Kehamilan merupakan salah satu fase penting yang membuat Mama perlu lebih memperhatikan kondisi kesehatan tubuh. Selama masa ini, perubahan sistem kekebalan tubuh dapat membuat ibu hamil lebih rentan terhadap berbagai infeksi, termasuk influenza A.
Kenali Dampak Influenza A pada Ibu Hamil dan Risiko bagi Janin

Studi pada tikus hamil menemukan infeksi influenza A sedang hingga berat dapat memengaruhi perkembangan saraf janin, terutama melalui respons imun ibu, bukan paparan virus langsung.
Risiko dampak pada janin meningkat saat infeksi mencapai tingkat keparahan tertentu; influenza pada kehamilan juga dapat memicu rawat inap, persalinan prematur, dan komplikasi terkait demam tinggi.
Gejala influenza A meliputi demam, batuk, nyeri tubuh, dan lelah. Vaksin influenza direkomendasikan selama hamil, sementara vaksin semprotan hidung tidak dianjurkan.
Penyakit yang disebabkan oleh virus influenza ini umumnya menyerang saluran pernapasan dan dapat menimbulkan gejala yang perlu diwaspadai selama kehamilan. Terlebih, sebuah studi menemukan bahwa paparan influenza A saat hamil berpotensi memengaruhi perkembangan janin.
Berikut Popmama.com telah rangkum studi mengenai dampak influenza A pada ibu hamil dan risiko bagi janin.
1. Studi ungkap dampak paparan Influenza A pada ibu hamil

Popmama.com/Nindiani Rizka Dwiningtyas/AI Sebuah studi dalam jurnal Molecular Psychiatry (2024) meneliti bagaimana infeksi influenza A selama kehamilan dapat memengaruhi perkembangan janin.
Dikutip dari News-Medical Life Sciences, penelitian tersebut menggunakan tikus hamil yang sengaja diberikan virus influenza A hidup dengan tingkat infeksi sedang hingga berat. Infeksi diberikan pada fase kehamilan yang setara dengan mendekati akhir trimester pertama pada manusia.
Peneliti kemudian mengamati kondisi induk dan janin pada hari kedua serta ketujuh setelah infeksi untuk melihat perkembangan penyakit sekaligus respons imun yang terjadi. Pemeriksaan juga dilakukan terhadap otak janin, termasuk ketebalan korteks yang menjadi salah satu indikator perkembangan sistem saraf.
“Kami menemukan bahwa penanda berukuran paling besar, yang seharusnya tidak dapat masuk ke otak ketika sawar darah otak berfungsi dengan baik, justru terakumulasi di otak janin ketika induknya mengalami infeksi influenza yang parah,” ujar Rafael Gonzalez-Rincon, penulis pertama studi sekaligus kandidat doktor dalam Neuroscience Program di University of Illinois.
Hasilnya menunjukkan bahwa perubahan pada perkembangan saraf janin lebih berkaitan dengan respons kekebalan tubuh ibu terhadap infeksi daripada paparan virus secara langsung.
2. Infeksi influenza A memiliki tingkat risiko yang berbeda pada janin

Popmama.com/Nindiani Rizka Dwiningtyas/AI Tidak semua ibu hamil yang mengalami infeksi influenza A akan mengalami dampak pada perkembangan saraf janinnya. Perbandingan antara infeksi dengan tingkat keparahan sedang dan berat dalam penelitian menunjukkan adanya batas tertentu, di mana risiko terhadap perkembangan saraf lebih mungkin muncul ketika infeksi mencapai tingkat yang cukup parah.
Adrienne Antonson, penulis senior studi sekaligus asisten profesor di Department of Animal Sciences, University of Illinois, menjelaskan bahwa temuan tersebut sejalan dengan adanya ambang keparahan infeksi yang dapat memicu dampak tertentu pada janin.
“Tidak semua ibu hamil yang terpapar virus akan melahirkan anak dengan gangguan perkembangan saraf. Hasil penelitian kami semakin memperkuat adanya batas tingkat keparahan infeksi atau kondisi penyakit tertentu. Artinya, infeksi perlu mencapai tingkat keparahan tertentu sebelum dapat menimbulkan dampak tersebut. Pada ibu hamil, vaksinasi influenza dapat membantu mengurangi risiko dampak yang lebih berat, sehingga kami sangat menganjurkan untuk mendapatkan vaksinasi,” ungkap Antonson.
Ia juga mengingatkan bahwa vaksinasi influenza selama kehamilan dapat membantu menurunkan risiko mengalami infeksi yang parah.
3. Risiko ibu hamil terkena influenza A

Popmama.com/Nindiani Rizka Dwiningtyas/AI Kehamilan dapat menyebabkan perubahan pada sistem kekebalan tubuh, sehingga Mama menjadi lebih rentan terkena infeksi seperti influenza. Mengalami influenza saat hamil juga dapat meningkatkan risiko terjadinya sejumlah komplikasi kehamilan, terutama jika infeksinya cukup berat.
Dikutip dari Healthline, beberapa komplikasi yang dapat terjadi meliputi:
Memerlukan perawatan di rumah sakit
Persalinan prematur sebelum usia kehamilan 37 minggu
Kelahiran prematur
Dalam kondisi yang sangat jarang, influenza selama kehamilan juga dapat meningkatkan risiko kematian akibat infeksi tersebut. Selain berdampak pada kondisi Mama, influenza selama kehamilan juga dapat memengaruhi janin.
Demam tinggi yang menyertai infeksi influenza selama kehamilan, misalnya, dikaitkan dengan risiko terjadinya kondisi bawaan tertentu pada bayi, termasuk kelainan tabung saraf dan perubahan pada perkembangan jantung janin.
4. Gejala Influenza A yang perlu diwaspadai

Magnific/benzoix Influenza A merupakan jenis virus influenza yang paling umum dan menjadi salah satu tipe yang lebih mungkin menginfeksi ibu hamil.
Dikutip dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), virus influenza A merupakan satu-satunya jenis virus influenza yang diketahui dapat menyebabkan pandemi flu, yakni penyebaran penyakit influenza secara luas hingga ke berbagai negara.
Walaupun termasuk infeksi yang umum terjadi, ibu hamil tetap perlu memperhatikan risiko penularan influenza A. Berikut beberapa tanda-tanda influenza A yang perlu diperhatikan:
Demam dengan suhu 38°C atau lebih
Menggigil
Sakit tenggorokan
Batuk
Hidung tersumbat
Nyeri tubuh atau otot
Sakit kepala
Mudah lelah
Muntah
Diare
Mengenali gejalanya sejak awal dapat membantu Mama lebih waspada terhadap kondisi kesehatan selama kehamilan.
5. Cara mencegah terinfeksi Influenza A saat hamil

Popmama.com/Nindiani Rizka Dwiningtyas/AI Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk membantu melindungi Mama dan janin dari influenza selama kehamilan adalah mendapatkan vaksin influenza. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan vaksinasi influenza bagi ibu hamil karena dapat membantu mengurangi risiko infeksi sekaligus komplikasi yang mungkin terjadi.
Namun, vaksin influenza dalam bentuk semprotan hidung tidak dianjurkan selama kehamilan karena menggunakan virus hidup yang telah dilemahkan. Mama juga sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum mendapatkan vaksin, terutama jika memiliki riwayat alergi atau pernah mengalami reaksi tertentu setelah vaksinasi sebelumnya.
Studi yang diterbitkan dalam Clinical Infectious Diseases pada 2018 menemukan bahwa pemberian vaksin influenza selama kehamilan dapat menurunkan risiko ibu hamil menjalani rawat inap akibat flu rata-rata hingga 40 persen.
Tidak hanya bagi Mama, vaksinasi selama kehamilan juga dapat memberikan perlindungan bagi bayi setelah lahir. Perlindungan tersebut dapat membantu mengurangi risiko bayi terkena influenza maupun menjalani rawat inap akibat flu pada beberapa bulan pertama kehidupannya.
Nah, itu dia rangkuman studi mengenai dampak influenza A pada ibu hamil dan risiko bagi janin. Semoga informasi ini membantu Mama lebih waspada dalam menjaga kesehatan selama kehamilan, ya!














-JJbxGSTv3ohaSAEKEjBfnEz8vIvZmemi.png)





-n5iLyXMs9vKIPSPR34aLXgS0ovWCR8ib.jpg)
