Risiko Kesehatan di Balik Hewan Peliharaan terhadap Ibu Hamil

Hewan peliharaan memang menggemaskan, tetapi saat hamil bolehkah tetap berdekatan dengannya?

18 November 2020

Risiko Kesehatan Balik Hewan Peliharaan terhadap Ibu Hamil
thesprucepets.com

Memiliki hewan peliharaan bagi sebagian orang adalah kesenangan tersendiri. Hewan peliharaan, seperti anjing dan kucing, sudah layaknya teman, bahkan menjadi bagian dari keluarga. 

Selain kegembiraan, ada pula kekhawatiran karena beberapa hewan peliharaan berpotensi menimbulkan risiko keselamatan dan kesehatan. Bagi Mama yang memiliki hewan peliharaan mungkin bertanya-tanya apakah aman berada di sekitar hewan peliharaan saat hamil.

Berikut ini Popmama.com mengulas seputar bahaya hewan peliharaan terhadap ibu hamil, dilansir dari Very Well Family:

1. Penyakit Zoonosis

1. Penyakit Zoonosis
Pexels/Inge Wallumrød

Penyakit zoonosis adalah penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Hewan membawa kuman yang dapat ditularkan sehingga manusia menjadi sakit. 

Beberapa penyakit zoonosis ringan dan bisa diobati. Untungnya hewan peliharaan jarang sekali terkena penyakit serius. Namun beberapa penyakit dapat berbahaya, terutama bagi ibu hamil dan anak-anak yang daya tahan tubuhnya lemah. 

2. Toksoplasmosis

2. Toksoplasmosis
thecatniptimes.com

Toksoplasmosis adalah infeksi umum dari parasit. Biasanya tidak berbahaya, kecuali jika Mama mendapatkannya pertama kali saat hamil atau tepat sebelum kehamilan. Ini jarang terjadi, tetapi jika toksoplasmosis masuk ke janin pada awal kehamilan, hal ini dapat menyebabkan keguguran, lahir mati, atau cacat bawaan. Tetapi secara umum, kecil kemungkinan toksoplasmosis memengaruhi janin.

Editors' Picks

3. Lymphocytic Choriomeningitis

3. Lymphocytic Choriomeningitis
Pixabay/1267434

Lymphocytic choriomeningitis atau koriomeningitis limfostik adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Lymphocytic Choriomeningitis (LCMV). LCMV sebagian besar disebarkan oleh tikus liar. Tetapi hewan pengerat juga berpotensi membawa infeksi.

LCMV ringan dapat menyebabkan gejala mirip flu, dan kebanyakan orang bisa sembuh tanpa masalah berarti. Tetapi jika parah, LCVM dapat menyebabkan masalah neurologis seperti meningitis atau kelumpuhan. Selama kehamilan, virus dapat menular ke bayi dan dapat menyebabkan keguguran, lahir mati, atau kelainan bawaan. 

4. Rabies

4. Rabies
Pixabay/liilxliil

Infeksi rabies menyebar melalui air liur hewan yang terjangkiti virus rabies. Hewan dengan rabies dapat menularkannya ke hewan lain maupun manusia. 

Gejala rabies ditandai dengan demam, menggigil, dan lemah otot. Kemudian akan memengaruhi otak yang menyebabkan kebingungan, kecemasan, dan kesulitan tidur. Setelah terkena rabies, perlu waktu hingga satu minggu atau lebih hingga gejalanya muncul. 

Sangat penting untuk segera mendapatkan perawatan setelah digigit anjing atau hewan liar seperti rakun atau kelelawar. Terutama jika Mama sedang hamil. Rabies dapat diobati dengan suntikan anti-rabies untuk menghentikan virus sebelum gejalanya muncul. Pengobatan rabies untuk ibu hamil dan menyusui dianggap aman. Ingat, harus tepat waktu penanganannya karena rabies bisa sangat mematikan. 
 

5. Penyakit Lyme

5. Penyakit Lyme
Pexels/Freestocks.org

Penyakit lyme berasal dari bakteri yang menyebar melalui gigitan kutu rusa yang berkaki hitam dan terinfeksi. Kutu rusa menumpang hidup pada hewan sehingga Mama bisa berisiko terkena penyakit Lyme jika hewan peliharaan mama banyak berkeliaran di area tempat kutu rusa bermukim. 

Tanda awal penyakit ini mirip flu dengan ruam yang tampak seperti bulatan-bulatan. Penyakit ini juga dapat menyebabkan nyeri sendiri, kelelahan, dan otot yang terasa lemah. 

Penyakit Lyme bisa diatasi dengan antibiotik dan pengobatannya aman selama kehamilan. Namun, jika tidak diobati, penyakit ini bisa berbahaya bagi Mama dan janin. Meski telah diobati dengan antibiotik, beberapa orang terus mengalami gejala dalam waktu lama setelah pengobatan.

Masalah Keamanan Lainnya

Masalah Keamanan Lainnya
reallifestl.com

Ada lebih dari sekadar penyakit yang perlu dipertimbangkan terkait memelihara hewan peliharaan saat kamil. Hewan peliharaan dapat menggaruk, menggigit, dan melukai Mama atau pun bayi secara fisik. Seringkali hal tersebut tidak disengaja, tetapi hewan peliharaan bisa menjadi cemburu atau agresif ketika mengetahui ada orang baru yang datang (bayi mama). 

Saat Mama hamil, sebaiknya tidak mengadopsi hewan peliharaan baru terlebih dahulu. Tetapi Mama tetap bisa memeliharan hewan peliharaan yang sudah dipelihara sebelumnya. Pastikan Mama memiliki bekal pengetahuan bagaimana cara menangani hewan peliharaan beserta potensi risikonya terhadap diri sendiri dan janin yang dikandung. 

Beberapa hewan peliharaan memang membawa beberapa penyakit dan dapat menularkannya ke manusia. Tetapi dengan perawatan yang tepat dan kebersihan yang baik, sedikit kasus manusia yang terjangkit penyakit berbahaya dari hewan peliharaan. 

Nah itulah informasi mengenai bahaya merawat hewan peliharaan saat hamil. Semoga informasi ini bisa menjadi bahan pertimbangan mama dalam merawat hewan, ya.

Baca Juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.