"Pertama pasti gangguan haid, ya. Jadi, kalau haidnya lebih banyak, bergumpal—setiap bulannya selalu menggumpal lebih dari 9 hari, kurang dari 2 hari, atau banyaknya ngeflek saja, segera datang ke dokter," ujar dr. Upik.
Sering Perut Begah atau Haid Tak Teratur? Bisa Jadi Tanda Miom

- Miom adalah tumor jinak di rahim yang sering tidak disadari karena gejalanya mirip keluhan umum seperti haid banyak, perut begah, atau pembesaran perut.
- dr. Upik Anggraheni menekankan pentingnya mengenali tanda awal miom seperti gangguan menstruasi, rasa penuh di perut, dan perubahan bentuk tubuh agar segera diperiksa ke dokter.
- Pemeriksaan USG disarankan untuk mendeteksi miom sejak dini karena dapat menunjukkan ukuran dan lokasi tumor sehingga penanganan bisa dilakukan sebelum berkembang lebih besar.
- Miom adalah tumor jinak di rahim yang sering tidak disadari karena gejalanya mirip keluhan umum seperti haid berlebih, perut begah, atau pembesaran perut.
- dr. Upik Anggraheni menekankan pentingnya mengenali tanda awal seperti gangguan haid, rasa penuh di perut, dan perubahan bentuk tubuh agar miom bisa terdeteksi lebih cepat.
- Pemeriksaan USG disarankan saat muncul gejala mencurigakan karena dapat membantu mendeteksi ukuran dan lokasi miom sehingga penanganan bisa dilakukan sebelum berkembang lebih besar.
Miom merupakan tumor jinak yang tumbuh di rahim dan cukup sering dialami perempuan usia reproduktif. Meski bukan kanker, kondisi ini perlu mendapat perhatian karena dapat terus membesar dan menimbulkan berbagai keluhan yang memengaruhi aktivitas sehari-hari.
Sayangnya, banyak perempuan tidak menyadari bahwa dirinya memiliki miom. Gejalanya sering kali dianggap sebagai masalah kesehatan biasa, mulai dari menstruasi yang lebih banyak, perut terasa begah, hingga perubahan bentuk perut yang dianggap sebagai kenaikan berat badan.
Menurut World Health Organization (WHO), sebagian kasus miom bahkan tidak menimbulkan gejala yang jelas pada tahap awal. Hal inilah yang membuat banyak perempuan baru mengetahui keberadaan miom saat ukurannya sudah cukup besar atau ketika menjalani pemeriksaan kesehatan rutin.
Dalam podcast Heart to Health bersama Gritte Agatha, dr. Upik Anggraheni, Sp.OG, Subsp. FER menjelaskan bahwa ada beberapa tanda yang sebenarnya bisa dikenali lebih awal. Dengan lebih peka terhadap perubahan tubuh, Mama bisa mengantisipasi miom sebelum kondisinya berkembang lebih jauh.
Agar tidak terlambat menyadarinya, Popmama.com telah merangkum beberapa cara mengantisipasi miom sejak dini yang penting untuk diketahui.
Table of Content
1. Perhatikan perubahan pola menstruasi yang tidak biasa

Gangguan menstruasi menjadi salah satu tanda yang paling sering ditemukan pada perempuan dengan miom. Namun, banyak yang menganggap perubahan tersebut sebagai bagian normal dari siklus haid sehingga tidak segera memeriksakan diri ke dokter. Padahal, perubahan pola haid yang terjadi terus-menerus bisa menjadi sinyal adanya kondisi tertentu pada rahim.
Dalam podcast Heart to Health, dr. Upik menjelaskan bahwa gangguan haid adalah gejala yang paling sering muncul.
Penjelasan tersebut juga sejalan dengan informasi dari National Health Service (NHS) atau Layanan Kesehatan Nasional Inggris yang menyebutkan bahwa miom dapat menyebabkan menstruasi lebih banyak, berlangsung lebih lama, hingga disertai gumpalan darah. Jika kondisi tersebut terjadi berulang setiap bulan, Mama sebaiknya tidak menunda pemeriksaan agar penyebabnya dapat diketahui lebih cepat.
2. Jangan anggap perut begah sebagai hal biasa

Perut yang terasa penuh, begah, atau tidak nyaman sering kali dikaitkan dengan masalah pencernaan. Padahal, pada beberapa kasus, kondisi tersebut bisa menjadi tanda miom mulai tumbuh dan menekan organ di sekitar rahim.
Dr. Upik juga mengingatkan bahwa rasa penuh atau begah yang muncul, terutama saat menstruasi, perlu mendapatkan perhatian lebih.
"Atau kalau merasa perutnya membesar, penuh, begah, terutama saat haid, ya segera ke dokter," jelasnya.
Menurut National Institutes of Health (NIH) Amerika Serikat, miom yang berukuran besar dapat menekan kandung kemih, usus, maupun organ reproduksi lainnya sehingga menimbulkan sensasi penuh pada perut bagian bawah. Jika keluhan tersebut terus berulang tanpa penyebab yang jelas, Mama sebaiknya mempertimbangkan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
3. Waspadai pembesaran perut yang tidak normal

Tidak semua perut yang membesar disebabkan oleh kenaikan berat badan. Dalam beberapa kasus, miom yang terus tumbuh dapat membuat area perut bagian bawah terlihat lebih menonjol dan terasa lebih keras dibandingkan biasanya.
Dr. Upik membagikan pengalaman mengenai pasien muda yang tidak menyadari dirinya memiliki miom berukuran besar karena menganggap perubahan bentuk tubuhnya sebagai hal yang wajar. Padahal, ukuran miom tersebut sudah cukup besar untuk menimbulkan perubahan fisik yang terlihat.
"Ada beberapa pasien kemarin datang, usianya baru 20 tahun, terus dia nggak ngerasa ada miom, miomnya udah 15 cm. Harusnya berasa dong, di mana-mana kalau miomnya udah 15 cm ya pasti keras. Tapi dia merasa itu sesuatu yang normal, katanya saya pikir saya gendut aja karena makannya banyak," ungkap dr. Upik.
Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), ukuran miom dapat berkembang dari sangat kecil hingga cukup besar untuk mengubah bentuk rahim. Itulah mengapa perubahan bentuk perut yang terasa tidak biasa sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai efek pola makan atau kenaikan berat badan semata.
4. Kenali faktor risiko miom dalam keluarga

Meski penyebab pasti miom belum diketahui, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa faktor genetik memiliki peran yang cukup besar terhadap risiko seseorang mengalami kondisi ini. Perempuan yang memiliki ibu atau saudara perempuan dengan riwayat miom diketahui memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak memiliki riwayat keluarga serupa.
Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), miom juga lebih sering ditemukan pada perempuan usia reproduktif karena pertumbuhannya dipengaruhi hormon estrogen dan progesteron. Risiko tersebut dapat meningkat apabila faktor hormonal dan genetik terjadi secara bersamaan.
Memiliki riwayat keluarga bukan berarti Mama pasti akan mengalami miom. Namun, informasi tersebut dapat menjadi pengingat untuk lebih memperhatikan kesehatan reproduksi dan tidak mengabaikan gejala-gejala yang muncul, sekecil apa pun keluhannya.
5. Jangan menunda pemeriksaan USG saat ada gejala mencurigakan

Banyak perempuan merasa khawatir ketika dokter menyarankan pemeriksaan USG. Padahal, USG merupakan salah satu metode yang paling umum digunakan untuk membantu melihat kondisi organ reproduksi dan mendeteksi keberadaan miom.
Dalam podcast Heart to Health, dr. Upik menegaskan bahwa pemeriksaan sederhana seperti USG dapat membantu memastikan apakah terdapat kelainan pada rahim atau tidak.
"Jadi tolong kalau ada pembesaran yang menurut kamu nggak biasa, segeralah periksa ke dokter, cuma butuh nempel USG doang kok, biar tahu aja di dalamnya ada sesuatu yang nggak normal atau tidak," ujar dr. Upik.
Menurut National Health Service (NHS), USG merupakan pemeriksaan utama yang sering digunakan untuk membantu mendiagnosis miom karena dapat menunjukkan ukuran, jumlah, serta lokasi pertumbuhannya. Dengan mengetahui kondisi sejak dini, dokter dapat menentukan langkah penanganan yang paling sesuai sebelum miom berkembang menjadi lebih besar.
Miom memang tidak selalu dapat dicegah, tetapi gejalanya bisa dikenali lebih awal. Mulai dari perubahan pola menstruasi, rasa penuh pada perut, hingga pembesaran perut yang tidak biasa merupakan beberapa tanda yang sebaiknya tidak diabaikan.
Semakin cepat miom terdeteksi, semakin besar peluang untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan mencegah komplikasi di kemudian hari. Jadi, jika Mama merasa ada perubahan pada tubuh yang tidak biasa, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter dan melakukan pemeriksaan yang diperlukan.
Menurut Mama, apakah masih banyak perempuan yang menganggap gejala miom sebagai keluhan biasa sehingga terlambat memeriksakan diri ke dokter?


















