- Terlalu banyak makan MPASI tinggi beta-karoten: Menurut DermNet, anak yang rutin makan MPASI dari wortel, labu, dan ubi jalar berisiko tinggi mengalami karotenemia karena proses memasak, menghaluskan, dan mem-puree makanan tersebut justru meningkatkan penyerapan beta-karotennya.
- ASI dari Mama yang tinggi karoten: Mengutip Baby Dash, si Kecil yang disusui pun bisa terkena karotenemia apabila Mama sendiri banyak mengonsumsi makanan tinggi karoten, karena zat ini bisa ikut terbawa lewat ASI.
- Pola makan vegetarian atau tinggi sayur-buah oranye-kuning: Dikutip dari iCliniq, vegetarian dan orang dengan pola makan tinggi karotenoid berisiko lebih besar mengalami kondisi ini.
- Faktor genetik atau metabolik: Menurut DermNet, ada juga jenis karotenemia metabolik yang terjadi karena kelainan bawaan dalam mengubah beta-karoten menjadi vitamin A dan dapat diturunkan dalam keluarga.
Apa Itu Karotenemia? Ini Penyebab dan Gejalanya pada Bayi

- Karotenemia adalah peningkatan beta-karoten dalam darah yang membuat kulit bayi kekuningan atau oranye, umumnya setelah konsumsi berlebih wortel, labu, ubi jalar, atau paparan melalui ASI.
- Ciri utamanya warna kuning kejinggaan pada hidung, lipatan wajah, telapak tangan dan kaki; bagian putih mata tetap normal serta tidak disertai demam, mual, muntah, atau keluhan lain.
- Kondisi ini umumnya jinak dan ditangani dengan menyeimbangkan menu, bukan menghapus karotenoid sepenuhnya; dokter dapat menilai riwayat makan, pemeriksaan fisik, tes darah, dan fungsi hati bila diperlukan.
Mama yang baru saja mengenalkan MPASI wortel, labu, atau ubi jalar pada si Kecil mungkin pernah dikagetkan dengan warna kulit si Kecil yang tiba-tiba berubah kekuningan, bahkan oranye, terutama di telapak tangan dan kaki.
Rasa panik pun langsung muncul. Jangan-jangan ini tanda penyakit kuning atau gangguan pada organ hati yang dapat memengaruhi kulit si Kecil.
Tenang dulu, Ma. Kondisi ini punya nama sendiri, yaitu karotenemia, dan ternyata jauh lebih umum terjadi pada bayi serta balita daripada yang dibayangkan.
Supaya Mama semakin tahu tentang kondisi dan jadi lebih memahani apa yang dialami si Kecil, berikut Popmama.com mengulas apa itu karotenemia? Yuk, simak sampai habis!
Table of Content
Apa Itu Karotenemia?

Popmama.com/Muhammad Saddam Amtael Soerawijaya/AI Melansir DermNet, karotenemia adalah kondisi ketika kadar beta-karoten dalam darah melonjak di atas batas normal, sehingga memunculkan warna kulit kekuningan hingga oranye yang dikenal dengan istilah karotenoderma.
Mengutip Cleveland Clinic, kondisi ini justru lebih sering ditemukan pada anak kecil karena kebiasaan makan MPASI berbahan labu dan wortel yang dihaluskan.
Menurut Medicover Hospitals, karotenemia tergolong kondisi jinak alias tidak berbahaya, tapi kerap disalahartikan sebagai gejala penyakit kuning atau jaundice sehingga penting dikenali sejak dini.
Penyebab Karotenemia pada Bayi

Popmama.com/Muhammad Saddam Amtael Soerawijaya/AI Karotenemia bukan kondisi yang datang tiba-tiba tanpa sebab. Berikut beberapa pemicu utamanya:
Gejala Karotenemia

Popmama.com/Muhammad Saddam Amtael Soerawijaya/AI Kabar baiknya, gejala karotenemia cukup khas dan mudah dikenali, Ma. Berikut ciri-cirinya:
- Kulit berwarna kuning kejinggaan. Mengutip DermNet, warna ini biasanya pertama kali muncul di area hidung, lipatan sekitar hidung dan mulut, telapak tangan, serta telapak kaki, sebelum akhirnya menyebar ke bagian tubuh lain.
- Lebih terlihat di bawah cahaya lampu. Dilansir dari DermNet, perubahan warna kulit ini justru lebih jelas terlihat di bawah pencahayaan buatan dibandingkan dengan cahaya matahari.
- Bagian putih mata tetap normal: Ini menjadi pembeda paling penting dari penyakit kuning. Sklera atau bagian putih mata serta area mulut tidak ikut berubah warna pada karotenemia, berbeda dengan jaundice yang membuat area tersebut ikut menguning.
- Tidak disertai keluhan lain: Menurut iCliniq, karotenemia murni hanya menimbulkan perubahan warna kulit tanpa gejala tambahan seperti demam, mual, muntah, perubahan warna feses, atau pembesaran hati, yang justru menjadi tanda-tanda jaundice.
Cara Mencegah Karotenemia agar Tidak Berulang

Pexels/Engin Akyurt Meski tergolong tidak berbahaya, tentu Mama tetap ingin si Kecil tumbuh dengan pola makan yang seimbang. Beberapa langkah pencegahan berikut bisa dicoba:
- Variasikan menu MPASI: Mengutip Baby Dash, cara paling mudah mencegah karotenemia adalah memastikan si Kecil mendapat beragam jenis makanan, bukan cuma wortel, labu, atau ubi jalar terus-menerus.
- Sajikan makanan dengan warna berbeda tiap minggu: Melansir Baby Dash, Mama disarankan mengenalkan variasi warna makanan secara bergantian supaya asupan karotenoid tidak menumpuk berlebihan.
- Konsumsi karotenoid secukupnya, bukan berlebihan: Menurut Medicover Hospitals, makanan tinggi karotenoid tetap boleh dikonsumsi asal dalam jumlah wajar dan diimbangi dengan nutrisi lain.
- Rutin periksa kesehatan bila ada riwayat gangguan tiroid atau diabetes: Mengutip Medicover Hospitals, sangat penting pemeriksaan berkala bagi keluarga dengan riwayat gangguan metabolik agar potensi karotenemia sekunder bisa terdeteksi lebih awal.
Perawatan dan Cara Mengatasi Karotenemia

Pexels/Jonathan Borba Ini dia bagian yang bisa membuat Mama sedikit lega, yaitu karotenemia umumnya tidak memerlukan pengobatan khusus.
- Kurangi asupan makanan tinggi beta-karoten: Melansir Cleveland Clinic, langkah utama untuk mengatasi karotenemia adalah menyesuaikan pola makan, bukan menghentikan total makanan bergizi tersebut.
- Jangan langsung menghindari sayur dan buah kaya karoten: Mengutip Cleveland Clinic, makanan tinggi beta-karoten tetap sehat dan penting, sehingga cukup diseimbangkan dengan variasi menu lain, bukan dihilangkan sama sekali.
- Obati kondisi medis yang mendasarinya, jika ada: Menurut DermNet, apabila karotenemia disebabkan oleh gangguan seperti hipotiroidisme atau diabetes, penanganan difokuskan pada kondisi tersebut agar warna kulit ikut membaik.
- Bersabar menunggu warna kulit kembali normal: Dikutip dari Cleveland Clinic, warna kulit biasanya berangsur normal dalam hitungan minggu hingga bulan seiring berkurangnya kadar beta-karoten dalam tubuh.
- Konsultasi ke dokter bila warna kulit tak kunjung membaik: Segera periksakan diri jika perubahan pola makan sudah dilakukan, tetapi warna kulit tetap tidak membaik, untuk memastikan tidak ada penyebab lain.
Bagaimana Dokter Mendiagnosis Karotenemia?

Pexels/https://kaboompics.com/ Karotenemia sebenarnya cukup mudah dikenali oleh dokter tanpa banyak pemeriksaan rumit. Berikut proses diagnosisnya:
- Wawancara riwayat makan: Mengutip DermNet, dokter umumnya cukup menggali riwayat pola makan dan melakukan pemeriksaan fisik untuk menegakkan diagnosis karotenemia.
- Pemeriksaan fisik menyeluruh: Melansir Medicover Hospitals, dokter akan memeriksa area kulit yang berubah warna, terutama telapak tangan, telapak kaki, dan sekitar hidung.
- Tes darah bila diperlukan: Menurut iCliniq, kadar beta-karoten normal dalam darah berkisar 50 hingga 300 mcg/dL, dan pada karotenemia angka ini bisa melonjak 3 sampai 4 kali lipat.
- Tes fungsi hati: Dilansir dari DermNet, tes fungsi hati dilakukan untuk memastikan tidak ada gangguan liver yang mendasari perubahan warna kulit, sekaligus membedakannya dari jaundice.
- Pemeriksaan lanjutan bila ada kecurigaan penyakit lain: Jika riwayat makan tidak menunjukkan konsumsi tinggi karotenoid atau pemeriksaan fisik mengarah ke kondisi medis tertentu.
Nah, itulah pembahasan mengenai apa itu karotenemia? Kondisi perubahan warna kulit pada si Kecil yang harus Mama ketahui. Semoga informatif dan bermanfaat, Ma!



















