TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Mari Peduli Pahlawan Pengurai Sampah Plastik yang Sering Terlupakan

Dia adalah orang yang kerap kita jumpai, pemulung namanya!

Unsplash/吴 迪

Oke, hari ini adalah Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), untuk sejaranya bisa dilihat di sini. Bukan sejarah yang ingin Popmama.com bahas kali ini, melainkan pahlawan dari sampah-sampah rumah tanggamu Ma! 

Pemulung namanya pasti kamu mengenalnya bukan? Setiap hari bila kamu pejalan kaki embun pagi yang aktif, kamu akan menjumpainya kala mereka aktif mengais sampah plastikmu. Jangan mengira kamu bisa merendahkan profesi ini begitu saja. 

Banyak yang perlu kamu ketahui faktanya dan untuk itu Popmama.com akan sajikan bahasan ini agar kamu lebih peduli pada salah satu garda pengolahan sampah plastik di negeri ini. Simak. 

1. Pentingnya mereka sebagai garda depan bidang kepedulian sampah

Unilever Indonesia

Bersumber dari webinar (18/2) lansiran Unilever dalam rangka menyambut Hari Peduli Sampah Nasional 2021, yang bertajuk Pentingnya Kolaborasi Para Pelaku Rantai Nilai Sampah dalam Mewujudkan Ekonomi Sirkular, didapat bahwa permasalahan sampah adalah kemaslahatan bersama. Perlu adanya kerja bersama-sama dan kerja sama dari seluruh stakeholder yang ada. 

Dr. Alin Halimatussadiah, Ph.D selaku Ketua Kajian Ekonomi Lingkungan, LPEM FEB UI juga berpendapat perlu adanya perwujudan ekonomi sirkular yang melibatkan peran dan fungsi setiap pelaku rantai nilai. Salah satu pelaku pentingnya adalah pemulung. 

"Seiring berkembanganya ekonomi dunia dimana timbulan sampah juga pastinya akan semakin bertambah. 

Oleh karena itu, sudah saatnya kita melekatkan para pemulung ke dalam kesatuan rantai nilai pengelolaan sampah yang lebih utuh. Mereka memiliki peran sentral yang patut diperhatikan. Berkat merekalah sampah terkumpul sebagai bahan baku yang mendukung industri daur ulang," ucapnya. 

Penyataan Dr. Alin juga didukung dengan hasil studi Unilever Indonesia dan SWI. Terungkap bahwa lebih dari 80% sampah plastik yang terkumpul di Pulau Jawa berasal dari pemulung, sedangkan 20% sisanya berasal dari bank sampah, TPS3R dan penampung sampah plastik lainnya.

Namun sangat disayankan Ma, sebagian dari kita masih kerap menyematkan stigma buruk kepada pemulung sebagai masalah sosial yang harus segera diatasi sehingga kehadiran mereka kerap mendapatkan pertentangan. 

2. Klasifikasi pemulung yang perlu kamu pahami

Unsplash/Hoan Ho

Sementara itu Prispolly Davina Lengkong selaku Ketua Umum Perkumpulan Pemulung Indonesia Mandiri (PPIM), dalam webinar yang sama mencoba membeberkan mengenai profesi yang kerap di labeli "astronot" ini. 

"Pemulung itu ada dua pemulung di kota atau perkampungan sama pemulung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Kalau di kota pemukiman memang permasalahannya ada pada sosial budaya seperti dikucilkan dan dibenci keberadaannya. Kalau pemulung di TPA tentunya permasalahannya kesehatan. Karena semua virus dan penyakit ada di sana," bebernya. 

Namun sayangnya, untuk alasan keamanan dan kenyamanan lingkungan, profesi mulia yang satu ini sudah sering dilabeli sebagai "pengganggu", terlepas dari sebagian kecil mereka yang menjadi oknum kenyamanan lingkungan. 

Untuk menyambungkan persepsi yang baik antara profesi ini dan masyarakat memang perlu segera diatasi sehingga kehadiran mereka tidak lagi menjadi cibiran di kehidupan. 

3. Yuk, bantu pemulung! Caranya?

Pixabay/smtwastebrokers

Dengan adanya HPSN ini mari kita sebagai produsennya sampah yakni rumah tangga untuk mulai peduli pada pemulung dan juga sampah itu sendiri. 

Terkhusus pada sampah plastik yang kini menggenangi laut dan sungai di negeri ini agaknya kamu sebagai Mama harus cerdas dalam memakai produk-produk rumah tangga yang ada. Banyak dari produk tersebut sudah mulai mengedukasi konsumennya untuk tidak memakai plastik berlebih, salah satunya dengan menyediakan produk yang diisi secara refill dengan plastik mudah daur ulang. 

"Kami (Unilever) sebagai salah satu bisnis yang menggunakan palstik turut mengurangi peredaran sampah plastik dengan, mengubah desain agar lebih optimal sehingga bisa mengurangi bahan kemasan plastik, menggunakan bahan plastik yang mudah didaur ulang seperti pada refill salah satu brand kecap kami dan juga refill stastion penggunaan alternatif pengganti plastik," jelas Nurdiana Darus selaku Head of Corporate Affairs and Sustainability PT Unilever Indonesia, Tbk. dalam slide presentasi pada webinar. 

Selain bijak dalam menggunakan prodk yang nantinya akan menjadi sampah, kamu juga sebaiknya mulai untuk memilah sampah. Lebih baik lagi setelah dipilah dibersihkan agar memiliki daya jual lebih tinggi. Setelahnya kamu bisa berikan itu pada pemulung yang datang, sembari melakukan perbuatan baik dalam menmbantu kesejahteraan para pemulung di negeri ini. 

"Bila pemulung bisa ngepres sampah sendiri itu dapat meningkatkan harga hingga 25 persen. Begitu juga ketika pengumpul yang ngepres bisa mereka bisa mengambil keuntungan margin sebesar 30 persen. Jelas bila sudah dibersihkan dan dipisahkan akan menambah harga bagi pemulung tadi," jelas Ketua Umum PPIM memaparkan keuntungan pemulung. 

Sebaiknya ini kamu mulai lakukan karena perbuatan yang baik membuat dirimu juga lebih bahagia lho Ma. Namun, bila kamu lebih berjiwa independen dan ingin secara mandiri membawa hasil sortiran sampahmu yang sudah dibersihkan, kamu bisa langsung memberikannya ke bank sampah terdekat dan kamu akan dihitung sebagai nasabah bank tersebut. 

"Kalo pemilahan sampah dilakukan, dipilah dulu dibersihkan lalu diantar ke bank dampah terdekat. Kalau tidak ada bank sampah yang sudah dibersihkan tadi bisa diberikan pada pemulung. Tidak melulu mengenao nilai apa yang bisa diambil untuk kita. Tapi bisa memberikan nilai lebih pada pemulung itu sendiri," pungkas Nurdiana Darus mengakhiri webinar. 

Sebagai info webinar tersebut juga sekaligus menjadi momen penandatanganan nota kerjasama  lanjutan antara Unilever dengan PPIM terkait kesejahteraan para pemulung dengan menargetkan 3.000 pemulung sebagai penerima manfaat dari rangkaian program edukasi dan pemberdayaan masyarakat, seperti pelatihan literasi keuangan, keterampilan berkomunikasi, hingga perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang diharapkan dapat menjadi modal dasar bagi para pemulung untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.

Wah, yukdeh Ma kita bantu usaha baik orang-orang baik yang ada di muka bumi ini. Agar hidup kita lebih tertata mesikpun sampah akan tetap ada.

Namun begitu kita harus tetap menjaga kesehatan kita, apalagi masa pandemi. Mari hidup sehat Ma. Selamat Hari Peduli Sampah Nasional!

Baca juga:

The Latest