TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Waspada! Kekerasan Anak Secara Online Meningkat saat Pandemi

Pastikan selalu anak-anak terhindar dari kekerasan dalam bentuk apapun

Pexels/Matheus Bertelli

Kekerasan tidak pernah menjadi tindakan yang benar dalam mengatasi setiap masalah. Di sisi lain, penggunaan kekerasan dapat berdambak buruk bagi korban.

Seperti mengalami PTSD atau gangguan psikologis lainnya.

Itulah mengapa menjaga dan menjauhkan anak-anak dari kekerasan sangatlah penting. 

Meskipun begitu, tindak kekerasan ini seolah tidak dapat dihapus. 

Perbuatan buruk ini masih dilakukan secara rutin oleh pihak-pihak tertentu dengan anak-anak yang menjadi korbannya. 

Melansir dari bbc.com menyatakan bahwa tindak kekerasan ini mengalami peningkatan seiring dengan berjalannya pandemi virus Covid-19. Ini semakin meresahkan karena kekerasan yang terjadi dilakukan pelaku secara online. 

Popmama,com akan membahas bentuk tindak kekerasan anak secara online dan pencegahan yang Mama dapat lakukan. Tetap perhatikan keamanan si kecil selama masa pandemi ini.

1. Kekerasan anak secara online meningkat saat pandemi

Pexels/Pixabay

Melansir dari bbc.com, permintaan untuk hal-hal yang berbau kekerasan dan pelecehan meningkat di saat pandemik ini. Peningkatan tersebut terjadi dua sampai empat kali lipat secara global antara bulan Maret dan April 2020. 

Di Inggris sendiri terdapat hampir sembilan juta upaya untuk mengakses situs web yang berisikan pelecehan seksual anak. Dimana sebelumnya situs ini diblokir oleh Internet Watch Foundation. Ini dapat terjadi karena lebih sedikit orang yang melayani hotline selama pandemi.

Sekolah-sekolah yang ditutup membuat anak-anak akan menghabiskan banyak waktu online. Ini membawa risiko yang lebih tinggi untuk menerima pelecehan seksual. Cathal Delaney dari Europol mengatakan kepada BBCbahwa anak-anak menjadi terisolasi dan tidak terawasi dengan baik ketika online. Mereka juga menghabiskan banyak waktu untuk online selama masa pandemikini berlangsung. 

3. Bahaya kekerasan online bagi anak-anak

Freepik/Ksandrphoto

Salah satu bahaya yang mengancam anak ketika berurusan dengan kekerasan baik itu secara langsung maupun online, ialah bahaya psikologis. Efek psikologis akibat penyalah gunaan media online dapat bertahan dalam diri anak seumur hidup. 

Efek psikologis dan mental yang mungkin terjadi seperti autisme, PTSD, gangguan pada perkembangan mental anak, ataupun juga isolasi diri.

Melansir dari edition.cnn.com, dampak kesehatan mental dari sebuah pelecehan dan kekerasan terhadap anak-anak tidak boleh diremehkan. Sebuah penelitian menunjukan bahwa pelecehan yang dilakukan secara online terhadap sangatlah sulit untuk dikenali dan diketahui oleh orang tua. Apalagi jika itu terjadi pada anak-anak yang lebih kecil. 


 

2. Kekerasan terjadi melalui Dark Web maupun di dunia nyata

Pexels/Soumil Kumar

Kekerasan yang marak terjadi saat pandemi ini sebenarnya lebih sering disebarkan melalui media internet. Tapi tidak menutup kemungkinan juga terjadi di dunia nyata. 

Komandan Paula Hudson dari Polisi Federal Australia, menyatakan bahwa para pelaku kekerasan anak melihat pandemi ini sebagai peluang untuk menargetkan anak-anak. Ditemukan forum ekspolitasi anak bertemakan Covid-19 pada Dark Web. 

Di sisi lain, kekerasan anak juga masih terjadi di luar sana, tepatnya di Filipina sebagaimana melansir dari bbc.com. Beberapa anak-anak ditawan dan mendapat perlakuan kekerasan yang tertangkap oleh kamera. Tindak kekerasan ini disiarkan langsung ke pelanggan yang membayar di negara-negara barat, termasuk Inggris.

Untungnya menurut laporan, para pelakukekerasan anak akhirnya berhasil ditangap. Peristiwa tersebut menunjukan kenyataan bahwa tindak kekerasan anak-anak masihlah marak terjadi meskipun di masa pandemi ini. 

4. Bagaimana cara melindungi anak mama dari bahaya ini?

Freepik

Menghadapi kasus yang penting dan berbahaya ini, Mama sebaiknya melakukan pencegahan dan penanganan.

Para ahli mengatakan bahwa ada dua cara efektif yang dapat Mama lakukan untuk memastikan anak-anak tetap terlindungi selama online. Kedua hal itu ialah; memperhatikan kebiasaan mereka selama menggunakan internet, dan mengajari mereka bagaimana cara menjelajah web dengan hati-hati. 

Perhatikan kebiasaan mereka menggunakan internet, seperti jika mereka menggunakan internet lebih lama dari biasanya, terutama di malam hari.

Ini dapat menjadi suatu pertanda, cobalah cek histori internet mereka. 

Pastikan juga anak-anak menggakses internet di tempat yang ramai. Mama dapat mengamati dan mengawasi kegiatannya. 

Dengan kegiatan belajar yang dilakukan secara online, guru juga dapat menjadi salah satu orang yang mengawasi penggunaan internet anak-anak.

Seperti dengan memastikan bahwa website yang digunakan untuk mengakses tugas merupakan website yang terpercaya. Perhatikan juga penggunaan kata dalam tugas yang diberikan. Karena kata yang 'aman' sekalipun dapat menghasilkan pencarian yang berbeda di Google. 

Baca juga:

The Latest