Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bedah Robotik untuk Miom hingga Endometriosis, Apa Keunggulannya?
marks-clerk.com
  • Bedah robotik merupakan operasi minimal invasif untuk kasus ginekologi tertentu, seperti miom, kista, endometriosis, dan adenomiosis, menggunakan lengan robot melalui sayatan kecil yang stabil.
  • Teknologi ini membantu dokter bekerja lebih presisi di rongga sempit dan dekat organ penting, termasuk mengidentifikasi serta membebaskan jaringan endometriosis yang tersembunyi di panggul.
  • Stabilitas trocar pada bedah robotik dapat mengurangi iritasi dinding perut, sehingga perdarahan dan nyeri pascaoperasi lebih minim; pasien rata-rata pulang dalam 24–48 jam.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Masalah kesehatan reproduksi seperti miom, kista, endometriosis, dan adenomiosis dapat dialami perempuan, termasuk yang sedang mempersiapkan kehamilan. Pada kondisi tertentu, dokter mungkin merekomendasikan tindakan operasi untuk mengatasi penyakit tersebut sebelum kamu melanjutkan rencana kehamilan.

Operasi sering menjadi hal yang membuat pasien merasa khawatir, terutama karena bayangan luka yang besar dan proses pemulihan yang lama. Namun, perkembangan teknologi medis kini memungkinkan beberapa tindakan dilakukan dengan minimal invasive surgery, termasuk bedah robotik.

Nah, seperti apa bedah robotik digunakan untuk menangani masalah kesehatan reproduksi, dan apa saja keunggulannya? Simak penjelasannya dari Popmama.com berikut ini.

1. Luka operasi lebih kecil dengan alat yang stabil

leedsth.nhs.uk

Robotic-assisted surgery (RAS) atau yang kita kenal sebagai bedah robotik merupakan teknik operasi minimal invasif yang menggunakan lengan robot untuk menggerakkan alat bedah melalui sayatan kecil. Alat tersebut dimasukkan melalui trocar dan dikendalikan oleh robot dengan titik poros (pivot point) yang stabil. 

Hal itu disampaikan oleh dr. Sita Ayu Arumi, Sp.OG, MSc (Humrepro), MIGS, Spesialis Kebidanan dan Kandungan di Eka Hospital MT Haryono, dalam media meet up bertajuk New Era of Surgery: Precision Surgery with Robotic Gynecology Surgery. Dr. Sita menjelaskan perkembangan teknik operasi terus bergeser dari bedah terbuka menuju tindakan yang lebih minim sayatan, termasuk dengan teknologi bedah robotik.

2. Lebih presisi untuk kasus yang kompleks

int.livhospital.com

Bedah robotik membantu dokter melakukan tindakan dengan lebih presisi, terutama ketika menangani kasus yang kompleks. Sistem robotik memungkinkan dokter mengendalikan alat dengan gerakan yang menyerupai tangan manusia, termasuk melakukan gerakan-gerakan kecil. 

Hal ini dapat membantu dokter bekerja lebih akurat ketika harus menangani jaringan yang berada dekat dengan organ atau struktur penting.

“Bedah robotik bisa membantu kekurangan dari surgeon-nya, seperti keterbatasan gerak di rongga yang sempit,” ujar dr. Sita.

3. Membantu menangani endometriosis yang tersembunyi

yourpelvicfloor.org

Pada kasus endometriosis, jaringan penyakit dapat berada jauh di dalam panggul dan menyebar hingga mendekati organ penting. Bedah robotik membantu dokter mengidentifikasi jaringan tersebut.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, bedah robotik dapat membantu surgeon menjangkau rongga-rongga kecil di dalam perut, sehingga sangat memudahkan penanganannya.

4. Perdarahan dan nyeri pascaoperasi lebih minim

pixabay.com/pixabay

Data yang dipaparkan dokter menunjukkan kehilangan darah pada bedah robotik relatif rendah. Selain itu juga menghasilkan rasa nyeri yang lebih ringan dibandingkan laparoskopi.

Pada laparoskopi, instrumen yang dimasukkan melalui trocar dapat bergerak maju-mundur selama prosedur sehingga menimbulkan gesekan pada dinding perut. Sementara itu, pada bedah robotik, trocar dipegang dan distabilkan oleh lengan robot. 

“Gesekan itu bisa menimbulkan iritasi di dinding perut. Sedangkan kalau robot, trokar-nya itu pasti dipegang sama mesin robotnya. Jadi, dia stabil. Stabilitas ini membantu mengurangi iritasi pada dinding perut, sehingga rasa nyeri setelah operasi dapat lebih minim,” jelas dr. Sita.

5. Membantu mempercepat proses pemulihan

pixabay.com/geralt

Dengan teknik minimal invasif, kamu dapat menjalani masa pemulihan yang lebih singkat. Berdasarkan data yang disampaikan dokter, rata-rata pasien dapat pulang sekitar 24 jam setelah operasi dan maksimal sekitar 48 jam, sehingga bisa lebih cepat kembali beraktivitas.

“Setelah operasi, bukan berarti tidak ada nyeri sama sekali. Nyeri masih ada, tetapi jauh lebih minim dibandingkan tindakan lainnya. Jadi, rata-rata pasien bisa pulang dalam 24 jam, maksimal 48 jam,” jelas Dr. Sita.

Perkembangan teknologi kedokteran membuat penanganan masalah kesehatan reproduksi perempuan juga semakin berkembang. Apalagi hal ini menyangkut program hamil kamu.

Bedah robotik menjadi salah satu perkembangan dalam dunia ginekologi yang dapat membantu dokter menangani kasus tertentu dengan teknik minimal invasif. Meski begitu, setiap penyakit dan kondisi tentu membutuhkan pertimbangan yang berbeda. Jadi, jangan ragu berdiskusi dengan dokter untuk mengetahui pilihan penanganan yang paling sesuai, ya!

Curated For You

Editorial Team

Related Article