biasanya terjadi menjelang akhir musim kemarau dan awal musim hujan. Diare ditandai dengan frekuensi buang air besar yang meningkat dibandingkan biasanya. Pada musim hujan, diare umumnya disebabkan oleh rotavirus. 

Penyebaran rotavirus saat musim hujan ini bisa melalui sanitasi yang tidak bersih dan higienis. Seperti yang Mama ketahui, musim hujan dapat memengaruhi kondisi air di beberapa daerah.

Ketika toilet terkontaminasi rotavirus, seseorang yang menggunakannya pasti bisa terkena diare.

Umumnya cara penularan penyakit ini melalui feses-oral. Di mana ketika ibu hamil bisa terkena diare karena mengonsumsi air atau makanan yang terkontaminasi mengandung virus. 

Diare disebabkan karena mengonsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri, virus, atau parasit yang disebabkan oleh bakteri e.coli, salmonella, shigella, dan cholera.

Ibu hamil yang rentan terhadapat berbagai penyakit akan lebih berisiko terkena diare saat musim hujan.

3. Common cold selesma dan influenza

3. Common cold selesma influenza
Freepik/Marymarkevich

Bahaya yang terjadi ketika Ibu hamil kehujanan yakni rentan terhadap penyakit flu. Meski umumnya banyak orang juga mengalami flu setelah kehujanan.

Namun, efek flu tak hanya memengaruhi ibu hamil tetapi juga bayi di dalam kandungannya. Itulah sebabnya, penanganan penyakit pada ibu hamil lebih rumit dan berisiko.

Common cold atau biasa dikenal dengan salesma dapat menyerang ibu hamil. Penyakit salesma ini disebabkan infeksi virus.

Meskipun berbeda dengan virus influenza, salesma sering juga disebut flu karena memilki gejala seperti batuk, pilek, dan demam.

Selain itu, ibu hamil juga bisa mengalami influenza dan berisiko memilki komplikasi yang lebih tinggi terhadap masalah pernapasan seperti bronkitis dan pneumonia.

4. Infeksi bakteri

4. Infeksi bakteri
Freepik

Infeksi bakteri yang bisa berbahaya bagi ibu hamil adalah infeksi bakteri vagina. Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko infeksi bateri vagina selama kehamilan, antara lain pemberian antibiotik, penggunaan pembersih vagina, dan perubahan hormonal selama kehamilan.

Kondisi ini juga bisa disebabkan karena kehujanan. Pasalnya, air hujan bisa mengandung bakteri dan virus. Ketika air hujan tidak segera dibersihkan, bakteri penyebab penyakit akan menempel dan ibu hamil sangat rentan mengalami infeksi.

Infeksi bakteri vagina cukup berbahaya karena dapat menyebar ke rahim sehingga menyebabkan ketuban pecah dini.

Demam karena infeksi bakteri juga dapat menyebabkan dehidrasi pada ibu hamil bahkan mengakibatkan cairan ketuban mengering serta kelahiran prematur.

Tips yang Harus Mama Lakukan setelah Kehujanan

Tips Harus Mama Lakukan setelah Kehujanan
Unsplash/Dominik Martin

Inilah beberapa tips khusus yang bisa Mama ikuti jika mengalami basah kuyup karena kehujanan :

  1. Jika Mama basah kuyup karena kehujanan, segera lepas dan ganti pakaian setelah sampai di rumah. Dengan melakukan ini suhu tubuh akan kembali normal.
  2. Alangkah baiknya jika Mama membersihkan diri terlebih dahulu untuk menghilangkan kuman karena cipratan air hujan atau lumpur yang menempel di kulit. Disarankan untuk mandi air hangat agar menaikan suhu tubuh. Lalu, setelah itu ganti baju yang cukup hangat. 
  3. Setelah mandi dan berganti pakaian, oleskan krim antibakteri ke tubuh. Ini akan membantu Mama menyingkirkan bakteri dan mencegah alergi.
  4. Setelah basah karena kehujanan, bersihkan kepala mama dengan handuk. Jika kepala Mama basah untuk waktu yang lama, Mama mungkin bisa terkenan masuk angin, pilek atau batuk.
  5. Minumlah secangkir teh panas atau air jahe rebusan. Teh atau air jahe rebusan akan membantu meningkatkan energi tubuh mama dan akan membantu tubuh mengatur suhu.
  6. Makan makanan yang sehat dan segera beristirahat.

Perlu diingat bahwa Mama tidak boleh meremehkan kehujanan. Pasalnya, fisik ibu hamil lebih rentan dan masalah kesehatan seperti flu lebih berisiko bagi ibu hamil.

Demikian penjelasan mengenai bahaya kehujanan pada ibu hamil. Semoga bisa membantu, ya, Ma!

Baca juga : 

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.

Mama CerdAZ

Ikon Mama CerdAZ

Panduan kehamilan mingguan untuk Mama/Ibu, lengkap dengan artikel dan perhitungan perencanaan persalinan

Cari tahu yuk