TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Penting Diketahui, Mari Ajarkan Anak Manajemen Sampah Rumahan

Sudahkah anak tahu jenis dan cara pengelolaan sampah?

Freepik

Penumpukan sampah merupakan salah satu masalah yang sangat memprihatinkan di Indonesia. Mungkin Mama berpikir, memangnya apa akibat dari sampah yang dibiarkan begitu saja?

Penting diketahui, sampah bukan cuma mengotori lingkungan saja.

Sebagai contoh, plastik yang sering kita gunakan dan dibuang sembarangan memiliki dampak buruk bagi kesuburan tanah.

Hal ini karena mereka akan menghalangi sirkulasi udara dan mengganggu ruang gerak cacing penyubur tanah.

Maka dari itu, penting sekali bagi kita untuk mulai memerhatikan lingkungan dan membantu untuk mengurangi jumlah produksi sampah setiap harinya. Nah, bukan orang dewasa saja, anak mama juga wajib memiliki kesadaran lingkungan, lho!

Langkah yang bisa dilakukan ialah dengan terlebih dahulu membiasakannya untuk membuang sampah. Setelah terbiasa, baru perkenalkan anak dengan berbagai jenis sampah dan cara memilahnya. Tapi, kenapa sih harus dipilah?

Untuk selengkapnya, berikut Popmama.com berikan pengetahuan tentang manajemen sampah rumahan bagi anak. Simak dengan baik yuk, Ma!

1. Kenapa manajemen sampah perlu diajarkan kepada anak?

Freepik

Sebelum mengajarkan anak tentang manajemen sampah, Mama harus terlebih dahulu memberikannya bekal pengetahuan terkait alasan mengapa ia harus mengetahui dan menerapkannya.

Alasan utamanya pasti supaya membiasakan si Anak. Sering sekali di saat anak membeli jajan, mereka tanpa bersalah membuang plastiknya sembarangan. Hal tersebut sangatlah tidak baik. Bukan hanya bagi lingkungan, tetapi juga untuk dirinya sendiri.

Bayangkan saja ketika anak mama sudah kuliah dan mereka membiarkan sampah berserakan di kamar kosnya.

Sudah dipastikan, lingkungan kotor tersebut akan tidak baik untuk kesehatannya dan dia akan mudah terjangkiti penyakit. Itu sebabnya anak harus diajarkan tentang hal ini.

Di samping itu, anak yang paham memilah sampah juga punya kontribusi banyak kepada lingkungan, lho. Hal ini karena dirinya telah membantu mempermudah pihak yang akan melakukan proses daur ulang. Mereka tak perlu capek-capek menyortir dan pengelolaan sampah bisa semakin efektif.

Tidak hanya itu, tujuan sampah dipilah agar barang-barang berbahaya (disingkat sebagai B3), seperti baterai, hairspray, minyak wangi, tidak bercampur dengan jenis sampah lainnya. Sampah B3 juga umumnya beracun dan mudah meledak.

Kalau tidak dipisah atau tidak dibuang pada tempatnya, pasti menimbulkan efek buruk pada lingkungan.

2. Mengajarkan anak tentang perbedaan sampah basah dan kering

Unsplash/Anita Jankovic | Unsplash/Nick Fewings

Yang dimaksud kering dan basah di sini bukan berarti basah terkena air atau tidak ya, Ma. Sampah basah, atau lebih dikenal sebagai sampah organik, biasanya berupa sampah dapur, sisa sayuran atau buah-buahan, ataupun dedaunan pohon. Lain halnya dengan sampah kering/anorganik yang mana bukan merupakan sisa dari makhluk hidup, seperti plastik, kaca, besi, dan lainnya.

Lalu, apa pentingnya harus mengetahui dan bahkan memilah keduanya? Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, alasan pertama ialah supaya mengurangi pencemaran lingkungan. Alasan lainnya ialah supaya barang yang dibuang dapat digunakan kembali.

Sebagai informasi, sampah organik itu sangat mudah terurai, yakni membusuk dan hancur, secara alami, sedangkan sampah anorganik tidak. Bahkan, sebuah botol plastik kecil saja membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai.

Nah, di saat keduanya tercampur, kita tidak tahu apakah ada sampah anorganik yang kebetulan beracun mencemari sisa sayuran misalnya. Padahal, sayuran atau buah-buahan bisa dijadikan kompos dan karena terkontaminasi, akan ada efek buruk bagi tanaman.

Itu sebabnya penting untuk mengetahui jenis-jenis sampah terlebih dahulu supaya tepat memilah dan mengolahnya nanti.

3. Mengajarkan anak tentang pengelolaan sampah basah/organik

Unsplash/Neslihan Gunaydin

Dari poin sebelumnya, Mama sudah mengetahui apa itu sampah organik. Sekarang, kita akan mencari tahu bagaimana cara pengelolaannya.

Karena sebagian besar sisa organik membusuk, dedaunan ataupun buah-buahan umumnya diubah menjadi pupuk kompos yang mampu menyuburkan tanaman. Bukan hanya itu saja, kertas, karton, ataupun kardus juga termasuk ke dalam penggolongan organik lho, Ma. Sebab, mereka sejatinya berasal dari pohon.

Semisal ada banyak kertas yang bertumpuk di rumah Mama, sebaiknya jangan dibakar. Olah saja kembali menjadi kertas daur ulang. Mama boleh langsung cek di internet untuk cara pembuatannya. Jangan lupa ajak anak karena aktivitas sangat asyik dilakukan untuk waktu luangnya.

Selain itu, terkadang nasi yang kita makan berlebih. Tak langsung dibuang karena sisa tersebut bisa menjadi pakan hewan ternak. Misalnya, ada tetangga Mama yang memelihara ayam, boleh banget untuk memberikan sisa nasi untuk ternaknya.

4. Mengajarkan anak tentang pengelolaan sampah kering/anorganik

Freepik/Mb-photoarts

Untuk sampah kering sendiri, ada beberapa sisi yang terbilang rumit. Karena, barang seperti kaca, plastic, fibergalss, ban, dan lainnya harus diolah ulang oleh pabrik yang memproduksinya.

Meskipun begitu, tidak semua yang anorganik harus dikirim ke pabrik. Di masa sekarang, ada banyak bermunculan bank sampah di area lingkungan masyarakat. Umumnya, sampah plastik atau botol bekas bisa diantarkan dan nantinya akan dikirim kepada pengepul atau tempat pembuat kerajinan dari sampah.

Selain diubah menjadi bahan yang lebih bernilai ekonomis, ada beberapa sampah kering lainnya yang bisa digunakan kembali. Misalnya, kaleng biskuit dapat Mama pergunakan kembali untuk menyimpan barang–seperti benang dan jarum–ataupun makanan lainnya–menjadi tempat kerupuk.

5. Mengenalkan konsep 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle) kepada anak

Freepik

Dari pembahasan sebelumnya, Mama sudah mendengar kata ‘daur ulang’ atau ‘digunakan kembali’. Nah, sebenarnya kedua hal tersebut termasuk dalam bagian konsep 3R. Apakah itu?

Jadi, konsep tersebut merupakan singkatan dari Reduce, Reuse, and Recycle. Atau, dalam bahasa Indonesia berarti ‘mengurangi’, ‘menggunakan kembali’, dan ‘mendaur ulang’.

Hal tersebut merupakan bagian terpenting dalam hal pembelajaran manajemen sampah buat anak karena pada dasarnya, konsep ini mengajarkan kita untuk lebih peduli lingkungan.

Konsep ini umumnya berlaku untuk sampah-sampah anorganik. Sebab, mereka sulit membusuk sehingga harus ada penanganan yang lebih untuk mengurangi jumlahnya.

Dari ketiga komponen 3R, kita paling dianjurkan untuk terlebih dahulu mengurangi penggunaan barang. Contohnya, untuk menekan produksi sampah plastik, kita membawa tas belanja sendiri ke swalayan.

Semisal penggunaannya sudah berlebih, maka langkah pertamanya adalah dengan menggunakan kembali barang tersebut. Botol air mineral boleh banget disulap menjadi tempat pensil anak mama. Hias dengan indah supaya si Anak semakin suka.

Alternatif lainnya adalah dengan didaur ulang di pabrik. Sebagai contoh, ember plastik yang pecah akan dihancurkan, dicacah, dilebur, lalu dibentuk kembali menjadi ember yang baru.

Perlu diingat bahwa proses daur ulang ini tidak segampang yang dikira. Itu sebabnya, kita sangat dianjurkan untuk melakukan langkah reduce karena tindah pencegahan lebih baik daripada ‘mengobati’.

Itulah informasi mengenai konsep 3R, sampah basah dan kering, beserta cara pengelolaannya. Mulai kenalkan anak tentang manajemen sampah sedini mungkin karena Indonesia sekarang sangat darurat polusi sampah.

Nasib negeri ini ada di tangan anak-anak kita. Jadi kalau tidak diajarkan sekarang, kapan lagi?

Baca Juga:

The Latest