TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Kenapa Hidung Membesar dan Bengkak saat Hamil?

Meski normal, ini bisa menjadi gejala komplikasi kehamilan

Freepik/Starast

Saat hamil, Mama mengalami banyak perubahan di tubuh, termasuk pembengkakan.

Hidung adalah salah satu anggota tubuh yang biasanya ikut mengalami perubahan saat hamil. Ada ibu hamil yang mudah pilek, mimisan, atau hidung bengkak.

Ada yang menyebut hidung bengkak saat hamil ini sebagai “hidung kehamilan”.

Namun sebenarnya apa yang menyebabkan hidung bengkak saat hamil?Apakah kondisi ini berbahaya? Jika Mama mengalaminya, penjelasannya bisa Mama simak pada ulasan Popmama.com berikut ini!

Apakah “Hidung Kehamilan” Benar-Benar Nyata?

Freepik/tirachardz

Apakah hidung kehamilan ini nyata atau hanya mitos belaka?

Dr. Jessica Madden, MD, IBCLC, mengatakan bahwa hidung bisa membesar selama kehamilan.

Meskipun “hidung kehamilan” bukan istilah medis, banyak ibu hamil yang hidungnya tampak lebih besar menjelang akhir kehamilan.

Seperti yang Mama duga, hidung yang membesar saat hamil disebabkan oleh hormon kehamilan. Perubahan hidung ini disebabkan oleh peningkatan volume darah yang bersirkulasi yang dimediasi hormon selama kehamilan.

Meskipun sebagian besar peningkatan volume darah dimaksudkan untuk mendukung pertumbuhan janin dan rahim, semua bagian tubuh pada akhirnya menerima peningkatan aliran darah selama kehamilan.

Untungnya, dalam sebagian besar kasus, hidung akan kembali normal sekitar enam minggu setelah melahirkan.

Meski Normal, Hidung Membengkak Bisa Jadi Gejala Komplikasi

Pixabay

"Preeklamsia, kondisi kehamilan yang menyebabkan edema (pembengkakan) juga dapat menyebabkan beberapa hidung tampak lebih besar," kata Dr. Madden.

Bicarakan dengan dokter jika Mama khawatir. Mama bisa mendapatkan pemeriksaan yang diperlukan, seperti pemeriksaan tekanan darah, untuk mengetahui adanya preeklamsia.

Preeklamsia adalah gangguan tekanan darah yang terjadi pada ibu hamil dan dapat menyebabkan komplikasi termasuk kerusakan pada organ vital, khususnya ginjal dan hati. Umumnya, gangguan preeklamsia muncul setelah minggu ke-20 kehamilan.

Salah satu gejala preeklamsia, yakni memiliki tensi tinggi, baik di tengah atau di akhir kehamilan. Preeklamsia bisa meningkatkan risiko bagi Mama dan janin, antara lain:

  • Persalinan prematur: bayi yang lahir sebelum waktu kelahiran dapat menimbulkan konsekuensi janin dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

  • Kematian janin: preeklamsia tidak hanya berbahaya bagi tubuh ibu hamil saja, tetapi juga bagi janin.

  • Berat badan lahir rendah: ini punya risiko jangka panjang bagi sang bayi. Sebab, bayi yang dilahirkan dengan berat badan rendah berpeluang terkena diabetes, penyakit ginjal, dan kelainan jantung saat remaja.

  • Solusi plasenta: plasenta yang terlepas sebelum waktunya dapat membahayakan bayi dan juga menimbulkan pendarahan hebat bagi sang Mama.

  • Kejang (eklamsia): mengalami kejang mendadak tanpa adanya gejala dapat membuat ibu hamil tidak sadarkan diri dan berujung masuk ke ruang rawat intensif.

Berikut beberapa gejala umum preeklamsia yang perlu diwaspadai:

  • Sakit kepala yang parah,

  • Gangguan penglihatan,

  • Tekanan darah tinggi,

  • Naiknya berat badan dengan cepat,

  • Mual,

  • Sakit kepala pada area abdominal,

  • Protein pada urine,

  • Bengkak pada tangan dan kaki.

Hidung Tersumbat dan Mimisan saat Hamil

Freepik/marymarkevich

Masalah pernapasan adalah masalah yang seringkali dihadapi ibu hamil. Mama mungkin mengalami hidung tersumbat yang mengganggu, bahkan tak jarang diiringi dengan keluarnya darah dari hidung alias mimisan.

Jika Mama mengalaminya saat hamil, tenang saja, Mama tak sendiri. Hampir 65 persen ibu hamil mengalami masalah yang mengganggu kenyamanan ini. 

Naiknya hormon preogesteron dan estrogen meningkatkan aliran darah ke seluruh selaput lendir tubuh, termasuk hidung.

Fluktuasi hormon ini memungkinkan tubuh memunculkan alergi-alergi terkait pernapasan. Selaput lendir di sekitar hidung membengkak dan melunak, sehingga menyebabkan hidung tersumbat.

Hidung tersumbat, terkadang disertai berdarah terjadi karena Mama membuang ingus terlalu keras, biasanya dimulai di minggu ke-16 kehamilan. Sayangnya, ketidaknyamanan ini biasanya terus dialami ibu hamil, bahkan semakin memburuk, hingga akhir kehamilan. Jadi, selalu siapkan tisu atau sapu tangan di sekitar Mama, ya!

Jika Mama mengalami hidung kehamilan, jangan khawatir. Kondisi ini akan segera berlalu setelah Mama melahirkan.

Yang perlu diwaspadai adalah gejala yang muncul bersamaan dengan hidung yang membengkak. Karena itu bisa menjadi salah satu tanda komplikasi kehamilan.

Semoga informasi ini bermanfaat, Ma!

Baca juga:

The Latest