Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Magnific.com
  • Blastula IVF Siloam Sriwijaya menghadirkan layanan bayi tabung berbasis AI, pemantauan embrio, dan pendekatan personal untuk mendukung pasangan yang menjalani program hamil.

  • AI dan time-lapse incubator membantu menilai perkembangan embrio melalui skor prediksi, sementara sistem electronic witnessing memverifikasi identitas embrio dan meminimalkan risiko kesalahan identifikasi.

  • Strategi pengembangan hingga blastokista serta pilihan terapi disesuaikan dengan kondisi klinis pasien, disertai komunikasi transparan mengenai peluang keberhasilan, prosedur, dan kemungkinan percobaan berulang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perkembangan teknologi di bidang kesehatan kini sudah membawa perubahan, Ma. Salah satunya lewat program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF). 

Menurut World Health Organization (WHO), ada sekitar 1 dari 6 orang di dunia mengalami infertilitas. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap layanan fertilitas masih cukup besar, termasuk di Indonesia, lho. 

Jadi, untuk mendukung pasangan yang sedang melakukan program hamil, Blastula IVF Siloam Sriwijaya menghadirkan layanan bayi tabung dengan teknologi artificial intelligence (AI), pemantauan embrio, dan pendekatan personal. 

Penasaran bagaimana teknologi ini mendukung proses IVF? Berikut ini sudah Popmama.com rangkum penjelasannya. Simak informasinya, ya!

Teknologi AI dan Time-Lapse untuk Menyeleksi Embrio

Magnific.com

Teknologi artificial intelligence (AI) adalah salah satu inovasi yang diterapkan Blastula IVF Siloam Sriwijaya untuk membantu proses seleksi embrio. Nah, kalau sebelumnya penilaian dilakukan berdasarkan bentuk dan perkembangan embrio melalui sistem grading, kini prosesnya didukung teknologi time-lapse incubator yang memantau perkembangan embrio dari waktu ke waktu.

“Dengan AI itu akan muncul scoring system. Jadi akan muncul suatu prediksi dari AI berdasarkan morfokinetik dan juga morfologi selama perkembangan embrio di dalam time-lapse incubator, score yang [kemungkinan besar] akan menjadi implant dan bakal jadi baby,” ujar dr. M. Aerul Chakra Alibasya, Sp.OG, Subsp. FER, MIGS, Head of Blastula IVF Siloam Sriwijaya.

Sistem Electronic Witnessing untuk Menjaga Identitas Embrio

chicagoivf.com

Ternyata, selain seleksi embrio, ketepatan identifikasi juga penting, nih, dalam proses IVF. Blastula IVF Siloam Sriwijaya memakai sistem electronic witnessing melalui MIRI® Evidence dengan teknologi RFID dan kode data matriks untuk memverifikasi identitas serta mencatat perjalanan embrio, mulai dari fertilisasi hingga transfer.

Sistem ini juga bisa memberikan peringatan kalau, misalnya, ditemukan ketidaksesuaian identitas, jadi akan membantu meminimalkan risiko baby mix-up.

“Setiap tahapan IVF harus dapat ditelusuri dengan baik. Dengan sistem ini, proses identifikasi dan pencatatan dapat dilakukan secara lebih terintegrasi. Jika terjadi ketidaksesuaian, sistem dapat memberikan peringatan sehingga risiko kesalahan identifikasi dapat diminimalkan,” jelas dr. Chakra.

Strategi Pengembangan Embrio hingga Tahap Blastokista

Magnific.com/jcomp

Jadi, dalam program IVF, Blastula IVF Siloam Sriwijaya juga akan menerapkan strategi pengembangan embrio hingga tahap blastokista sebelum transfer. 

Di tahap inilah embrio diberi kesempatan untuk berkembang lebih lanjut di laboratorium sebelum dokter menentukan embrio yang akan diprioritaskan untuk ditransfer. Namun, strategi pengembangan embrio tetap perlu disesuaikan dengan kondisi setiap pasien agar prosedur yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan klinisnya, Ma. 

“IVF modern bukan hanya tentang memiliki teknologi terbaru. Pelaksanaan IVF modern adalah bagaimana kita dapat membantu pasien mendapatkan take-home baby secara efektif, mengurangi beban fisik dan psikologis, serta menghindari prosedur yang tidak diperlukan,” ujar dr. Chakra.

Pendekatan Personal dalam Menentukan Strategi IVF

Magnific.com/jcomp

Seperti yang sudah disebutkan di poin sebelumnya, pengembangan embrio tetap perlu disesuaikan oleh keadaan pasien, jadi dokter akan mempertimbangkan sejumlah faktor, seperti usia perempuan, jumlah dan kualitas sel telur, cadangan ovarium, serta kondisi klinis lainnya.

Selain itu, komunikasi yang transparan juga penting, ya, Ma, supaya pasien memahami peluang keberhasilan, pilihan terapi, dan kemungkinan membutuhkan lebih dari satu kali percobaan. Menurut dr. Chakra, pihak rumah sakit berupaya membantu pasien tetap punya harapan selama menjalani program IVF, sekaligus memahami peluang keberhasilan dan menjaga ekspektasi yang realistis. 

Melalui perpaduan teknologi, Blastula IVF Siloam Sriwijaya berupaya memberikan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan setiap pasangan. 

Hal itu karena perjalanan program bayi tabung bukan hanya tentang teknologi yang digunakan, tetapi juga bagaimana pasien dapat pendampingan dan informasi yang tepat selama menjalani setiap tahapannya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article