Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Benarkah Bayi Menangis Hanya karena Lapar? Ini Penyebabnya
Pexels/Polina Smelova
  • Tangisan menjadi cara utama bayi berkomunikasi saat membutuhkan sesuatu atau merasa tidak nyaman.

  • Selain lapar, bayi dapat menangis karena lelah, kondisi fisik, kebutuhan kedekatan, stimulasi berlebih, kolik, atau nyeri.

  • Tanda lain yang menyertai tangisan membantu orangtua memahami kebutuhan bayi dan mengenali kondisi yang memerlukan perhatian medis.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Bayi menangis tidak selalu karena lapar, tetapi juga dapat karena lelah, tidak nyaman, membutuhkan kedekatan, stimulasi berlebih, kolik, sakit, atau nyeri.
  • Who?
    Bayi usia 0–6 bulan dan orangtua yang mengenali pola tangisan serta tanda lain yang ditunjukkan bayi.
  • Where?
    Di lingkungan sekitar bayi, termasuk saat suasana terlalu ramai, bising, terang, atau terdapat terlalu banyak aktivitas.
  • When?
    Pada usia 0–6 bulan, ketika bayi belum bisa menyampaikan apa yang dirasakan melalui kata-kata.
  • Why?
    Tangisan menjadi salah satu cara utama bayi berkomunikasi ketika membutuhkan sesuatu atau merasa tidak nyaman.
  • How?
    Bayi menunjukkan tangisan dan tanda lain, seperti memasukkan tangan ke mulut, menoleh ke arah payudara atau botol, serta menjilat atau mengecap bibir.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bayi menangis saat ia lapar, lelah, popoknya basah, atau tubuhnya tidak nyaman. Bayi juga bisa ingin dipeluk atau merasa pusing karena ramai dan terang. Bayi belum bisa bicara, jadi ia memakai tangisan. Kalau bayi sakit, napasnya sulit, atau sangat lemas, orangtua perlu mencari bantuan dokter.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mengenali tangisan sebagai bentuk komunikasi memberi ruang bagi orangtua untuk melihat kebutuhan bayi secara lebih menyeluruh. Isyarat awal lapar, kondisi popok, rasa lelah, dan respons terhadap lingkungan dapat diperhatikan bersama-sama. Kedekatan fisik juga dapat membantu sebagian bayi merasa lebih tenang dan aman saat menangis.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bayi menangis tidak selalu berarti lapar. Meski rasa lapar merupakan salah satu penyebab yang paling umum, menangis sebenarnya menjadi salah satu cara utama bayi berkomunikasi ketika mereka membutuhkan sesuatu atau merasa tidak nyaman.

Pada usia 0-6 bulan, bayi belum bisa menyampaikan apa yang dirasakan melalui kata-kata. Tangisan pun dapat menjadi tanda bahwa bayi sedang lapar, lelah, merasa tidak nyaman, membutuhkan kedekatan, terlalu banyak menerima stimulasi, atau bahkan sedang tidak enak badan.

Seiring waktu, orangtua biasanya akan mulai mengenali pola tangisan dan tanda-tanda lain yang ditunjukkan bayi. Dengan begitu, kebutuhan si Kecil dapat lebih mudah dipahami tanpa langsung menganggap setiap tangisan sebagai tanda lapar.

Lantas, apa saja penyebab bayi menangis selain lapar? Berikut Popmama.com rangkum penjelasannya.

1. Lapar memang menjadi salah satu penyebab bayi menangis

Pexels/Antoni Shkraba Studio

Lapar merupakan salah satu alasan paling umum bayi menangis. Namun, menangis sebenarnya termasuk tanda lapar yang sudah terlambat. Sebelum menangis, bayi biasanya sudah memberikan beberapa isyarat awal bahwa ia ingin menyusu.

Menurut CDC, tanda lapar pada bayi usia lahir hingga 5 bulan dapat berupa memasukkan tangan ke mulut, menoleh ke arah payudara atau botol, serta menjilat atau mengecap bibir.

Mengenali tanda-tanda ini dapat membantu orangtua memberikan ASI atau susu sebelum bayi menjadi terlalu rewel.

Jadi, ketika bayi menangis, orangtua boleh mempertimbangkan rasa lapar sebagai salah satu penyebabnya. Namun, jangan langsung berasumsi bahwa setiap tangisan berarti bayi membutuhkan susu.

2. Bayi mungkin merasa lelah dan ingin tidur

Pexels/Antoni Shkraba Studio

Bayi yang kelelahan juga dapat menjadi rewel dan menangis. Berbeda dengan orang dewasa yang mungkin langsung tertidur saat mengantuk, bayi terkadang justru semakin sulit ditenangkan ketika sudah terlalu lelah.

Selain menangis, bayi yang mengantuk bisa menunjukkan tanda seperti menjadi lebih rewel atau sulit fokus pada lingkungan sekitarnya. Rasa lelah juga termasuk salah satu penyebab umum bayi menangis.

Jika bayi sudah menyusu dan popoknya bersih, coba perhatikan apakah ia membutuhkan waktu untuk beristirahat. Mengurangi cahaya dan suara di sekitar bayi dapat membantu menciptakan suasana yang lebih tenang.

3. Popok basah atau tubuh yang tidak nyaman

Unsplash/Jessica Hearn

Hal sederhana seperti popok basah atau kotor dapat membuat bayi merasa tidak nyaman dan menangis. Bayi juga mungkin rewel ketika pakaiannya terlalu ketat atau tubuhnya merasa terlalu panas maupun dingin.

Karena itu, salah satu hal pertama yang bisa diperiksa saat bayi menangis adalah kondisi fisiknya. Pastikan popoknya bersih, pakaian tidak mengganggu, dan suhu lingkungan terasa nyaman.

4. Bayi membutuhkan pelukan dan kedekatan

Pexels/Sarah Chai

Tidak semua tangisan memiliki penyebab fisik. Terkadang, bayi hanya ingin digendong, dipeluk, atau merasa dekat dengan orangtuanya.

Kedekatan fisik dapat membantu sebagian bayi merasa lebih tenang dan aman. Jadi, menggendong bayi yang sedang menangis bukan berarti selalu memanjakannya.

5. Terlalu banyak stimulasi dapat membuat bayi kewalahan

Pexels/Huynh Van

Lingkungan yang terlalu ramai, suara bising, cahaya terang, atau terlalu banyak aktivitas dapat membuat bayi merasa kewalahan. Kondisi ini dikenal sebagai overstimulation, yang dapat membuat bayi menjadi rewel atau menangis.

Setiap bayi memiliki tingkat sensitivitas yang berbeda terhadap lingkungan di sekitarnya. Jika si Kecil tampak kewalahan, Mama bisa mencoba membawanya ke tempat yang lebih tenang dan mengurangi stimulasi di sekitarnya.

6. Kolik dapat menyebabkan bayi menangis lebih sering

Unsplash/Aikomo Opeyemi

Pada beberapa bayi, tangisan yang berlangsung lama dan sulit ditenangkan dapat berkaitan dengan kolik. Kolik umumnya terjadi pada bayi yang sebenarnya sehat, tetapi mengalami episode menangis berlebihan tanpa penyebab yang jelas.

Layanan Kesehatan Inggris atau NHS menjelaskan bahwa kolik dapat terjadi pada bayi berusia di bawah lima bulan. Penyebab pastinya belum diketahui, tetapi kondisi ini umumnya membaik seiring pertambahan usia bayi.

Meski demikian, bayi yang sering menangis tidak selalu mengalami kolik. Jika orangtua merasa tangisan bayi sangat berlebihan atau ada gejala lain yang mengkhawatirkan, sebaiknya konsultasikan kepada dokter.

7. Bayi mungkin sedang sakit atau merasa nyeri

Pexels/Laura Garcia

Tangisan juga bisa menjadi cara bayi memberi tahu bahwa tubuhnya sedang tidak enak. Bayi yang sakit atau mengalami nyeri mungkin menangis lebih sering, sulit ditenangkan, atau memiliki tangisan yang terdengar berbeda dari biasanya.

Perhatikan pula gejala lain yang menyertai tangisan, seperti demam, muntah berulang, kesulitan bernapas, tidak mau menyusu, atau bayi tampak sangat lemas. Kondisi seperti ini memerlukan perhatian medis.

Segera konsultasikan ke dokter jika tangisan bayi terasa tidak biasa atau disertai tanda-tanda bayi sedang sakit. Orangtua juga tidak perlu ragu untuk mencari bantuan apabila merasa ada sesuatu yang berbeda pada kondisi si Kecil.

Jadi, bayi menangis tidak hanya karena lapar. Ia mungkin sedang lelah, merasa tidak nyaman, membutuhkan pelukan, kewalahan dengan lingkungan, atau bahkan sedang tidak enak badan.

Dengan memperhatikan situasi dan tanda lain yang menyertai tangisan, orangtua dapat lebih mudah mencari tahu apa yang mungkin dibutuhkan si Kecil.

Tidak apa-apa jika penyebab tangisan bayi tidak selalu langsung diketahui. Tangisan merupakan bagian normal dari masa awal kehidupan dan menjadi salah satu cara bayi belajar berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article