TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Kenali dan Cegah Pneumonia pada Anak "The Forgotten Killer"

Lakukan STOP Pneumonia untuk mencegah dan melindungi anak dari Pneumonia

Freepik/rawpixel.com

Menurut data WHO pada tahun 2017, Indonesia berada di peringkat ke-7 dunia sebagai negara dengan beban Pneumonia tertinggi, yang di mana terdapat 25.481 kematian balita karena infeksi pernapasan akut atau sekitar 17 persen dari seluruh kematian balita.

Pnenumonia adalah penyebab kematian balita ke-2 di Indonesia setelah persalinan. Faktor-faktor penyebab yang berkaitan adalah, belum terpenuhinya ASI Eksklusif, berat badan bayi lahir rendah, dan belum imunisasi lengkap, polusi udara, dan kepadatan yang tinggi pada rumah tangga. Hingga pada tahun 2019, terdapat 467.383 kasus Pneumonia pada balita.

Dalam mengurangi tingkat kasus Pneumonia pada anak balita, Save the Children International meluncurkan kampanye global pada ulang tahunnya ke 100 tahun di tahun 2019, dan Di Indonesia, Save the Children meluncurkan kampanye yang dinamai STOP Pneumonia tahun lalu bertepatan dengan Hari Pneumonia Dunia (HPD) tanggal 12 November.

Untuk mengetahuinya lebih lanjut, kali ini Popmama.com akan membahas seputar kenali dan cara mencegah pneumonia “The Forgotten Killer” pada anak, berdasarkan press release dari Save the Children Indonesia.

Yuk simak informasinya di bawah ini!

Save the Children meluncurkan kampanye "STOP Pneumonia" yang bertepatan pada Hari Pneumonia Dunia

Freepik/Hakeem.ibnfaisal

Di tahun 2019, Save the Children International meluncurkan kampanye global dalam rangka ulang tahunnya ke 100. Di Indonesia sendiri, Save the Children juga meluncurkan kampanye yang dinamai STOP Pneumonia yang bertepatan dengan Hari Pneumonia Dunia (HPD) tanggal 12 November.

Kampanye ini bekerjasama dengan dengan organisasi masyarakat, akademisi, organisasi profesi, pemerintah dan pihak swasta baik di tingkat nasional maupun di wilayah dampingan Save the Children di Kabupaten Sumba Barat dan Kabupaten Bandung melanjutkan kampanye STOP Pneumonia untuk penyadaran dan perubahan perilaku masyarakat.

“Kami bersama Kementerian Kesehatan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan dukungan Pfizer melalui kampanye STOP Pneumonia mengajak masyarakat untuk menjadikan momen HPD yang kita peringati di tengah pandemi tahun ini, sebagai kesempatan untuk semakin meningkatkan pemahaman mengenai pneumonia dan mencegah lebih banyak kematian akibat penyakit mematikan ini.” ungkap Selina Sumbung selaku CEO Save the Children Indonesia.

Kampanye ini juga didukung sepenuhnya oleh Bambang Chriswanto selaku Public Affairs Director Pfizer Indonesia, yang mengatakan bahwa Pfizer berkomitmen untuk berkontribusi dalam menciptakan Indonesia yang lebih sehat.

Sehingga wujud komitmen ini dilakukan dengan mendukung upaya yang dapat meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya orangtua, terhadap penyakit pneumonia.

“Kami bangga dapat mendukung seluruh rangkaian acara kampanye Stop Pneumonia dalam peringatan Hari Pneumonia Dunia untuk mendorong pemahaman masyarakat tentang upaya pencegahan pneumonia,” ujar Bambang Chriswanto.

1. Pneumonia merupakan penyakit yang membuat paru-paru balita dipenuhi oleh cairan dan sel radang

Freepik/lifeforstock Ilustrasi

Pneumonia pada balita merupakan penyakit peradangan akut pada paru-paru yang membuat paru-paru anak dipenuhi oleh cairan dan sel radang.

Kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi kesehatan serius dan tidak jarang menyebabkan kematian pada balita.

Selain itu, anak yang mengidap pneumonia juga sering terlambat disadari karena gejala awalnya yang sulit dibedakan dengan penyakit pernapasan lain yang ringan seperti pilek dan selesma atau common cold.

Akibatnya, banyak anak-anak yang mengidap pneumonia tidak mendapatkan perawatan yang seharusnya dan berdampak fatal pada kesehatan mereka.

2. Tanda-tanda yang perlu dicermati sebagai gejala Pneumonia pada anak

Freepik/User6529390

Menurut Dr.dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A(K) Ketua Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia, ada beberapa tanda-tanda yang perlu Mama cermati sebagai gejala anak mengidap Pneumonia, yaitu:

Batuk dan demam yang berkelanjutan

Gejala awal pneumonia adalah gejala yang menyerupai selesma atau common cold seperti batuk, pilek dan demam yang disertai lemas dan lesu yang berkepanjangan. Gejala pneumonia biasanya bertahan relatif lebih lama daripada gejala pilek dan batuk karena selesma.

Kesulitan Bernapas

Anak yang mengidap pneumonia sering mengalami kesulitan bernapas yang ditandai dengan frekuensi napas lebih cepat, napas cuping hidung, tarikan dinding dada dan perut, serta bibir dan kuku yang membiru akibat kekurangan oksigen dalam darah.

Kesulitan bernapas pada si Kecil lebih mudah diketahui ketika beraktivitas atau makan. Anak yang mengalami kesulitan bernafas akan memprioritaskan mekanisme tubuhnya untuk bernapas sehingga ia akan makan lebih sedikit, gelisah, rewel, atau terlihat tidak nyaman.

Dokter Nastiti pun menyarankan untuk segera menemui dokter jika Mama ragu atas gejala-gejala yang dialami anak.

3. Pentingnya memahami STOP Pneumonia dalam upaya pencegahan dan perlindungan

Freepik/Cookie-studio

Dalam upaya pencegahan dan perlindungan, orangtua, masyarakat, dan semua pihak perlu ditingkatkan wawasan mengenai Pneumonia, agar anak Indonesia bukan saja terhindar dari wabah pandemi namun juga terhindar dari penyakit mematikan lain yang masih mengancam mereka seperti Pneumonia.

STOP Pneumonia berisi pesan sebagai berikut:

S – aSi Eksklusif enak bulan, menyusuai ditambah MPASI sampai usia dua tahun

T – Tuntaskan imunisasi untuk anak

O – Obati ke fasilitas kesehatan jika anak sakit

P – Pastikan kecukupan gizi anak dan hidup bersih sehat.

Maka dari itu, penting sekali bagi Mama untuk menerapkan gerakan "STOP Pneumonia" pada anak sejak dini agar terhindar dari Pneumonia, penyakit yang sering dilupakan namun berbahaya yang bisa membunuh balita.

Kenali gejala Pneumonia pada anak balita dan segera bawa ke rumah sakit terdekat jika anak menunjukkan tanda-tanda seperti di atas.

Baca juga:

The Latest