Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Benarkah Makanan Favorit Anak Mengikuti Kebiasaan Ibu saat Hamil?
Magnific
  • Penelitian menunjukkan rasa makanan ibu saat hamil atau menyusui dapat masuk ke cairan ketuban dan ASI, sehingga bayi lebih menerima rasa serupa saat mulai makan.

  • Studi pada wortel, bawang putih, vanila, adas manis, dan mint menemukan janin maupun bayi dapat mengenali aroma dan rasa. Paparan berulang berpotensi memengaruhi preferensi hingga masa kanak-kanak.

  • Indra pengecap dan penciuman berkembang sejak kehamilan. Studi USG 4D memperlihatkan janin bereaksi berbeda terhadap wortel dan kale, sementara sensitivitas rasa meningkat setelah lahir.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat si Kecil mulai mengenal berbagai makanan, Mama mungkin melihat ada rasa tertentu yang lebih mudah diterimanya dibandingkan makanan lain. Menariknya, pengalaman bayi dalam mengenal rasa ternyata sudah dimulai sejak masih berada di dalam kandungan.

Beberapa penelitian menemukan bahwa rasa dari makanan yang dikonsumsi Mama selama hamil dapat sampai ke cairan ketuban. Setelah bayi lahir dan mulai menyusu, rasa tersebut juga dapat dikenali melalui ASI. Pengalaman ini kemudian dapat memengaruhi respons bayi ketika ia mulai mencoba makanan dengan rasa serupa.

Lantas, benarkah makanan favorit anak mengikuti kebiasaan ibu saat hamil? Berikut Popmama.com telah merangkum informasi lengkapnya di bawah ini.

Makanan yang Dikonsumsi Ibu Bisa Memengaruhi Respons Anak terhadap Rasa

Magnific

Salah satu penelitian yang melihat hal ini dilakukan Julie Mennella dan diterbitkan dalam jurnal Pediatrics pada 2001. Penelitian tersebut melibatkan tiga kelompok ibu hamil di Monell Chemical Senses Center.

Kelompok pertama diminta mengonsumsi 300 mililiter jus wortel empat hari dalam seminggu selama tiga minggu pada trimester akhir kehamilan. Kelompok kedua melakukan hal yang sama selama dua bulan pertama menyusui, sedangkan kelompok kontrol tidak mendapatkan jus wortel.

Ketika bayi mulai memasuki masa penyapihan dan diperkenalkan dengan sereal rasa wortel, terlihat perbedaan pada respons mereka. Bayi yang sebelumnya sudah mendapatkan paparan rasa wortel melalui cairan ketuban atau ASI cenderung makan lebih banyak sereal rasa wortel.

Mereka juga tidak terlalu menunjukkan ekspresi negatif saat mencicipinya. Julie menjelaskan bahwa pengalaman bayi merasakan wortel sejak sebelum lahir atau melalui ASI dapat membuat mereka lebih menerima rasa tersebut ketika mulai makan.

Rasa dari Makanan Ibu Bisa Dikenali Bayi Sejak dalam Kandungan

Magnific

Penelitian Julie sebelumnya juga menggunakan bawang putih untuk melihat bagaimana rasa makanan dapat dikenali bayi. Hasilnya menunjukkan bahwa bawang putih dan beberapa bahan makanan lain dapat melewati plasenta dan masuk ke ASI.

Dengan begitu, aroma yang berasal dari makanan tersebut dapat dikenali oleh janin maupun bayi setelah lahir. Beberapa rasa yang ditemukan dapat ditransfer ke cairan ketuban dan ASI antara lain vanila, wortel, bawang putih, adas manis, dan mint.

Temuan ini juga sejalan dengan penjelasan Direktur Fetal Research Centre di Queen's University Belfast. Ia mengatakan bahwa kesukaan anak terhadap rasa tertentu, seperti bawang putih, bisa berasal dari kebiasaan makan ibunya selama hamil.

Menurutnya, janin yang terpapar bawang putih sejak berada di dalam rahim cenderung lebih menyukai rasa tersebut di kemudian hari. Penelitian bahkan menunjukkan hal ini dapat terlihat hingga anak berusia setidaknya delapan tahun.

Janin Bisa Menunjukkan Respons terhadap Rasa yang Dikenalkan Ibu

Magnific

Penelitian yang lebih baru kemudian mencoba melihat respons janin secara langsung. Studi yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Science pada 2022 ini melibatkan 100 ibu hamil dengan usia kehamilan 32-36 minggu.

Sebelum menjalani pemeriksaan USG 4D, setiap ibu diberikan kapsul yang berisi bubuk wortel atau sayur kale. Dari pemeriksaan tersebut, peneliti melihat adanya perbedaan ekspresi wajah janin setelah terpapar kedua rasa tersebut.

Janin yang mendapatkan paparan wortel menunjukkan ekspresi wajah seperti tertawa, dengan bibir yang tampak terangkat. Sementara itu, janin yang terpapar kale dengan rasa pahit menunjukkan ekspresi seperti menangis.

Beyza Ustun dari Durham's Fetal and Neonatal Research Lab menjelaskan bahwa paparan rasa yang berulang sebelum bayi lahir dapat membantu membentuk preferensi makanan setelah kelahiran.

Hal serupa disampaikan Jackie Blissett. Menurutnya, mengenalkan rasa yang cenderung kurang disukai seperti kale mungkin membantu bayi menjadi lebih terbiasa dengan rasa tersebut sejak masih berada di dalam kandungan.

Kemampuan Bayi Mengenali Rasa Mulai Berkembang saat Hamil

Magnific

Respons bayi terhadap rasa tersebut tidak terlepas dari perkembangan indra pengecapnya. Mengutip dari Baby Center, lidah bayi mulai terbentuk saat usia kehamilan memasuki 4-5 minggu.

Memasuki minggu ke-8, indra pengecap mulai muncul. Perkembangannya kemudian berlanjut pada minggu ke-11 hingga ke-13. Pada minggu ke-14 hingga ke-15, sel-sel saraf mulai membentuk koneksi antara indra pengecap dan saraf yang membawa pesan pengecapan menuju otak.

Layan Alrahmani, M.D., dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi sekaligus Dewan Penasihat Medis Baby Center, menjelaskan bahwa sekitar usia kehamilan 30 minggu, koneksi tersebut sudah terbentuk sepenuhnya dan mulai berfungsi.

Bukan hanya indra pengecap, kemampuan mencium juga mulai berkembang selama masa kehamilan. Sel-sel yang dibutuhkan untuk indra penciuman mulai berkembang sekitar minggu ke-9 hingga ke-11.

Keduanya saling berkaitan dalam mengenali makanan. Jika indra pengecap membantu mengetahui rasa seperti manis, pahit, asin, dan asam, indra penciuman membantu mengenali rasa makanan tertentu.

Setelah Lahir, Bayi Mulai Mengenali Rasa dengan Lebih Sensitif

Magnific

Meski kemampuan mengecap sudah berkembang sejak dalam kandungan, organ pengecap bayi belum terlalu sensitif selama masih berada di rahim.

Setelah lahir, kemampuan tersebut menjadi lebih sensitif sehingga bayi dapat mengenali rasa manis, asam, dan pahit. Layan menjelaskan bahwa bayi pada umumnya lebih menyukai rasa manis, salah satunya karena rasa tersebut juga terdapat dalam ASI.

Sementara itu, kemampuan bayi mengenali rasa asin berkembang lebih lama. Bayi mungkin baru dapat mengenali rasa asin ketika memasuki usia sekitar 2 hingga 6 bulan.

Jadi, makanan favorit anak memang dapat dipengaruhi oleh pengalaman rasa yang diperoleh sejak dalam kandungan. Kebiasaan makan Mama selama hamil menjadi salah satu cara si Kecil mengenal berbagai rasa bahkan sebelum ia mulai makan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article