Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Gagal Implantasi Embrio: Penyebab dan Faktor Risikonya

Gagal Implantasi Embrio: Penyebab dan Faktor Risikonya
Pexels.com/Timur Weber
  • Kegagalan transfer embrio dalam program bayi tabung dapat menjadi momen emosional, terutama setelah masa tunggu dua minggu pascaprosedur.
  • Implantasi embrio gagal terjadi ketika embrio tidak berhasil menempel pada dinding rahim, meski harapan keberhasilan sangat tinggi.
  • Terdapat berbagai faktor yang dapat menyebabkan implantasi gagal, dan kondisi ini tidak selalu merupakan kesalahan pihak yang menjalani program bayi tabung.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Mendapati kabar kalau transfer embrio gagal adalah salah satu momen patah hati terbesar saat menjalani proses bayi tabung. Sebenarnya, apa yang menyebabkan implantasi embrio gagal? 

Setelah transfer embrio, ada waktu menunggu selama 2 minggu yang begitu mendebarkan bagi siapa saja yang menjalankan program bayi tabung. Di fase itu, harapan begitu tinggi akan keberhasilan implantasi embrio. Namun, semua seakan runtuh saat mendengar kalau embrio gagal menempel di dinding rahim. 

Ada banyak faktor yang menyebabkan kenapa proses implantasi embrio tidak berhasil atau gagal. Yang perlu diingat, ini bukanlah salah kamu, karena siapa saja bisa mengalami hal ini. 

Namun untuk mengetahui lebih lanjut, Popmama.com akan menjabarkan apa saja yang menjadi penyebab gagalnya implantasi embrio dan apa saja faktor risikonya. 


  1. 1. Faktor dari embrio

    Freepik.com/atlascompany
    Freepik.com/atlascompany

    Meski sudah dipilih yang terbaik, embrio tetap bisa saja mengalami kegagalan berkembang selama di rahim. Dan inilah yang menjadi salah satu faktor kegagalan terjadinya implantasi embrio di dinding rahim. 

    Kualitas embrio yang tidak bisa berkembang dengan baik memiliki peluang implantasi yang lebih rendah dibanding embrio yang berkembang dengan baik. Ada banyak faktor kenapa embrio tidak bisa berkembang dengan baik, semua kembali pada kualitas sel telur dan sperma. 


  2. 2. Faktor di rahim

    Freepik.com/freepik
    Freepik.com/freepik

    Bagaimana jika embrionya sudah yang terbaik dan bisa berkembang dengan sempurna, namun tetap tidak bisa menempel di dinding rahim? Bisa jadi karena faktor kondisi rahim yang kurang ideal sehingga embrio kesulitan untuk menempel di dinding. 

    Beberapa masalahnya antara lain, dinding rahim terlalu tebal, dinding rahim terlalu tipis, adanya kondisi medis seperti polip atau miom, atau terdapat jaringan parut di dalam rahim. 

    Selain itu, adanya cairan di tuba falopi bisa menjadi masalah karena cairan tersebut bersifat toksik bagi embrio. 

  3. 3. Faktor genetik

    Pexels.com/BOOM💥Photography
    Pexels.com/BOOM💥Photography

    Jika embrio dan rahim sudah tidak ada masalah, maka bisa jadi faktor risikonya datang dari masalah genetik. Sekitar 50-60% keguguran dini disebabkan oleh kelainan kromosom pada embrio. 

    Jadi, embrio terlihat bagus secara morfologi namun memiliki informasi genetik yang salah sehingga tidak bisa berkembang lebih lanjut. Ada juga faktor lain yang berpengaruh seperti gangguan imunologi pada tubuh ibu, terdapat masalah medis lain di tubuh ibu, dan gaya hidup yang kurang sehat juga menjadi risiko lainnya. 

  4. 4. Langkah selanjutnya

    Magnific.com/magnific
    Magnific.com/magnific

    Gagal implantasi embrio bukanlah akhir dari segalanya. Kamu bisa beristirahat sejenak untuk menjernihkan pikiran dan merencanakan ulang untuk program selanjutnya. Lakukan jadwal pertemuan khusus dengan dokter untuk membahas siklus IVF yang telah lalu secara mendetal. 

    Hal ini bisa menjadi tambahan data untuk mengurangi faktor risiko dan meningkatkan keberhasilan di program selanjutnya. 

  5. 5. Pertimbangkan tes tambahan

    Unsplash.com/National Cancer Institute
    Unsplash.com/National Cancer Institute

    Nah, setelah evaluasi menyeluruh dilakukan, dokter mungkin akan menyarankan tes penunjang untuk mencari penyebab kegagalan pada program kali ini. Tesnya antara lain Preimplantation Genetic Testing for Aneuploidies (PGT-A) yang berfungsi untuk menyaring embrio yang memiliki jumlah kromosom normal sebelum melakukan embryo transfer. 

    Tes lainnya adalah Endometrial Receptivity Analysis, yaitu tes untuk menganalisis kondisi endometrium dan menentukan waktu transfer embrio yang paling ideal. Terakhir, jika diperlukan, dokter juga akan melakukan pemeriksaan langsung ke dalam rongga rahim untuk mendeteksi dan mengatasi masalah seperti polip atau adhesi. 

    Sempatkan untuk melewati waktu berduka dengan bijak sehingga tidak ada emosi yang terpendam. Jika dibutuhkan, carilah dukungan dari pasangan, keluarga, atau bergabung dengan kelompok support yang mengalami hal serupa. 

    Jika sudah siap memulai kembali, rencanakan dengan matang, sehingga semuanya bisa lebih terukur. 

    Jangan berhenti di sini, ya. 

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More