Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Ibu Hamil di Gresik Terpapar Mikroplastik, Ditemukan dalam Air Ketuban
Unsplash/downrightpunch
  • Riset Ecoton dan Universitas Airlangga menemukan seluruh 42 sampel air ketuban ibu melahirkan di Gresik mengandung mikroplastik, didominasi jenis polyethylene dari plastik sekali pakai.

  • Mikroplastik berpotensi memicu stres oksidatif, peradangan, serta mengganggu fungsi organ dan perkembangan bayi dalam kandungan.

  • Penggunaan plastik sekali pakai dan pembakaran sampah meningkatkan paparan mikroplastik yang bisa masuk lewat makanan, udara, dan kulit.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Gaya hidup yang semakin praktis di zaman sekarang menimbulkan beberapa risiko. Salah satu isunya yakni paparan mikroplastik yang semakin mengkhawatirkan, terutama bagi ibu hamil

Temuan terbaru menunjukkan bahwa partikel plastik berukuran sangat kecil tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga telah masuk ke dalam tubuh manusia, bahkan hingga ke dalam rahim.

Riset yang dilakukan oleh Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) bersama Universitas Airlangga mengungkap fakta mengejutkan terkait paparan mikroplastik pada ibu hamil. Riset itu diunggah pada 24 Februari 2026 dengan judul Research Report : Alarm from Microplastics in Amniotic Fluids of Women in Gresik, Indonesia.

Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya!

1. 100 persen sampel air ketuban mengandung mikroplastik

commons.wikimedia.org/European Commission/Lukasz Kobus

Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton, Rafika Aprilianti, dalam riset itu menyebut dari 42 sampel air ketuban (amnion) ibu melahirkan di Gresik yang diuji, seluruhnya terdeteksi mengandung mikroplastik.

Partikel yang ditemukan berukuran lebih besar dari 0,45 mikrometer (µm), dengan jenis dominan berupa fiber dan fragmen. Jenis polimer yang paling banyak ditemukan adalah polyethylene, yang umum berasal dari botol air minum kemasan, wadah makanan panas berbahan plastik, tas kresek, hingga gelas plastik sekali pakai.

Temuan ini menandai bahwa paparan mikroplastik telah mencapai ruang yang seharusnya paling steril dan aman bagi perkembangan janin.

2. Berpotensi mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin

commons.wikimedia.org/European Commission/Lukasz Kobus

Menurut peneliti Ecoton, keberadaan mikroplastik dalam air ketuban berisiko memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan bayi dalam kandungan. Mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh dapat menetap di organ vital dan berpotensi memicu kerusakan sel.

Ancaman paling serius disebut berada pada sistem peredaran darah, karena partikel asing ini dapat mengganggu fungsi organ dalam jangka panjang. Para peneliti menyebut kondisi ini sebagai “era mikroplastik”, di mana paparan plastik sudah menyentuh tahap paling mendasar dalam kehidupan manusia.

3. Mikroplastik juga ditemukan di ASI, darah, hingga otak

Freepik/rawpixel.com

Temuan ini memperkuat riset Ecoton sebelumnya yang sejak 2017 telah mendeteksi mikroplastik dalam feses, air susu ibu (ASI), urine, darah perempuan, hingga air ketuban.

Tak hanya itu, riset kolaboratif antara Greenpeace dan Universitas Indonesia pada Maret 2025 juga menemukan mikroplastik telah menembus jaringan otak manusia.

Studi global yang menjadi rujukan penelitian tersebut menunjukkan konsentrasi plastik di otak bisa 7-30 kali lebih tinggi dibandingkan hati atau ginjal, bahkan meningkat hingga 50 persen dalam delapan tahun terakhir. Kondisi ini diduga berpotensi memengaruhi fungsi saraf dan kemampuan kognitif.

4. Kebiasaan plastik sekali pakai jadi pemicu utama

Pexels/mali

Peneliti Ecoton menilai kebiasaan menggunakan plastik sekali pakai untuk makanan dan minuman meningkatkan risiko paparan mikroplastik dalam tubuh. Plastik yang dibuang tanpa pengolahan layak akan terurai menjadi partikel kecil dan kembali masuk ke rantai makanan maupun udara.

Data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2023 mencatat timbunan sampah nasional mencapai 31,9 juta ton. Sebanyak 7,8 juta ton di antaranya adalah sampah plastik, dan 57 persen masih ditangani dengan cara dibakar yang justru mempercepat penyebaran mikroplastik ke udara.

Indonesia juga disebut sebagai penyumbang sampah plastik laut terbesar ketiga di dunia, yang memperparah paparan mikroplastik pada masyarakat.

5. Langkah mitigasi: Kurangi plastik dan hindari microbeads

Pinterest/River Sarah

Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau untuk mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai serta menghindari produk kosmetik yang mengandung microbeads atau scrub plastik. Mikroplastik dapat masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan, makanan, minuman, bahkan melalui kulit. 

Karena itu, perubahan gaya hidup menjadi langkah penting untuk menekan paparan, terutama bagi ibu hamil yang rentan terhadap dampak kesehatan jangka panjang.

Itulah tadi informasi mengenai ibu hamil di Gresik terpapar mikroplastik. Yuk, sebisa mungkin hindari menggunakan plastik sekali pakai.

Editorial Team