Popmama.com/Alya Putri Abi/AI
Perubahan pada otak ini disebut neuroplastisitas. Dilansir dari Kementerian Kesehatan, neuroplastisitas adalah kemampuan otak untuk merombak dirinya sendiri dengan mengatur ulang koneksi dan fungsinya sebagai respons terhadap pengalaman, proses belajar, lingkungan, atau kondisi tertentu. Sederhananya, otak bukan sesuatu yang tetap, tetapi terus berkembang dan beradaptasi seiring dengan apa yang kita alami.
Mengutip The Bump, Psikolog dan Associate Professor di University of Southern California (USC), Darby Saxbe, menjelaskan kepada USC News bahwa otak manusia sangat fleksibel dan dapat berubah ketika seseorang belajar hal baru atau melalui fase penting dalam hidup, seperti masa kanak-kanak, remaja, hingga saat menjadi orangtua.
“Menjadi orangtua melibatkan perubahan gaya hidup dan biologi Anda serta membutuhkan keterampilan baru seperti kemampuan untuk berempati dengan bayi yang tidak dapat berbicara, jadi masuk akal, meskipun belum terbukti . bahwa otak akan sangat plastis selama transisi menjadi orangtua,” ujar Darby Saxbe.
Menurutnya, otak memang masih terus dipelajari dalam konteks neuroplastisitas, tetapi ada bukti bahwa otak dapat berubah dan berkembang ketika seseorang mempelajari keterampilan baru atau berada dalam fase perkembangan tertentu.
Menjadi orangtua sendiri adalah pengalaman besar yang menuntut banyak keterampilan baru, seperti memahami bayi yang belum bisa berbicara dan merespons kebutuhannya. Karena itu, wajar jika otak menjadi lebih mudah beradaptasi dalam proses ini, meskipun penelitian tentang hal tersebut masih terus berkembang.