Kembali Bekerja Menyumbang Kegagalan ASI Eksklusif Sebanyak 45%

- Ibu bekerja yang kembali ke kantor setelah cuti tiga bulan menghadapi perubahan rutinitas besar pasca melahirkan.
- Kembali bekerja disebut menurunkan angka pemberian ASI eksklusif hingga 45 persen.
- Kesibukan kantor, tanggung jawab rumah, dan kebutuhan pumping membuat sebagian ibu sulit beradaptasi serta mempertahankan ASI eksklusif.
Setelah cuti selama 3 bulan, ibu bekerja harus kembali ke kantor dan menyesuaikan diri dengan kebiasaan yang baru pasca melahirkan. Sayangnya, kondisi ini menurunkan angka pemberian ASI eksklusif sebesar 45%.
Dengan perubahan rutinitas yang cukup kontras, ibu menyusui yang kembali bekerja harus berjuang untuk menyeimbangkan kesibukan di kantor dan di rumah. Belum lagi harus membagi tugas kantor sambil tetap pumping agar produksi ASI tetap terjaga.
Namun faktanya, segala kesibukan ini sering membuat ibu tidak mampu menyesuaikan diri. Akhirnya, mereka menyerah untuk memberikan ASI secara eksklusif. Apa saja kendalanya? Popmama.com akan menjabarkannya untuk Mama.
1. Kebijakan cuti melahirkan yang meningkatkan peluang keberhasilan ASI eksklusif

Pexel.com/Blond Fox Menurut data Survei Kesehatan Indonesia (SKI), angka pemberian ASI eksklusif meningkat tajam, dari 32% di tahun 2007, jadi 74,73% di tahun 2024. Hal ini tidak bisa didapat begitu saja. Karena kebijakan dari pemerintah pun berpengaruh besar untuk keberhasilan pemberian ASI eksklusif.
Pada faktanya, pemberian cuti melahirkan bisa meningkatkan angka keberhasilan tersebut.
"Cuti internal berbayar mampu meningkatkan angka keberhasilan ASI eksklusif sebesar 52%," menurut Ketua Satgas ASI IDAI Dr. dr. Naomi Esthernita F.D., Sp.A, Subsp.Neo.(K), dalam acara Puncak Perayaan Pekan ASI Sedunia 2026 di RSUI, Depok, Sabtu (8/8/2026).2. Kembali bekerja yang menyumbang angka kegagalan

Pexels.com/Anna Shvets Setelah 3 bulan intensif mengASIhi di rumah, ibu harus kembali bekerja untuk memenuhi tanggung jawab. Tugas baru sebagai seorang ibu harus diseimbangkan dengan tugas menjadi seorang pekerja.
Pada kenyataannya, menumpuknya pekerjaan, tanggung jawab di kantor yang makin meningkat, mengurangi kemampuan ibu untuk tetap memenuhi kebutuhan ASI si Kecil.
"Kembali bekerja meningkatkan kegagalan terwujudnya pemberian ASI eksklusif di 6 bulan pertama sebanyak 45%," lanjut dr Naomi.
3. Penyebab terjadinya kegagalan menyusui eksklusif

Pexels.com/Jonathan Borba Sayangnya, kembali ke kantor menjadi salah satu sumber kegagalan keberlangsungan ASI eksklusif juga.
"Ibu yang bekerja banyak yang memutuskan untuk stop ASI karena kurangnya dukungan dari tempatnya bekerja," lanjut dr Naomi.
Kebijakan yang tidak pro ibu menyusui, hambatan karier, menumpuknya pekerjaan menjadi beberapa penyebab terhentinya ASI eksklusif pada ibu dan anak di 6 bulan pertama.
4. Kenyataan pahit bagi ibu yang bekerja

Pexels.com/Felicity Tai Kegagalan memberikan ASI eksklusif di 6 bulan pertama bukan satu-satunya masalah bagi ibu menyusui yang bekerja. AIMI menyebutkan ada beberapa masalah banyak ditemui para ibu bekerja.
Seperti contoh, AIMI mendapat konsultasi mengenai ibu menyusui yang menghadapi masalah dalam kariernya. Ibu tersebut bekerja di salah satu BUMN besar. Saat mendapati masalah dalam perjalanan menyusui, ibu tersebut membutuhkan izin tertentu untuk menyelesaikan masalah menyusui.
Namun sayangnya, kondisi ini dikaitkan dengan ancaman mutasi, demosi, hingga tidak mendapatkan promosi jabatan.
"Kadang izin, itu sudah siap demosi, mau dimutasi atau demosi, enggak naik, enggak dapat promosi jabatan. Itu sebenarnya yang jadi masalah," tutur Divisi Advokasi AIMI Pusat, Gina Sabrina dalam konferensi pers AIMI dalam rangka Pekan Menyusui Dunia 2026 secara daring digelar beberapa waktu lalu.
Selain itu, ruang laktasi yang jauh, waktu istirahat yang mepet, dan kolega yang memandang negatif juga menjadi masalah yang dihadapi para ibu menyusui yang bekerja.
5. Dukungan yang bisa diberikan

Freepik.com/freepik Untuk memutus rantai ini, diperlukan dukungan dari semua pihak, dari lingkaran terdekat hingga pemerintah.
"Untuk keberhasilan menyusui, diperlukan sistem kesehatan proteksi maternal seperti cuti maternal dibayar, tempat bekerja yang ramah ibu menyusui, dan kebijakan yang mendukung ibu menyusui," tutup dr Naomi.
Jadi, keberhasilan itu perlu dukungan dari semua pihak, termasuk kita juga.





















