Ini Penyebab Anyang-anyangan Saat Mama Hamil Muda

Cari tahu apa penyebab, kapan harus waspada, dan cara mengatasi anyang-anyangan saat hamil muda

27 Maret 2019

Ini Penyebab Anyang-anyangan Saat Mama Hamil Muda
Freepik/Jcomp

Begitu mengetahui garis dua muncul di test pack, perasaan bahagia tentu menyelimuti diri Mama. Namun, itu juga berarti Mama harus bersiap dengan berbagai perubahan tubuh yang akan dirasakan selama 9 bulan ke depan.

Sejak trimester pertama, produksi hormon kehamilan terus membuat tubuh Mama berubah dan beradaptasi dengan kehadiran janin. Tak heran jika banyak ibu hamil yang mengeluhkan ini dan itu. Bahkan, kadang merasa kepayahan karena terkejut dengan gejala-gejala tersebut.

Salah satunya adalah anyang-anyangan, yakni meningkatnya frekuensi buang air kecil diikuti oleh rasa tidak tuntas usai berkemih. Perlu Mama tahu, perempuan dewasa normal memproduksi urin dengan volume 1.500-2.000 cc tiap 24 jam. Sementara, kandung kemih dapat menampung urin sebanyak 400-500 cc. Artinya, perempuan dewasa normal akan berkemih setiap 3-4 jam sekali.

Akan tetapi, pada ibu hamil tidaklah demikian. Anyang-anyangan kerap dirasakan oleh ibu hamil pada trimester I. Rasa tidak tuntas usai berkemih jelas membuat Mama kurang nyaman. Belum lagi frekuensi berkemih yang sering, sehingga jarak antara buang air kecil pun pendek. Bolak-balik ke WC sungguh merepotkan!

Lalu, apa sih sesungguhnya penyebab anyang-anyangan pada saat hamil muda? Berikut Popmama.com mencari tahu apa penyebab, kapan harus waspada, dan cara praktis mengatasinya.

1. Penyebab anyang-anyangan

1. Penyebab anyang-anyangan
Pixabay/Julia Fiedler

Anyang-anyangan memang lebih umum dialami oleh perempuan ketimbang laki-laki. Kondisi ibu hamil membuat risiko terjadi anyang-anyangan meningkat. Hal ini terjadi karena tiga hal, yaitu:

  • Perubahan hormon. Peningkatan kadar hormon progesteron dan estrogen mendorong penambahan suplai darah ke ginjal. Walhasil, jumlah urin yang dihasilkan pun lebih banyak. Sebagai konsekuensi, keinginan untuk buang air kecil juga muncul lebih sering.
  • Desakan  rahim pada kandung kemih. Rahim berada di rongga panggul. Pada trimester pertama, rahim akan mengalami pembesaran secara progresif, sehingga mendesak kandung kemih yang berada di depan rahim. Akibatnya, kapasitas penampungan urin berkurang. Mama pun lebih sering ingin berkemih dalam jarak waktu pendek.
  • Posisi berbaring ketika tidur juga bisa meningkatkan volume darah dari perifer menuju jantung, seta meningkatkan volume darah ke ginjal. Maka, volume urin yang diproduksi ginjal juga bertambah. Mama pun sering terbangun saat malam hari karena ingin segera berkemih.

2. Kapan anyang-anyangan mereda?

2. Kapan anyang-anyangan mereda
Pixabay/Khusen Rustamov

Desakan rahim yang intens ternyata juga bisa menyumbat saluran kencing. Akibatnya, urin kadang tidak dapat dikeluarkan, meski ada keinginan untuk berkemih. Inilah mengapa Mama merasa tidak tuntas saat berkemih. Bagi sebagian orang, anyang-anyangan kerap dijadikan salah satu tanda kehamilan karena banyak dialami pada trimester pertama.

Pada  trimester kedua, rahim akan membesar, lalu naik meninggalkan rongga panggul. Ini mengurangi desakan pada kandung kemih.

Biasanya, Mama tidak begitu mengeluh anyang-anyangan saat kehamilan memasuki trimester kedua. Namun, kondisi ini hanya bertahan sementara. Menginjak trimester ketiga, selagi janin mulai turun ke panggul untuk menyiapkan diri mendekati persalinan, keinginan sering berkemih pun muncul lagi.

Editors' Picks

3. Mama harus waspada anyang-anyangan pada kondisi ini

3. Mama harus waspada anyang-anyangan kondisi ini
Freepik/Dragana_Gordic

Mama harus waspada pada keluhan anyang-anyangan jika dibarengi dengan gejala di bawah ini:

  • Urin berwarna merah bercampur darah ketika berkemih
  • Ada rasa nyeri saat berkemih

Kedua gejala tersebut biasanya merupakan tanda awal dari infeksi saluran kemih (ISK). Mama nggak bisa memandang remeh soal ISK karena jika tidak segera ditangani bisa berakibat serius pada kondisi janin.

Hal ini disebabkan oleh infeksi yang dapat menyebar ke saluran reproduksi hingga ke rahim. Risiko terjadinya persalinan prematur, ketuban pecah dini, hingga keguguran pun meningkat. Selain itu, tentu keluhan tersebut juga mengganggu aktivitas harian Mama. Jadi, segera berkonsultasi ke dokter kandungan atau dokter urologi untuk memperoleh penanganan lebih lanjut ya, Ma.

4. Cara mudah menangani anyang-anyangan

4. Cara mudah menangani anyang-anyangan
stylecraze.com

Sebetulnya, banyak cara mudah menangani anyang-anyangan tanpa perlu minum obat. Ingat, Ma, ibu hamil sebaiknya tidak mengonsumsi sembarang obat jika tidak dalam pengawasan dokter. Nah, berikut beberapa cara mudah yang bisa Mama praktikkan untuk mengurangi anyang-anyangan.

  • Tidak menahan keinginan buang air kecil
  • Kurangi konsumsi minuman berkafein (kopi atau teh) karena bersifat diuretik atau merangsang berkemih
  • Tetap minum air putih sebanyak 8-12 gelas per hari. Setiap usai berkemih, Mama segera minum air agar tubuh tidak mengalami dehidrasi.
  • Perbaiki posisi saat berkemih. Mama bisa menungging sedikit ke depan agar pengosongan urin pada kandung kemih dapat lebih maksimal.
  • Jaga kebersihan organ reproduksi. Pastikan mengeringkan organ reproduksi sebelum mengenakan celana dalam. Ganti jika celana dalam terasa lembab. Namun, hindari pemakaian pantyliner.

Bagaimana, Ma, nggak sulit kan untuk mempraktikkan cara menangani anyang-anyangan saat hamil muda? Sama seperti keluhan lain selama hamil, anyang-anyangan adalah hal normal. Namun, Mama tetap harus peka jika muncul gejala-gejala yang menimbulkan rasa nyeri. Segera konsultasi ke dokter guna penanganan lebih lanjut ya, Ma.

Baca juga:

Topic:

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!