Bronkopneumonia pada Anak: Penyebab, Gejala, Cara Mencegah & Mengatasi

Sebelum terlambat, ketahui lebih dalam penyakit berbahaya yang satu ini, Ma!

26 November 2019

Bronkopneumonia Anak Penyebab, Gejala, Cara Mencegah & Mengatasi
Freepik/Free photo

Berdasarkan laporan dari UNICEF dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pada tahun 2015 terdapat sekitar 20.000 anak balita di Indonesia meninggal karena pneumonia.

Bronkopneumonia atau yang bisa disebut sebagai pneumonia lobularis, merupakan jenis pneumonia akibat infeksi dan peradangan pada saluran napas utama, yaitu bronkus, akibat infeksi bakteri, virus, atau jamur.

Selain itu, risiko terkena bronkopneumonia juga dapat meningkat karena beberapa faktor risiko, seperti usia yang terlalu muda, lingkungan yang kotor, paparan asap rokok, gaya hidup, penggunaan obat penekan sistem kekebalan tubuh, dan kondisi kesehatan tertentu, misalnya malnutrisi.

Mengetahui adanya bahaya bronkopneumonia pada anak, berikut Popmama.com telah merangkum 5 fakta pentingnya.

1. Apa itu bronkopneumonia? 

1. Apa itu bronkopneumonia 
Freepik/Jcomp

Bronkopneumonia adalah salah satu jenis pneumonia, yaitu salah satu penyakit yang menyerang saluran napas.

Bronkopneumonia adalah penyakit yang menjadi penyebab kematian terbesar untuk penyakit saluran napas bawah yang menyerang balita dan anak-anak.

Menurut sebuah penelitian, diperkirakan pneumonia banyak terjadi pada bayi kurang dari 2 bulan, oleh karena itu pengobatan penderita pneumonia dapat menurunkan angka kematian anak.

Bronkopneumonia disebut juga pneumonia lobularis yaitu suatu peradangan pada parenkim paru yang terlokalisir, biasanya mengenai bronkiolus dan juga mengenai alveolus disekitarnya.

Kondisi ini disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing.

Kebanyakan kasus pneumonia disebabkan oleh mikroorganisme, tetapi ada juga sejumlah penyebab non infeksi yang perlu dipertimbangkan.

Bronkopneumonia pada anak lebih sering merupakan infeksi sekunder terhadap berbagai keadaan yang melemahkan daya tahan tubuh tetapi bisa juga sebagai infeksi primer yang biasanya dapat jumpai pada orang dewasa.

Editors' Picks

2. Penyebab bronkopneumonia pada anak

2. Penyebab bronkopneumonia anak
childrensmd.org

Ada beberapa penyebab bronkopneumonia yang biasa dijumpai pada anak, berikut diantaranya:

  • Faktor infeksi

Pada anak-anak, ada beberapa penyebab bronkopneumonia. Penyebab pertama adalah virus, yakni virus parainfluensa, influensa virus, adenovirus, dan RSP. Penyebab kedua berasal dari organisme atipikal, yakni mycoplasma pneumonia.

Sedangkan penyebab ketiga adalah dari bakteri, yakni bakteri pneumokokus dan bakteri mycobakterium tuberculosa.

  • Faktor non infeksi

Selain karena faktor infeksi, bronkopneumonia pada anak juga dapat terjadi akibat non infkesi.

Beberapa diantaranya adalah bronkopneumonia hidrokarbon yang erjadi oleh karena aspirasi selama penelanan muntah atau sonde lambung (zat hidrokarbon seperti pelitur, minyak tanah dan bensin).

Dan juga karena bronkopneumonia lipoid, yakni terjadi akibat pemasukan obat yang mengandung minyak secara intranasal, termasuk jeli petroleum.

Setiap keadaan yang mengganggu mekanisme menelan seperti palatoskizis, pemberian makanan dengan posisi horizontal, atau pemaksaan pemberian makanan seperti minyak ikan pada anak yang sedang menangis.

Keparahan penyakit tergantung pada jenis minyak yang terinhalasi. Jenis minyak binatang yang mengandung asam lemak tinggi bersifat paling merusak contohnya seperti susu dan minyak ikan.

3. Gejala bronkopneumonia pada anak

3. Gejala bronkopneumonia anak
Freepik/lifeforstock

Gejala bronkopneumonia yang muncul dapat bervariasi mulai dari ringan hingga berat tergantung penyebabnya.

Selain itu, gejala bronkopneumonia bisa mirip dengan gejala penyakit paru-paru lain, yaitu bronkitis atau bronkiolitis, sehingga diperlukan pemeriksaan fisik dan penunjang berupa tes darah dan foto rontgen oleh dokter, untuk membantu membedakan kedua penyakit tersebut.

Berikut beberapa gejala bronkopnumonia pada anak:

  • Batuk berdahak
  • Demam
  • Sesak napas atau napas menjadi cepat
  • Menggigil
  • Dada terasa sakit
  • Rewel atau sulit untuk tidur
  • Kehilangan nafsu makan
  • Gelisah
  • Muntah
  • Wajah terlihat pucat
  • Perubahan warna di bagian bibir dan kuku yang menjadi kebiruan
  • Mengi

Bila gejala-gejala bronkopneumonia pada anak tidak segera diobati, akan berakibat pada kemungkinan munculnya komplikasi lain yang lebih berbahaya.

4. Diagnosis bronkopneumonia pada anak

4. Diagnosis bronkopneumonia anak
Freepik/Jcomp

Sama seperti penyakit pada umumnya, pertama dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dasar dan mengulas riwayat kesehatan anak.

Apabila anak dicurigai mengalami gejala bronkopneumonia, maka dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang lainnya untuk memastikan diagnosis.

Berikut beberapa tes yang umum dilakukan dokter untuk mendiagnosis penyakit bronkopneumonia:

  • Rontgen dada

Dengan menggunakan sinar X, dokter dapat melihat bagian paru-paru yang terkena penyakit pneumonia.

  • Tes darah

Pemeriksaan darah dilakukan untuk mengetahui tipe virus atau bakteri yang menyebabkan paru-paru basah ini terjadi.

  • Tes dahak

Jika benar anak mengalami paru-paru basah, maka virus atau bakteri yang menyebabkan gangguan kesehatan ini akan terlihat pada dahak.

  • Pemeriksaan kadar oksigen darah

Hal ini dilakukan untuk mengetahui seberapa banyak oksigen yang ada di dalam darah. Pasalnya, penyakit ini dapat menyebabkan oksigen tidak bisa masuk ke dalam aliran darah.

Selain pemeriksaan di atas, dokter mungkin juga akan meminta anak untuk melakukan pemeriksaan berikut:

  • CT scan

Bila penyakit infeksi paru yang diderita tak kunjung sembuh, maka dokter akan meminta anak untuk melakukan ct scan agar dapat dilihat kondisi paru saat itu.

  • Kultur cairan paru

Pemeriksaan ini mengharuskan dokter mengambil cairan di dalam paru dan kemudian diperiksa kandungannya. Pemeriksaan ini membantu dokter untuk menetukan tipe infeksi yang terjadi.

5. Cara mengatasi dan mengobati bronchopneumonia pada anak

5. Cara mengatasi mengobati bronchopneumonia anak
Freepik/Pressfoto

Pengobatan bronkopneumonia disesuaikan dengan jenis, tingkat keparahan penyakit, usia, serta kondisi pasien secara keseluruhan.

Orang-orang yang sebelumnya tidak memiliki riwayat penyakit tertentu biasanya dapat sembuh dalam rentang waktu 1 hingga 3 minggu.

Dalam kasus yang ringan, penyakit ini dapat membaik hanya dengan teratur minum obat dan istirahat di rumah.

Namun dalam kasus yang parah, pasien mungkin memerlukan perawatan intensif di rumah sakit.

Jika radang paru yang anak alami disebabkan karena infeksi bakteri, maka dokter akan meresepkan antibiotik untuk membunuh bakteri berbahaya di paru-paru.

Antibiotik tidak berfungsi untuk infeksi virus. Oleh sebab itu, jika radang paru disebabkan oleh infeksi virus, dokter biasanya akan meresepkan obat antivirus.

Sementara untuk radang paru yang disebabkan jamur, maka dokter akan meresepkan obat antijamur.

Pastikan anak minum obat antibiotik, antivirus, dan antijamur sesuai dengan yang diresepkan dokter. Jangan mengurangi atau menambahkan dosis obat tanpa persetujuan dokter.

Selain minum obat, beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mempercepat proses pemulihan penyakit bronkopneumonia adalah:

  • Hindari melakukan aktivitas berat untuk sementara waktu
  • Minum banyak cairan untuk membantu mengencerkan lendir dan mengurangi rasa tidak nyaman saat batuk
  • Pakai masker apabila ingin bepergian atau berinteraksi dengan orang lain agar tidak menularkan infeksi
  • Hindari rokok dan minum alkohol
  • Perhatikan asupan makanan

Sepintas, bronkopneumonia pada anak memang mengerikan. Namun, penyakit ini dapat dicegah.

Berikut beberapa langkah sederhana untuk mencegah brokopneumonia pada anak, seperti:

  • Usahakan untuk selalu menjaga kebersihan tangan anak untuk mengurangi penularan penyakit.
  • Hindarkan anak-anak dari paparan asap rokok.
  • Jauhkan bayi atau anak dari penderita bronkopneumonia.
  • Lengkapilah imunisasi anak agar terlindungi dari bakteri dan virus yang menyebabkan infeksi bronkopneumonia. Anak-anak memang lebih rentan terserang bronkopneumonia, terutama yang berusia di bawah 2 tahun atau anak-anak dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. 

Nah, itulah kelima informasi penting terkait bronkopneumonia pada anak.

Bila anak mengalami gejala yang mirip dengan bronkopneumonia, segera konsultasikan ke dokter spesialis anak untuk mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat.

Semakin cepat ditangani, risiko terjadinya komplikasi akibat bronkopneumonia pada anak akan semakin kecil.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.