Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bayi Ngiler dan Suka Gigit Jari, Benarkah Tanda Siap Makan?
Magnific/jcomp
  • Bayi ngiler dan suka gigit jari di usia 3-4 bulan adalah fase perkembangan normal, bukan tanda siap makan karena sistem pencernaannya belum matang.
  • Pemberian MPASI ideal dilakukan saat bayi berusia 6 bulan, kecuali ada indikasi medis khusus yang disarankan dokter seperti gagal tumbuh atau kekurangan zat besi.
  • Memulai MPASI terlalu dini dapat meningkatkan risiko infeksi saluran cerna, obesitas di masa depan, serta membahayakan bayi jika kontrol kepala dan postur tubuhnya belum kuat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Orangtua tentu ingin benar-benar mengetahui dan memahami perkembangan si Kecil secara menyeluruh. Mulai dari si Kecil lahir hingga beberapa bulan pertama kehidupan, orangtua dan bayi seolah saling belajar satu sama lain.

Terutama untuk first parent, segala pertumbuhan dan perkembangannya bisa membuat penasaran hingga khawatir berlebihan. Di usia bayi 3-4 bulan, biasanya kelenjar air liurnya sudah mulai aktif dan memproduksi air liur dalam jumlah yang jauh lebih banyak. 

Namun, di usia ini bayi belum memiliki kontrol yang baik terhadap otot-otot menelan dan struktur mulutnya belum sepenuhnya siap untuk menampung cairan tersebut, air liur akhirnya mengalir keluar atau ngiler. Tidak hanya itu, di usia ini juga mulut bayi mulai mengeksplorasi dunia sekitarnya dan mencari kenyamanan. 

Bayi menemukan tangan dan jarinya sendiri, lalu memasukkannya ke dalam mulut sebagai bentuk stimulasi sensorik dan mekanisme menenangkan diri (self-soothing). Dua tanda ini dianggap orangtua menganggap sebagai tanda bayi siap memasuki makan pertamanya atau MPASI (Makanan Pendamping ASI). 

Apakah itu benar? Rupanya tidak selalu, lho! Lewat unggahan Instagramnya @dryunianak, dr. Yuni Astria, Sp.A menjelaskan mengenai fenomena ini.

Untuk lebih lengkapnya, berikut Popmama.com rangkum informasinya agar Mama dan Papa tidak salah.

1. Bayi mulai ngiler dan suka gigit jari di usia 3-4 bulan, bukan berarti siap makan

Magnific/jcomp

Umumnya fenomena bayi suka ngiler dan menggigit jarinya mulai meningkat secara signifikan saat bayi memasuki usia 3 hingga 4 bulan. Alasannya karena kelenjar air liur mulai aktif memproduksi ludah dalam jumlah banyak, tetapi karena bayi belum mahir mengontrol otot menelan, air liur akhirnya mengalir keluar. 

Di usia 3-4 bulan ini juga bayi mulai memasuki fase oral, mulut menjadi sarana utama bayi mengeksplorasi tubuhnya sendiri dan mencari kenyamanan (self-soothing) dengan cara memasukkan jari. Misalnya, tumbuh gigi pertama mungkin dimulai pada usia 6 bulan tetapi gigi yang mulai bergerak di bawah gusi (pre-eruptive teething) bisa menimbulkan rasa gatal atau tidak nyaman, memicu refleks alami bayi untuk menggigit benda di sekitarnya. 

Perilaku ini murni bagian dari fase tumbuh kembang yang normal, bukan petunjuk medis atau kode bahwa anak kelaparan dan sudah siap menerima makanan padat atau MPASI.

Menurut dr. Yuni, di usia 3-4 bulan ini juga pencernaan bayi belum sempurna. Sehingga memberikan makanan padat terlalu dini bisa berisiko pada kesehatannya. 

“Produksi berbagai enzim pencernaan, fungsi usus, dan kemampuan mengolah makanan padat belum sematang anak yang lebih besar. Enzim-enzim tersebut antara lain, amilase (mencerna karbohidrat), protease (mencerna protein), dan lipase (mencerna lemak) yang masih berkembang pada awal kehidupan bayi. Memberikan makanan padat terlalu dini dapat membebani sistem pencernaan bayi yang masih dalam tahap perkembangan,” ujar dr. Yuni.

2. MPASI ideal tetap di usia 6 bulan, kecuali ada kasus tertentu

Pexels/kaboompics.com

Aturan baku pemberian MPASI yang ideal tetaplah di usia 6 bulan. Pemberian MPASI lebih awal misalnya antara usia 4-6 bulan hanya boleh dilakukan atas instruksi dokter untuk indikasi medis khusus, seperti bayi yang mengalami gagal tumbuh (weight faltering) atau kekurangan zat besi yang tidak bisa diatasi dengan ASI saja. 

“Namun, pada populasi bayi tertentu (seperti bayi berisiko kekurangan zat besi, weight faltering yang telah diperbaiki manajemen laktasinya namun tidak berhasil), dokter mungkin akan mempertimbangkan saran pemberian MPASI mulai usia 4 bulan (>17 minggu), jika bayi sudah siap,” jelas dr. Yuni.

Penelitian klinis juga membuktikan bahwa MPASI di rentang usia ini (jika ada indikasi medis) tidak akan menghentikan kelangsungan pemberian ASI.

3. Bahaya MPASI terlalu dini tanpa indikasi dan dampak panjangnya 

Pexels/Andrea Piacquadio

Memberikan makanan sebelum usia 4 bulan mendatangkan banyak kerugian. Selain menurunkan asupan nutrisi terbaik dari ASI, hal ini melipatgandakan risiko infeksi saluran cerna yang berbahaya. 

Dampak jangka panjangnya adalah risiko obesitas pada anak saat tumbuh besar, serta menghambat penurunan berat badan alami bagi ibu pasca melahirkan. 

“Bayi yang diberi ASI eksklusif 3-4 bulan lalu dicampur MPASI memiliki risiko infeksi saluran cerna yang lebih tinggi dibandingkan bayi yang full ASI 6 bulan. Selain itu, pemberian makan sebelum usia 4 bulan dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas (kegemukan) pada anak di masa depan, dan memperlambat penurunan berat badan mama pasca melahirkan!” kata dr. Yuni.

4. Syarat mutlak pemberian MPASI: Kontrol kepala dan truncal tone

Pexels.com/Yan Krukau

dr. Yuni menerangkan sebelum diberi makan, bayi harus memenuhi syarat fisik utama yaitu kepalanya sudah tegak dan otot punggungnya cukup kuat untuk menopang tubuh saat duduk (truncal tone). 

Jika posisinya masih lemas atau merosot (seperti gambar silang merah), saluran pernapasannya bisa tertekuk sehingga sangat rawan membuat bayi tersedak makanan yang berujung fatal. 

"Mengapa penting? Postur tulang belakang dan leher yang lurus memastikan jalur jalan napas (trakea) tidak tertekuk, sehingga risiko tersedak (choking) akan lebih rendah,” ujarnya.

5. Jangan terkecoh "tanda kesiapan palsu" untuk MPASI

Freepik/prostooleh

Banyak orangtua mengira bayi yang melihat orang makan, menggigit tangan atau mainan, hingga sering terbangun malam adalah tanda ia sudah siap menerima MPASI. Padahal, anggapan tersebut belum tentu benar.

Dokter menegaskan bahwa perilaku tersebut lebih berkaitan dengan tahapan perkembangan bayi, bukan sinyal bahwa ia membutuhkan makanan padat. Bayi yang memperhatikan orang makan sebenarnya sedang belajar melalui observasi dan interaksi sosial. Sementara kebiasaan menggigit tangan atau mainan merupakan bagian dari fase oral maupun tanda gusi mulai tidak nyaman menjelang tumbuh gigi.

Selain itu, bayi yang sering menyusu pada malam hari atau mengalami cluster feeding umumnya sedang memasuki fase growth spurt (lonjakan pertumbuhan), sehingga kebutuhan menyusunya meningkat. Hal ini bukan berarti ASI tidak mencukupi.

"Terburu-buru memulai MPASI karena salah mengartikan sinyal bayi justru dapat memicu berbagai tantangan psikososial (stres, cemas, hingga depresi) baik bagi orangtua maupun anak,” tutur dr. Yuni.

6. Kesiapan MPASI bukan hanya soal usia, tetapi juga kematangan organ

Pexels/cottonbro studio

Selain melihat usia, orangtua juga perlu memperhatikan kematangan kemampuan makan bayi. Salah satu tandanya adalah menghilangnya extrusion reflex atau refleks mendorong lidah yang dimiliki sejak lahir. Ketika refleks ini sudah berkurang, bayi mulai mampu menggeser makanan ke sisi gusi (lateralisasi lidah), mengunyah, lalu menelannya dengan lebih baik.

Di sisi lain, dokter juga mengingatkan bahwa anggapan menunda pemberian makanan alergen seperti telur agar anak tidak alergi sudah tidak sesuai dengan rekomendasi terbaru. 

Berdasarkan pembaruan panduan ESPGHAN (European Society for Paediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition), makanan berpotensi alergen, seperti telur yang dimasak matang sempurna, justru dapat diperkenalkan sejak awal MPASI sesuai kesiapan bayi sambil tetap melanjutkan pemberian ASI.

Sebagai penutup, dr. Yuni menekankan bahwa usia sekitar 6 bulan tetap menjadi patokan terbaik karena pada periode inilah berbagai sistem tubuh bayi umumnya telah matang secara bersamaan. Apabila orangtua masih ragu mengenai kesiapan si Kecil, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter spesialis anak sebelum memulai MPASI.

"Kematangan organ adalah alarm terbaik! Syarat kesiapan umumnya tercapai bersamaan di usia sekitar 6 bulan. Mempercepat MPASI tanpa indikasi medis ibarat menyuruh bayi berlari sebelum ia bisa merangkak,” ungkapnya.

Jadi bayi ngiler dan suka gigit jari belum tentu tanda siap makan. Mama dan Papa perlu mengenali dan mengetahui perkembangan si Kecil sebelum memulai fase makan pertamanya!

Curated For You

Editorial Team

Related Article