Ingin Segera Memiliki Anak, Rianti Cartwright Jalani Prosedur IVF

Mulai konsultasi perdana, Rianti Cartwright jalani rangkaian prosedur IVF

9 Maret 2019

Ingin Segera Memiliki Anak, Rianti Cartwright Jalani Prosedur IVF
Instagram.com/carolinehutomo

Sama seperti seorang istri lain, Rianti Cartwright tentu mendambakan kehadiran seorang anak di dalam keluarga kecilnya. 

Sejak menikah pada 17 September 2010, Rianti Cartwright dan Cas Alfonso Nainggolan masih menjalani kehidupan berdua. Di tahun 2019, pasangan ini kembali berjuang dan menjalani usaha terbarunya melalui program IVF alias bayi tabung. 

"Let the journey begin. Perdana check up, konsultasi dan mulai program IVF. Minta doanya ya teman-teman, semoga berhasil," tulis Rianti melalui Instagram pribadinya. Melalui konsultasi perdananya ini, Rianti memulai program IVF bersama Dr. Caroline Hutomo, SpOG. 

Unggahan foto dari Rianti ketika dirinya melakukan konsultasi IVF perdana ini menuai banyak komentar positif. Para sahabat berusaha memberikan dukungan dan juga doa melalui kolom komentarnya. 

"Yeay, aku support Rianti. GBU sayang." - Tya Ariestya. 

"Finally, good luck yah kak. I'm so excited." - Ratna Galih. 

"Bismillah, semoga lancar. Amin" - Alice Norin. 

"Bismillah Ri and Cas. May Allah SWT bless you both and bless this journey. Love and hugs." - Hannah Al Rashid. 

Itulah beberapa komentar positif dari para sahabatnya. Untuk Mama yang ingin mengetahui berbagai rangkaian dari prosedur IVF atau bayi tabung, kali ini Popmama.com akan merangkumnya. 

Semoga bisa memberikan informasi baru ya, Ma!

1. Mengenal siklus menstruasi

1. Mengenal siklus menstruasi
Freepik/makyzz

Sebelum melakukan berbagai rangkaian prosedur IVF perlu sekali mengetahui kondisi siklus menstruasi. Setelah mengetahui siklusnya, prosedur baru bisa dimulai di hari pertama pasien mengalami menstruasi. 

Pada hari kedua menstruasi, dokter akan melakukan tes darah dan USG (transvaginal ultrasound) yang berguna untuk memeriksa kondisi ovarium. 

Selain itu, mengonsumsi pil anjuran dari dokter dapat meningkatkan peluang keberhasilan bayi tabung sekaligus menurunkan risiko terjadinya sindrom hiperstimulasi ovarium dan kista ovarium.

Baca juga: Menstruasi Nggak Lancar, Ketahui Efeknya Pada Kehamilan

2. Menstimulasi ovarium 

2. Menstimulasi ovarium 
pixabay.com/PhotoLizM

Rangkaian kedua prosedur IVF yaitu dengan melakukan stimulasi ovarium agar keberhasilan bayi tabung semakin memiliki peluang. 

Perlu diketahui kalau fase stimulasi ini dimulai dari hari pertama. Dalam siklus bulanan yang normal, indung telur biasanya menghasilkan satu sel telur. Stimulasi ovarium dilakukan dengan menyuntikkan obat kesuburan pada tubuh. 

Biasanya dokter juga akan memberikan obat selama 8-14 hari untuk mendorong kantung cairan atau folikel di ovarium (tempat telur akan hidup), tujuannya untuk menghasilkan lebih banyak sel telur yang diproduksi oleh ovarium. 

Semakin banyak telur yang bisa diambil dan dibuahi selama proses bayi tabung, maka semakin besar pula kesempatan untuk bisa segera hamil.

Selama stimulasi ovarium ini dokter juga akan melakukan pemantauan untuk menentukan seberapa banyak dosis obat yang perlu ditingkatkan atau justru diturunkan. Apalagi jika folikel sudah semakin besar kira-kira berukuran 16-18 mm, sehingga perlu dipantau setiap harinya. 

3. Pengambilan telur 

3. Pengambilan telur 
Freepik

Usai terjadi pematangan telur dalam ovarium, maka dokter akan melakukan rangkaian prosedur IVF lainnya yaitu pengambilan telur.  

Pengambilan telur ini menjadi prosedur yang perlu dilakukan sekitar 34-36 jam setelah pasien menerima suntikan hCG sebagai pemicu pematangan oosit. Sebelum pengambilan telur perlu dilakukan anestesi untuk menghilangkan rasa sakit. 

Dalam rangkaian prosedur ini, pengambilan telur bisa dilakukan menggunakan jarum yang bertugas menghisap folikel di dalam ovarium. Jumlah folikel setiap orang yang melakukan proses pengambilan telur ini tentu akan berbeda-beda karena tergantung situasinya. 

Saat prosedur pengambilan telur selesai, umumnya pasien akan diminta untuk istirahat sejenak sekitar beberapa jam. Tujuannya agar kondisi tubuh bisa melakukan proses pemulihan. Setelah itu, pasien baru bisa berjalan sendiri.

Editors' Picks

4. Pengambilan sperma

4. Pengambilan sperma
menshealth.com

Pada rangkaian prosedur ini nantinya pertemuan sel telur dan sperma tidak terjadi di dalam tubuh melalui hubungan seks. Namun, sperma akan dikeluarkan dengan cara masturbasi. 

Jika sperma yang dikeluarkan terlalu sedikit, maka pengeluarannya akan dibantu dengan cara aspirasi yaitu menggunakan alat bantu. 

Sperma perlu dilakukan pemeriksaan rutin dulu sebelumnya. Ini berguna untuk melakukan pengecekan terhadap standar sperma seperti hapatitis atau HIV. Pemeriksaan ini juga bisa mengetahui hormonnya masih bagus atau tidak. 

Sebenarnya sperma yang dibutuhkan dalam proses bayi tabung hanya 1 saja. Jadi akan ada 1 sel telur dan 1 sperma untuk melakukan bayi tabung. 

Dokter akan berusaha melakukan pemeriksaan terhadap sperma yang sudah dikeluarkan. Dengan tujuan mencari yang terbaik saat bertemu dengan sel telur. Umumnya proses seleksi dengan meneteskan zat kimia untuk mencari perbedaan spesifik dalam mencari kualitas sperma terbaik. 

Baca juga: Agar Cepat Hamil, Begini Cara Melakukan Tes Pemeriksaan Sperma

5. Proses pembuahan telur

5. Proses pembuahan telur
Freepik/kjpargeter

Setelah memisahkan sperma di dalam rangkaian prosedur IVF sebelumnya dan mendapatkan kualitas terbaik, sel telur perlu cepat-cepat dibuahi dengan cepat. Dalam waktu 12-24 jam diharapkan sudah terjadi pembuahan antara sperma dengan sel telur. 

Untuk laki-laki yang mengalami kualitas sperma rendah atau masalah ketidaksuburan, umumnya dokter akan menyarankan untuk melakukan proses penyuntikan. Saat proses ini terjadi proses penyuntikan akan langsung dilakukan ke masing-masing telur yang sudah matang. Proses ini disebut dengan intra-cytoplasmic sperm injection (ICSI).

6. Pemindahan embrio ke dalam rahim

6. Pemindahan embrio ke dalam rahim
baby-pedia.com

Telur yang sudah dibuahi atau embrio ini nantinya akan kembali dipindahkan ke dalam rahim. Namun, sebelum dilakukan proses pemindahan, embrio akan disimpan selama 3-5 hari terlebih dahulu di tempat khusus. 

Pada rangkaian prosedur IVF selanjutnya akan dilakukan pemindahan embrio pada hari kelima setelah pembuahan. Proses ini dilakukan setelah embrio berada pada fase blastosit, sehingga mampu menempel dengan baik pada rahim. 

Sebelum embrio dipindahkan, pasien program IVF akan diberikan obat hormon progesteron berupa suntikan atau pil yang berguna untuk membantu mempersiapkan dinding rahim agar mampu menerima embrio. 

Ketika embrio dimasukkan ke dalam rahim, pemindahan akan dilakukan menggunakan tabung tipis atau kateter yang berisikan cairan embrio dari hasil pembuahan. Setelah pemindahan embrio sudah terjadi perlu menunggu sekitar dua minggu untuk mengetahui keberhasilannya. 

Untuk Mama yang sedang menjalani rangkaian prosedur IVF tetap semangat ya!

Baca juga: