Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Amankah Sleep Training untuk Bayi? Ini Penjelasannya
Pexels/Jonathan Borba
  • Sleep training umumnya aman bila bayi cukup usia, tidur di lingkungan aman, dan metodenya disesuaikan dengan kebutuhan bayi, termasuk respons terhadap isyarat serta kebutuhan menyusu.

  • Usia mulai yang dianjurkan sekitar 4 bulan dengan berat sekitar 6,3 kg; bayi baru lahir tidak dianjurkan karena masih membutuhkan menyusu sepanjang malam.

  • Pelaksanaan mencakup konsultasi dokter, memenuhi kebutuhan dasar, menidurkan saat mengantuk, konsisten pada metode, serta menjaga rutinitas dan respons hangat kepada bayi sepanjang hari.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Latihan tidur untuk bayi bisa aman kalau bayi sudah cukup besar dan tempat tidurnya aman. Biasanya bisa mulai sekitar umur 4 bulan. Bayi baru lahir belum boleh karena masih perlu minum malam. Mama bisa tanya dokter dulu, memastikan bayi kenyang dan popok bersih, lalu tetap memberi sayang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Malam-malam Mama terbangun berkali-kali karena si Kecil rewel dan susah tidur sendiri. Rasanya sangat lelah sampai Mama mulai kepikiran untuk mencoba sleep training. 

Tapi di sisi lain, muncul rasa ragu, yakni apakah melakukan sleep training aman untuk dilakukan oleh orangtua kepada bayinya?

Tenang, Ma, dilema seperti ini wajar dialami hampir semua orangtua baru. Supaya tidak salah langkah dan tetap nyaman untuk si Kecil, berikut Popmama.com mengulas amankah sleep training untuk bayi?

Yuk, simak sampai habis!

Apakah Aman Sleep Training untuk Bayi?

Pexels/Sarah Chai

Menurut Cleveland Clinic, sleep training pada dasarnya aman selama bayi sudah cukup umur dan tidur di lingkungan yang aman. Penelitian jangka panjang bahkan menunjukkan metode ini tidak terbukti berdampak buruk secara fisik maupun psikologis pada bayi.

Dokter anak Noah Schwartz yang dikutip dari Cleveland Clinic menjelaskan bahwa sleep training justru bisa memperbaiki suasana hati orangtua, meningkatkan kualitas tidur bayi, dan mempererat kelekatan (secure attachment) antara bayi dan pengasuhnya.

Menurut Australian Breastfeeding Association, tidak semua metode sleep training didukung oleh bukti yang sama kuatnya. Mama disarankan untuk mempertimbangkan kebutuhan menyusui dan seberapa besar metode tersebut tetap merespons isyarat si Kecil.

Jadi, jawabannya bisa dibilang aman, asal caranya tepat dan disesuaikan dengan usia serta kesiapan bayi mama agar bisa dilakukan dengan tepat dan aman.

Bayi Umur Berapa Boleh Mulai Sleep Training?

Pexels/CAMERA TREASURE

Menurut Cleveland Clinic, usia ideal untuk mulai sleep training adalah sekitar 4 bulan. Pada usia ini, bayi mama biasanya sudah mulai bisa self-soothing dan siklus tidurnya mengikuti circadian rhythm.

Melansir UChicago Medicine, patokan usia 4 bulan dengan berat badan sekitar 6,3 kg adalah waktu yang cukup tepat. Di bawah usia itu, bayi belum memproduksi melatonin sendiri sehingga sulit membedakan siang dan malam.

Setiap bayi berkembang dengan kecepatan berbeda, ada yang siap sedikit lebih awal, ada pula yang baru siap di usia 6 bulan. Yang penting, jangan coba sleep training pada bayi baru lahir karena mereka masih butuh menyusu sepanjang malam.

Kalau Mama masih ragu soal waktu yang pas, tidak ada salahnya untuk tanya dulu ke dokter anak langganan si Kecil agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Apa Tanda Bayi Sudah Siap Mengikuti Sleep Training?

Pexels/Nataliya Vaitkevich

Sebelum memulai, ada baiknya Mama mengenali dulu tanda-tanda bahwa si Kecil sudah siap untuk sleep training. Berikut beberapa di antaranya:

  • Berat badan sudah cukup
    Menurut UChicago Medicine, berat badan  sekitar 6,3 kg adalah patokan berat badan yang membuat bayi biasanya tidak lagi butuh menyusu di tengah malam.

  • Sering terbangun minta digendong atau disusui semalaman
    Kalau pola ini mulai mengganggu istirahat Mama dan si Kecil, melansir The Mother Baby Center, hal ini merupakan salah satu sinyal saatnya mempertimbangkan sleep training.

  • Menunjukkan tanda mengantuk yang jelas
    Mengutip Cleveland Clinic, ada beberapa tanda seperti menguap, mengucek mata, atau menarik-narik telinga sebagai isyarat bayi siap ditidurkan sendiri.

  • Belum lagi butuh digendong sepanjang waktu untuk tidur
    Kalau si Kecil mulai menunjukkan sedikit kemampuan menenangkan diri sendiri, artinya ia mulai siap belajar self-soothing.

  • Pola tidur siangnya sudah cukup stabil
    Dikutip dari The Mother Baby Center, bila jadwal tidur siang bayi mama sudah cukup teratur, malam hari biasanya lebih mudah dilatih.

Apa Saja Metode Sleep Training yang Bisa Dicoba untuk Bayi?

Pexels/upender photography

Ada beberapa metode sleep training yang bisa Mama pilih sesuai kenyamanan keluarga. Melansir Cleveland Clinic, berikut beberapa yang paling umum dicoba:

  • Cry-it-out (CIO)
    Bayi ditidurkan saat masih terjaga, lalu dibiarkan belajar tidur sendiri tanpa digendong lagi sampai pagi atau jadwal menyusu berikutnya.

  • Metode Ferber
    Mama menidurkan si Kecil lalu keluar ruangan, kemudian kembali mengecek dengan jeda waktu yang makin panjang tanpa menggendongnya.

  • Metode kursi (chair method)
    Mama duduk di kursi dekat tempat tidur bayi sampai ia tertidur, lalu menggeser kursi makin menjauh tiap beberapa malam.

  • Pick up, put down
    Bayi digendong sebentar saat menangis untuk menenangkannya, lalu diletakkan kembali sebelum benar-benar tertidur.

  • Bedtime fading
    Jam tidur digeser bertahap 15 menit tiap malam sampai sesuai dengan ritme alami tubuh si Kecil.

Bagaimana Cara Melakukan Sleep Training yang Aman?

Pexels/Nothing Ahead

Supaya prosesnya nyaman untuk Mama dan si Kecil, ikuti langkah-langkah berikut ini:

  • Konsultasi ke dokter anak dulu
    Mengutip UChicago Medicine, Mama disarankan untuk membicarakan rencana sleep training dengan dokter untuk memastikan si Kecil sudah siap dan sehat.

  • Pastikan kebutuhan dasar terpenuhi
    Menurut Cleveland Clinic, pastikan bayi sudah kenyang, popoknya bersih, dan tempat tidurnya aman sebelum memulai.

  • Letakkan bayi saat mengantuk, bukan saat sudah tidur pulas
    Cara ini membantu si Kecil belajar mengenali situasi dan menenangkan diri sendiri hingga tertidur.

  • Konsisten setiap malam
    Melansir Cleveland Clinic, konsistensi adalah kunci, di mana semua pengasuh di rumah perlu sepakat menjalankan metode yang sama.

  • Tetap penuhi kasih sayang di siang hari
    Mengutip Zero to Three, sleep training tidak akan berdampak buruk pada tumbuh kembang otak maupun kelekatan bayi selama ia tetap mendapat respons hangat sepanjang hari.

Tips Melakukan Sleep Training

Pexels/Eric Moura

Terakhir, beberapa tips ini bisa bikin proses sleep training lebih lancar buat Mama dan si Kecil.

  • Bangun rutinitas sebelum tidur
    Menurut The Mother Baby Center, ada beberapa urutan yang sama dilakukan tiap malam, misalnya mandi, pakai piyama, lalu membacakan buku.

  • Fleksibel tapi tetap konsisten
    Kalaupun ada momen tak terduga seperti bepergian, usahakan Mama tetap kembali ke rutinitas semula secepatnya.

  • Kenali wake window si Kecil
    Menjaga waktu terjaga sesuai usia bayi membantu ia tidak kelelahan atau justru rewel saat mau tidur.

  • Percaya pada diri sendiri
    Melansir Cleveland Clinic, bayi bisa menangkap kegelisahan Mama. Semakin Mama percaya diri, semakin mudah pula si Kecil beradaptasi.

  • Jangan menyerah kalau satu metode belum cocok
    Tidak masalah mencoba metode lain sampai Mama menemukan yang paling pas untuk keluarga.

Pada akhirnya, sleep training adalah pilihan personal yang boleh banget Mama sesuaikan dengan kondisi keluarga sendiri. Yang terpenting, si Kecil tetap merasa aman dan disayangi sepanjang prosesnya berlangsung.

Nah, itulah pembahasan mengenai amankah sleep training untuk bayi? Semoga informatif dan bermanfaat, Ma!

Curated For You

Editorial Team

Related Article