Apakah AHA dan BHA Aman untuk Ibu Hamil? Ini Penjelasannya

AHA dan BHA dikenal sebagai bahan aktif eksfoliasi yang membantu memperbaiki tekstur kulit.
AHA umumnya dianggap aman untuk ibu hamil jika konsentrasinya di bawah 10 persen, sedangkan keamanan BHA masih memerlukan penelitian.
BHA berisiko lebih tinggi terutama dalam dosis besar, sementara AHA relatif lebih aman tetapi tetap bisa menyebabkan iritasi bila digunakan berlebihan.
Perubahan hormon yang terjadi saat hamil sering kali memicu berbagai masalah kulit, mulai dari jerawat, kulit kusam, hingga hiperpigmentasi. Kondisi ini membuat sebagian ibu hamil mulai mempertimbangkan penggunaan skincare dengan kandungan aktif seperti AHA dan BHA.
Namun, tidak semua bahan skincare dapat digunakan dengan bebas saat hamil. AHA dan BHA memang dikenal efektif membantu proses eksfoliasi dan memperbaiki tekstur kulit, tetapi penggunaannya pada ibu hamil dikhawatirkan dapat terserap ke dalam tubuh dan berdampak pada janin.
Lalu, sebenarnya apakah AHA dan BHA aman untuk bu hamil? Berikut penjelasan lengkap yang telah Popmama.com rangkum untuk Mama. Yuk, simak!
Table of Content
1. Apakah AHA dan BHA aman untuk ibu hamil?

AHA umumnya masih dianggap aman digunakan oleh ibu hamil selama konsentrasinya di bawah 10 persen. Kandungan ini bekerja di permukaan kulit untuk membantu eksfoliasi sehingga risikonya lebih rendah dibandingkan bahan aktif tertentu lainnya. Meski begitu, penggunaannya tetap perlu dibatasi dan tidak digunakan secara berlebihan.
Sementara itu, keamanan BHA pada ibu hamil masih menjadi pertanyaan. Beberapa pendapat menyebutkan bahwa BHA dengan konsentrasi rendah kemungkinan masih aman, tetapi hingga kini masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan hal tersebut.
2. Apa itu AHA dan BHA?

AHA merupakan singkatan dari alpha hydroxy acid atau asam alfa hidroksi dan BHA adalah beta hydroxy acid atau asam beta hidroksi. Keduanya dikenal sebagai eksfolian kimia yang bekerja membantu mengangkat sel kulit mati serta membersihkan lapisan kulit bagian atas.
AHA dan BHA juga bermanfaat untuk membantu mencerahkan kulit, menyamarkan garis halus, memperbaiki tekstur kulit, serta membantu mencegah tanda-tanda penuaan dini. Karena manfaat tersebut, kedua kandungan ini banyak digunakan dalam berbagai produk kecantikan dan skincare.
3. Perbedaan AHA dan BHA

Perbedaan utama antara AHA dan BHA terletak pada cara kerja serta kemampuan penetrasinya di kulit. AHA bersifat larut dalam air dan bekerja di permukaan kulit, sehingga membantu mengangkat sel kulit mati, mencerahkan kulit, serta menyamarkan garis halus. Karena sifatnya tersebut, AHA umumnya lebih cocok digunakan untuk pemilik kulit kering hingga normal.
Sementara itu, BHA bersifat larut dalam minyak sehingga mampu menembus hingga ke dalam pori-pori. Kandungan ini bekerja membersihkan minyak berlebih dan membantu mengatasi jerawat maupun komedo. Oleh karena itu, BHA lebih sesuai digunakan pada kulit berminyak dan rentan berjerawat.
4. Nama AHA dan BHA dalam kandungan skincare

Kandungan AHA dan BHA dapat ditemukan pada produk skincare, tetapi biasanya tidak selalu ditulis langsung dengan nama AHA atau BHA. Pada label komposisi produk, AHA dapat ditemukan dengan beberapa nama turunan, seperti asam glikolat (glycolic acid), asam laktat (lactic acid), asam sitrat (citric acid), asam hidroksikaprilat (hydroxycaprylic acid), dan asam hidroksikaprit (hydroxycapric acid).
Sementara itu, BHA paling sering ditemukan dengan nama asam salisilat (salicylic acid). BHA juga bisa tercantum sebagai salisilat, natrium salisilat (sodium salicylate), ekstrak willow (willow bark extract), asam beta hidroksibutanoat, asam tropis, hingga asam trethocanic.
Karena nama kandungannya bisa berbeda-beda, Mama disarankan membaca daftar komposisi produk dengan teliti sebelum menggunakan skincare, terutama selama masa kehamilan.
5. Risiko penggunaan AHA dan BHA

Dibandingkan AHA, penggunaan BHA memang dinilai memiliki risiko lebih tinggi, terutama jika digunakan dalam dosis besar. Kandungan BHA yang paling sering ditemukan dalam skincare adalah asam salisilat. Risiko serius pada ibu hamil umumnya berkaitan dengan asam salisilat dalam bentuk konsumsi (oral), karena dapat meningkatkan risiko gangguan perkembangan janin serta komplikasi kehamilan.
Sementara BHA dalam bentuk produk oles hanya terserap dalam jumlah kecil melalui kulit. Meski begitu, penggunaannya tetap tidak dianjurkan secara berlebihan atau dalam konsentrasi tinggi selama kehamilan. Pemakaian terlalu sering juga berisiko membuat kulit menjadi lebih sensitif.
Adapun AHA dalam jumlah kecil dan konsentrasi rendah umumnya dinilai lebih aman digunakan. Namun, kondisi kulit ibu hamil cenderung lebih sensitif akibat perubahan hormon. Jika digunakan berlebihan, AHA tetap dapat menimbulkan efek samping seperti iritasi, kemerahan, kulit kering, hingga gangguan keseimbangan kulit.
Jadi, ibu hamil masih diperbolehkan menggunakan skincare dengan kandungan AHA dan BHA selama konsentrasinya di bawah 10 persen. Semoga informasi ini bermanfaat, Mama!













-5c99955c4fdf21572248a9b4e646aade.png)




