TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

5 Cara Memantau Tumbuh Kembang Anak Sejak Dini

Sudahkah anak mama tumbuh sesuai dengan tahap usianya?

Freepik/Lookstudio

Usia balita menjadi masa emas anak untuk tahapan tumbuh kembangnya. Hal ini karena perkembangan otak dan pertumbuhan yang begitu pesat terjadi pada usia tersebut, Ma.

Itulah mengapa masa emas anak atau biasa disebut golden age ini menjadi perhatian tersendiri bagi para orangtua. Mulai dari memerhatikan asupan nutrisi, serta memberikannya stimulus yang dapat membuat tumbuh kembang si Kecil lebih optimal.

Selain mempersiapkan itu semua, Mama juga perlu melakukan pemantauan pada tumbuh kembang anak sejak usia dini. Bagaimana caranya? Yuk, simak informasi terkait cara memantau tumbuh kembang anak yang sudah Popmama.com rangkum berikut ini.

1. Melihat kondisi anak setiap harinya

Freepik/jcomp

Cara mudah pertama untuk memantau pertumbuhan si Kecil adalah dengan melihat kondisinya secara mandiri di rumah. Caranya adalah dengan memperhatikan anak ketika sedang bermain atau berbicara.

Setelahnya, Mama bisa memberikan stimulasi-stimulasi yang tepat untuk tahapan usia mereka. Dengan begitu, Mama pun bisa memantau tumbuh kembangnya secara mandiri.

Jadi, apabila ditemukan hal yang tak sesuai dengan tahap perkembangan anak dan usianya, maka ini bisa menjadi langkah awal untuk mengatasinya dengan memeriksakan kondisinya pada dokter.

2. Melakukan stimulasi deteksi dan intervensi dini tumbuh kembang

Freepik/gpointstudio

Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang atau lebih mudah disingkat dengan SDIDTK bisa Mama dapatkan melalui pelayanan kesehatan atau Pos PAUD Holistik Intergratif.

Pemeriksaan SDIDTK sendiri bisa dilakukan beberapa kali sesuai dengan usia anak mama, di antaranya sebagai berikut:

  • Usia 3 bulan sampai 2 tahun mendapatkan SDIDTIK setiap 3 bulan.
  • Usia 2 sampai 6 tahun mendapatkannya setiap 6 bulan.

Melalui pelayanan SDIDTK ini, nantinya para tenaga kesehatan yang memeriksa kondisi anak mama akan menentukan status gizi mereka apakah dikatakan stunting atau tidak, tumbuh sesuai usianya atau tidak, serta untuk mendeteksi gangguan perilaku atau gangguan emosional pada anak.

Itulah mengapa penting melakukan pemeriksaan secara rutin ke dokter guna mengetahui proses tumbuh kembang si Kecil, Ma.

3. Menimbang secara rutin berat badan anak

Pixabay/mojzagrebinfo

Sama seperti poin sebelumnya, menimbang berat badan anak juga termasuk dalam pemeriksaan SDIDTK, Ma. Hanya saja, proses penimbangan berat badan bisa Mama lakukan secara mandiri di rumah dengan menyediakan alat timbang badan yang memadai.

Mengetahui berat badan anak menjadi salah satu kunci untuk mengetahui tumbuh kembang mereka yang lebih sehat. Perhitungannya sendiri bisa Mama lihat dari buku KIA yang umumnya diberikan sejak masa kehamilan, hingga usia anak sekolah.

Dari buku tersebut, Mama akan mengetahui grafik pertumbuhan anak sesuai usia dan berat badan seharusnya. Sehingga lebih memudahkan Mama dalam memantau tumbuh kembang anak. 

Jadi, jangan kira bahwa buku KIA hanya digunakan untuk memantau masa kehamilan saja, Ma. Buku ini juga bisa dimanfaatkan untuk melihat pertumbuhan anak sampai ia memasuki usia 6 tahun.

4. Memerhatikan pedoman gizi yang seimbang

Pexels/cottonbro

Tak hanya stimulasi, penting juga untuk memerhatikan pedoman gizi seimbang pada anak-anak mama. Pastikan Mama memberikan asupan nutrisi yang mereka perlukan seperti zat besi, protein, folat, serta vitamin dan mineral lainnya.

Seperti yang direkomendasi oleh American Academy of Pediatric (AAPA), orangtua bisa memberikan sederet makanan kepada buah hatinya yang dapat menunjang kinerja otak dan mendukung kecerdasan mereka. 

Misalnya saja memberikan makanan berupa sayuran hijau, pepaya, pisang, alpukat, telur, labu, serta ikan yang mampu membantu menjaga tumbuh kembang anak secara optimal.

5. Memahami dimensi tumbuh kembang anak

Pexels/amber currin

Terakhir yang perlu orangtua lakukan adalah dengan memahami lebih dulu dimensi tumbuh kembang anak yang sangat penting untuk diperhatikan. Terdapat 5 dimensi yang sifatnya saling melengkapi, di antaranya:

  • Kesehatan

Kesehatan sangat berhubungan erat dengan pertumbuhan dan perkembangan fisik, mulai dari berat badan, tinggi badan, hingga lingkar kepala. Mama bisa memerhatikan dimensi kesehatan anak dengan rajin mengukur ketiganya dan memantaunya dalam grafik tumbuh kembang sesuai tahap usia anak.

  • Kognitif

Kemampuan kognitif menjadi cara berpikir anak dalam memecahkan suatu masalah. Misalnya, mengetahui bagaimana cara si Kecil mengambil mainannya yang letaknya cukup tinggi. Mama bisa memerhatikan ini dari gerak gerik harian anak di rumah.

  • Motorik

Motorik sendiri dibagi dalam 2 jenis, yaitu motorik kasar misalnya seperti kemampuan anak yang mampu duduk, berjalan, hingga berlari. Selanjutnya motorik halus, seperti gerakan tangan dalam meraih sesuatu. 

  • Bahasa

Dimensi bahasa mencakup kemampuan anak dalam mengungkapkan isi hati atau bagaimana ia cerita kepada orang lain. Itulah mengapa penting memberikan stimulasi dengan rutin mengajak ngobrol anak sejak bayi sekali pun.

  • Sosio-emosional

Emosional berarti cara anak dalam mengungkapkan ekspresi. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana anak tersenyum, marah, hingga menangis. Sedangkan perkembangan sosial mengacu pada perkembangan kemampuan anak dalam berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. 

Itu dia cara yang bisa Mama dan Papa lakukan untuk memantau pertumbuhan si Kecil sejak usia dini. Pastikan untuk selalu memerhatikan apakah pertumbuhannya berjalan sesuai tahapan usia anak atau tidak.

Jika Mama curiga ada kelainan pertumbuhan, segera bawa anak ke dokter untuk dapat mengetahui dan mengatasinya sesegera mungkin sebelum terlambat. Semoga informasinya bermanfaat ya, Ma!

Baca juga:

The Latest