Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apa Itu Respiratory Distress pada Bayi? Kenali Tandanya
Pexels/Lemniscate L
  • Respiratory distress syndrome (RDS) adalah gangguan napas yang umum pada bayi prematur akibat kekurangan surfaktan, terutama pada kelahiran sebelum 32 minggu.

  • Tanda RDS dapat muncul dalam beberapa jam setelah lahir, meliputi napas cepat, kulit membiru, cuping hidung mengembang, suara merintih, dan tarikan dinding dada.

  • Diagnosis dilakukan melalui pemeriksaan fisik, rontgen, tes gas darah, dan ekokardiografi; penanganannya mencakup surfaktan, CPAP, ventilator, serta oksigen tambahan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Bayi yang lahir terlalu cepat kadang susah bernapas karena paru-parunya belum siap. Napasknya bisa cepat, bunyi, hidungnya kembang, atau bibirnya biru. Dokter akan melihat bayi dan memberi oksigen atau alat bantu napas. Biasanya keadaan paling berat di awal, lalu pelan-pelan membaik dengan perawatan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Melihat napas si Kecil yang baru lahir terengah-engah atau terdengar berat tentu bikin hati Mama campur aduk. Rasa cemas langsung muncul, apalagi kalau Mama belum pernah dengar istilah medis yang dokter sebutkan di ruang bersalin.

Salah satu istilah yang mungkin Mama dengar adalah respiratory distress atau gangguan pernapasan pada bayi baru lahir. Kondisi ini memang terdengar menakutkan, tapi sebenarnya cukup umum terjadi, terutama pada bayi yang lahir sebelum waktunya.

Supaya Mama tidak bingung dan lebih siap menghadapinya, berikut Popmama.com mengulas apa itu respiratory distress pada bayi? Yuk, simak sampai habis!

Apa Itu Respiratory Distress pada Bayi?

Pexels/Vidal Balielo Jr.

Respiratory distress syndrome (RDS), yang dulu dikenal dengan nama hyaline membrane disease, adalah salah satu masalah paling umum yang dialami bayi prematur.

Kondisi ini membuat bayi mama butuh bantuan oksigen tambahan dan alat bantu napas agar bisa bernapas dengan baik, dikutip dari Children's Hospital of Philadelphia (CHOP).

Menurut Cleveland Clinic, RDS paling sering terjadi pada bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 32 minggu. Semakin muda usia kehamilan saat lahir, semakin tinggi pula risiko dan tingkat keparahannya.

Kabar baiknya, kondisi ini umumnya memburuk dalam 48–72 jam pertama, lalu berangsur membaik seiring penanganan medis yang tepat.

Gejala Respiratory Distress yang Perlu Mama Kenali

Pexels/Marcus Goodman

Tanda-tanda RDS biasanya sudah terlihat dalam beberapa jam setelah bayi mama lahir. Berikut gejala yang paling umum muncul, dikutip dari Cleveland Clinic:

  • Napas cepat dan dangkal (tachypnea)
    Si Kecil bernapas jauh lebih cepat dari biasanya, kadang disertai jeda napas.

  • Kulit, bibir, atau kuku membiru (sianosis)
    Ini tanda tubuhnya kekurangan oksigen dan membutuhkan penanganan segera.

  • Cuping hidung mengembang
    Hidung si Kecil tampak melebar setiap kali menarik napas.

  • Suara mendengkur saat bernapas
    Bunyi seperti merintih yang muncul di setiap embusan napas.

  • Tarikan dinding dada (retraksi)
    Kulit di sekitar tulang rusuk dan tulang dada tertarik ke dalam saat bernapas.

Gejala-gejala ini, biasanya muncul dalam beberapa jam pertama dan mencapai puncaknya sekitar hari ketiga. Setelah itu, kondisi si Kecil umumnya membaik seiring tubuhnya membuang kelebihan cairan lewat urine.

Penting untuk diingat, gejala RDS bisa mirip dengan kondisi lain. Jadi, selalu percayakan diagnosis pastinya kepada dokter anak yang menangani si Kecil.

Penyebab Respiratory Distress pada Bayi

Pexels/Renjith Tomy Pkm

Seperti disebutkan sebelumnya, akar masalah RDS ada pada kurangnya surfaktan di paru-paru. Tapi, ada beberapa hal yang melatarbelakangi kondisi ini, seperti dikutip dari Cleveland Clinic:

  • Kelahiran prematur
    Surfaktan baru mulai diproduksi janin sekitar usia kehamilan 26 minggu, sehingga bayi yang lahir terlalu dini belum sempat memproduksinya secara cukup.

  • Diabetes pada ibu hamil
    Kadar insulin berlebih akibat diabetes pada Mama bisa memperlambat produksi surfaktan pada janin.

  • Infeksi atau pneumonia saat lahir
    Infeksi yang dialami bayi mama sekitar waktu persalinan dapat memicu gangguan pernapasan.

  • Perubahan genetik
    Dalam kasus yang jarang, faktor genetik tertentu bisa membuat bayi cukup bulan tetap mengalami RDS.

Meski jarang, bayi yang lahir pada usia kehamilan 39 minggu atau lebih pun tetap bisa mengalami RDS akibat berbagai faktor di atas. Jadi, kondisi ini tidak melulu soal prematuritas semata.

Cara Mencegah Respiratory Distress pada Bayi

Pexels/PARINDA SHAAN

Langkah pencegahan RDS yang paling utama adalah mencegah kelahiran prematur itu sendiri. Karena itu, menjaga kesehatan kehamilan dan kontrol rutin ke dokter kandungan menjadi kunci penting bagi Mama.

Namun, jika kelahiran prematur memang tidak bisa dihindari, dokter biasanya akan memberikan obat kortikosteroid kepada Mama sebelum persalinan. 

Menurut Children’s Hospital of Philadelphia, suntikan ini umumnya diberikan pada usia kehamilan 24–34 minggu bagi ibu yang berisiko melahirkan lebih awal, karena terbukti mampu menurunkan risiko sekaligus keparahan RDS pada bayi.

Sayangnya, jika proses persalinan berlangsung sangat cepat atau tidak terduga, kadang tidak ada cukup waktu untuk memberikan kortikosteroid hingga benar-benar bekerja. Di sinilah pentingnya mengenali tanda-tanda persalinan prematur sedini mungkin agar penanganan bisa dilakukan.

Faktor Risiko Respiratory Distress pada Bayi

Pexels/Vidal Balielo Jr.

Selain prematuritas, ada sejumlah faktor lain yang bisa meningkatkan risiko bayi mama mengalami RDS, seperti dikutip dari Cleveland Clinic:

  • Usia kehamilan di bawah 32 minggu
    Semakin dini kelahiran, semakin besar peluang RDS terjadi.

  • Riwayat saudara kandung dengan RDS
    Jika kakak si Kecil pernah mengalaminya, risiko adik berikutnya juga meningkat.

  • Kehamilan kembar
    Bayi kembar atau triplet cenderung lahir lebih awal, sehingga lebih rentan mengalami RDS.

  • Diabetes selama kehamilan
    Kadar gula darah Mama yang tidak terkontrol turut memengaruhi kematangan paru-paru janin.

  • Persalinan caesar tanpa proses persalinan aktif
    Kondisi ini disebut-sebut memengaruhi cara paru-paru bayi beradaptasi setelah lahir.

Bila si Kecil termasuk dalam kelompok berisiko tinggi, dokter kandungan Mama mungkin akan menyarankan pemberian kortikosteroid selama kehamilan untuk membantu mematangkan paru-paru janin lebih cepat.

Cara Diagnosis Respiratory Distress pada Bayi

Wikimedia Commons/Mikael Häggström, M.D.

Begitu si Kecil lahir, tim medis akan langsung memantau kondisinya untuk mendeteksi tanda-tanda RDS sejak dini. Mengutip Children’s Hospital of Philadelphia, berikut pemeriksaan yang biasa dilakukan:

  • Pengamatan fisik langsung
    Dokter memeriksa warna kulit, pola napas, dan upaya bernapas si Kecil.

  • Rontgen dada
    Pemeriksaan pencitraan ini membantu melihat kondisi paru-paru bayi mama secara langsung.

  • Tes gas darah
    Sampel darah diperiksa untuk mengukur kadar oksigen, karbon dioksida, dan tingkat keasaman darah.

  • Ekokardiografi
    Pemeriksaan USG jantung ini dilakukan untuk memastikan gejala yang muncul bukan disebabkan oleh masalah jantung.

Kombinasi hasil pemeriksaan ini membantu dokter menentukan tingkat keparahan RDS sekaligus jenis penanganan yang paling tepat untuk si Kecil.

Perawatan dan Pengobatan Respiratory Distress pada Bayi

Pexels/Craig Adderley

Setelah diagnosis ditegakkan, dokter akan segera memberikan penanganan sesuai kondisi si Kecil. Mengutip Cleveland Clinic, berikut metode pengobatan yang umum diberikan antara lain:

  • Terapi pengganti surfaktan
    Cairan surfaktan buatan dimasukkan lewat selang napas dan paling efektif bila diberikan dalam 6 jam pertama setelah lahir.

  • CPAP (continuous positive airway pressure)
    Alat ini mengalirkan udara atau oksigen secara terus-menerus untuk menjaga kantong udara paru-paru tetap terbuka.

  • Ventilator mekanis
    Untuk kasus yang lebih berat, mesin ini akan mengambil alih sepenuhnya kerja pernapasan si Kecil.

  • Oksigen tambahan
    Diberikan untuk memastikan kadar oksigen dalam darah bayi mama tetap stabil.

  • Obat pereda nyeri atau sedasi ringan
    Membantu si Kecil tetap tenang selama menjalani perawatan.

Tim medis akan memantau kondisi si Kecil secara ketat selama masa perawatan ini. Seiring waktu, kebutuhan oksigen dan alat bantu napasnya akan berkurang secara bertahap hingga akhirnya bisa bernapas mandiri.

Jika Mama melihat tanda-tanda napas tidak biasa pada si Kecil, jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan dokter anak. Semakin cepat ditangani, semakin besar pula peluang si Kecil melewati masa-masa awal kehidupannya dengan baik.

Nah, itulah pembahasan mengenai apa itu respiratory distress pada bayi? Sebuah kondisi pada bayi yang harus Mama ketahui sebelum memburuk. Semoga informatif dan bermanfaat, Ma!

Curated For You

Editorial Team

Related Article