Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Pantangan Makanan yang Menurunkan Kualitas Sel Telur dan Sperma

Pantangan Makanan yang Menurunkan Kualitas Sel Telur dan Sperma
Popmama.com/Erica Santoso/AI
  • Nutrisi harian memengaruhi kualitas sperma dan sel telur; pola makan kurang tepat dapat memicu peradangan, stres oksidatif, serta gangguan materi genetik reproduksi.
  • Makanan ultra-proses, lemak trans, daging olahan, produk susu tinggi lemak, dan karbohidrat tinggi gula dikaitkan dengan gangguan hormon, produksi, konsentrasi, hingga pergerakan sperma serta ovulasi.
  • Paparan BPA dari kemasan makanan-minuman dan konsumsi alkohol dapat mengacaukan sinyal hormon reproduksi, menurunkan kualitas sel telur, mengurangi produksi sperma, serta mengganggu siklus menstruasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Merencanakan kehamilan membutuhkan kerja sama yang kompak antara Mama dan Papa. Keberhasilan promil tidak hanya bergantung pada kesehatan rahim, tetapi juga pada kualitas sel telur serta sperma yang akan bertemu saat pembuahan.

Melansir dari Apollo Spectra Hospitals, kesehatan sperma dan sel telur sangat dipengaruhi oleh nutrisi harian. Memilih pola makan yang salah dapat memicu peradangan, meningkatkan stres oksidatif, hingga merusak materi genetik sel reproduksi.

Memahami jenis hidangan yang perlu dibatasi sangat penting agar peluang kehamilan semakin besar. Berikut Popmama.com bagikan jenis makanan yang menurunkan kualitas sel telur atau sperma untuk Mama dan Papa!

  1. 1. Makanan ultra-proses yang merusak respons hormon reproduksi

    ilustrasi makan burger
    ilustrasi makan burger (pexels.com/Tim Samuel)

    Makanan kemasan, mi instan, hingga camilan gurih berpenyedap termasuk dalam kategori makanan ultra-proses. Hidangan jenis ini umumnya minim gizi namun tinggi bahan tambahan pangan sintetis.

    Mengonsumsi makanan ultra-proses secara rutin dapat menurunkan kadar hormon penstimulasi pembentukan sperma (FSH). Akibatnya, jumlah dan pergerakan sperma akan menurun secara signifikan.

    Bagi Mama, makanan ultra-proses juga memicu lonjakan kadar peradangan di dalam tubuh. Kondisi ini membuat lingkungan tempat pematangan sel telur menjadi kurang optimal.

  2. 2. Lemak trans yang menurunkan konsentrasi dan motilitas sperma

    ilustrasi masak ayam goreng, kriuk, krispi, crispy fried chicken, paha ayam, minyak goreng
    ilustrasi masak ayam goreng, kriuk, krispi, crispy fried chicken, paha ayam, minyak goreng (vecteezy.com/Zero Studio)

    Lemak trans banyak ditemukan pada gorengan cepat saji, margarin cair industri, serta kue-kue kemasan. Jenis lemak jahat ini sangat berbahaya bagi kesehatan pembuluh darah maupun sistem reproduksi.

    Asupan lemak trans berlebih dapat merangsang pelepasan zat peradangan di dalam aliran darah Papa. Peradangan ini mengganggu fungsi testis dalam memproduksi sperma yang sehat.

    Melansir dari Apollo Spectra Hospitals, lemak trans berkaitan langsung dengan penurunan konsentrasi sperma dan kadar hormon testosteron. Pada sel telur, lemak jahat ini juga mengganggu sensitivitas hormon kesuburan.

  3. 3. Daging olahan yang menekan produksi hormon testosteron

    Daging olahan yang menekan produksi hormon testosteron
    Popmama.com/Erica Santoso/AI

    Produk daging olahan seperti sosis, nugget, atau daging asap mengalami proses pengolahan panjang. Bahan pengawet dan kandungan lemak jenuhnya tergolong sangat tinggi.

    Proses pengolahan tersebut dapat menurunkan nilai gizi alami daging sekaligus mengganggu metabolisme tubuh. Akibatnya, produksi hormon testosteron pada laki-laki- bisa melambat.

    Padahal, testosteron sangat dibutuhkan untuk menjaga kelancaran proses pematangan sperma baru. Menggantinya dengan daging segar tanpa lemak jauh lebih aman untuk promil.

  4. 4. Produk susu tinggi lemak yang kaya kandungan estrogen tambahan

    ilustrasi menuang susu dalam gelas berisi teh
    ilustrasi menuang susu dalam gelas berisi teh (pexels.com/Miriam Alonso)

    Produk susu full cream dan keju olahan mengandung sejumlah kecil hormon estrogen alami. Hormon ini berasal dari susu sapi hamil yang diperah secara komersial.

    Kandungan lemak yang tinggi membuat estrogen tersebut terkonsentrasi di dalam produk olahannya. Jika dikonsumsi berlebihan oleh Papa, keseimbangan hormon kesuburannya bisa terganggu.

    Dampaknya, pergerakan dan bentuk fisik sperma menjadi kurang sempurna saat berenang menuju sel telur. Mama dan Papa disarankan memilih produk susu rendah lemak selama promil.

  5. 5. Karbohidrat tinggi gula yang memicu lonjakan insulin mendadak

    Karbohidrat tinggi gula yang memicu lonjakan insulin mendadak
    Popmama.com/Erica Santoso/AI

    Makanan seperti roti putih, nasi putih berlebih, dan olahan tepung halus sangat cepat dicerna menjadi gula darah. Lonjakan gula ini memaksa tubuh memproduksi hormon insulin secara berlebihan.

    Kadar insulin yang terlalu tinggi dapat mengganggu pelepasan sel telur dari indung telur Mama. Hal ini membuat pembuahan sulit terjadi meski sedang berada di masa subur.

    Pada Papa, lonjakan insulin menekan kadar protein yang bertugas mengangkut hormon testosteron bebas. Keseimbangan hormon reproduksi pun menjadi tidak stabil.

  6. 6. Makanan dan minuman kemasan yang terpapar zat kimia BPA

    ilustrasi suasana lorong supermarket yang ramai dengan seorang pembeli
    ilustrasi suasana lorong supermarket yang ramai dengan seorang pembeli (pexels.com/Hobi industri)

    Wadah kemasan kaleng atau plastik sering kali mengandung bahan kimia berbahaya bernama Bisphenol A (BPA). Paparan zat ini dapat berpindah ke dalam makanan yang Mama konsumsi.

    Paparan BPA dalam kadar tinggi diketahui dapat menurunkan kualitas sel telur pada perempuan. Zat ini bertindak menyerupai hormon palsu yang mengacaukan sinyal reproduksi alami.

    Selain itu, BPA juga mengurangi jumlah produksi sperma pada pria. Mengganti wadah kemasan dengan bahan kaca atau stainless steel merupakan langkah pencegahan yang bijak.

  7. 7. Konsumsi minuman beralkohol yang mengganggu kestabilan hormon

    Konsumsi minuman beralkohol yang mengganggu kestabilan hormon
    Popmama.com/Erica Santoso/AI

    Mengonsumsi minuman beralkohol secara rutin dapat menekan produksi testosteron dan meningkatkan hormon estrogen pada Papa. Perubahan ini memperlambat proses pembentukan sperma baru.

    Pada Mama, alkohol dapat memicu ketidakberhasilan ovulasi dan mengacaukan siklus menstruasi. Kualitas sel telur yang dihasilkan pun menjadi kurang maksimal untuk dibuahi.

    Karena sperma diperbarui setiap 72 hari, menghentikan kebiasaan alkohol sangat membantu memperbaiki kualitas air mani. Kebugaran tubuh secara menyeluruh pun akan membaik.

    Ingat ya Ma, membatasi makanan pantangan ini merupakan bentuk ikhtiar terbaik demi menyambut kehadiran si Kecil. Tetap semangat, telaten merawat diri bersama Papa, dan selalu cintai prosesnya ya, Mama!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More