Belum tentu, ya, Ma. MPASI yang sering tersisa tidak selalu berarti kebutuhan gizi si Kecil tidak terpenuhi. Anak secara alami memiliki kemampuan untuk mengenali sinyal lapar dan kenyang dari tubuhnya. Ketika lapar, anak akan terdorong untuk makan, sedangkan saat sudah kenyang, ia akan berhenti.
MPASI Sering Tidak Habis, Benarkah Anak Bisa Kekurangan Gizi?

MPASI yang tidak habis belum tentu berarti kebutuhan gizi si Kecil tidak terpenuhi.
Anak secara alami memiliki kemampuan mengenali rasa lapar dan kenyang, sehingga tidak perlu dipaksa menghabiskan makanan.
Kecukupan gizi sebaiknya dilihat dari pola makan serta pertumbuhan dan perkembangan anak secara keseluruhan.
Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang sering tersisa tentu bisa membuat orangtua khawatir. Mama mungkin bertanya-tanya apakah kebutuhan nutrisi si Kecil sudah terpenuhi dan apakah kondisi tersebut memengaruhi tumbuh kembang si Kecil.
Hal tersebut dijelaskan oleh dr. Agus Wijata, Sp.A., dokter spesialis anak yang aktif membagikan informasi seputar kesehatan dan tumbuh kembang anak di Instagram-nya, @dr.aguswijata. Menurutnya, orangtua perlu melihat penyebab makanan sering tersisa dan memantau pertumbuhan anak, bukan hanya berpatokan pada apakah makanan di piring sudah habis.
Berikut Popmama.com telah merangkum penjelasan mengenai MPASI sering tidak habis, benarkah anak bisa kekurangan gizi?
Table of Content
1. MPASI sering tidak habis, benarkah anak bisa kekurangan gizi?

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI Menurut dr. Agus, orangtua sebaiknya tidak langsung memaksa anak menghabiskan makanan. Jika kebiasaan tersebut terus dilakukan, anak dapat kesulitan mengenali sinyal kenyang dari tubuhnya sendiri.
Ketika MPASI sering tersisa, Mama dapat mengevaluasi beberapa hal, seperti apakah porsinya terlalu banyak atau anak sedang dalam kondisi kurang sehat. Jadi, jumlah makanan yang tersisa tidak bisa menjadi satu-satunya patokan untuk menilai kecukupan gizi anak.
2. Penyebab MPASI tidak habis

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI Menurut dr. Agus, ada berbagai alasan mengapa si Kecil tidak menghabiskan MPASI.
Sebelum menganggap anak mengalami masalah makan atau kekurangan gizi, Mama bisa mengevaluasi beberapa kemungkinan berikut:
Porsinya terlalu banyak
Terlalu banyak susu atau camilan sebelum makan
Tekstur makanan belum sesuai kemampuan anak
Anak sedang sakit
Tidak menyukai makanan tertentu
3. Tanda anak kurang gizi yang sebenarnya

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI Menurut Permenkes Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak, status gizi anak usia 0–60 bulan dapat dinilai melalui beberapa indeks, seperti berat badan menurut umur (BB/U), panjang atau tinggi badan menurut umur (PB/U atau TB/U), berat badan menurut panjang atau tinggi badan (BB/PB atau BB/TB), serta IMT menurut umur.
Selain hasil pengukuran, Mama perlu lebih waspada jika anak tampak terus-menerus lemas atau kurang aktif, pertumbuhannya tidak sesuai harapan, maupun mengalami keterlambatan perkembangan. Kondisi seperti kulit yang tampak kering atau pucat juga dapat menjadi tanda masalah kesehatan tertentu.
4. Porsi nutrisi MPASI menurut WHO

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI Kebutuhan nutrisi dari MPASI akan bertambah seiring usia si Kecil. Pada bayi yang masih mendapatkan ASI, WHO memperkirakan MPASI perlu menyumbang sekitar 200 kkal per hari untuk usia 6–8 bulan dan meningkat menjadi 300 kkal per hari pada usia 9–12 bulan.
Selain memenuhi kebutuhan energi, MPASI juga perlu memiliki komposisi gizi yang seimbang, yaitu:
Karbohidrat: 35–60%
Protein: 10–15%
Lemak: 30–45%
Pada usia 6–8 bulan, MPASI dapat diberikan 2–3 kali sehari, sedangkan usia 9–12 bulan sekitar 3–4 kali sehari. Porsi dan teksturnya disesuaikan dengan kemampuan makan serta tanda lapar dan kenyang si Kecil.
5. Tips mencegah anak kekurangan gizi

Popmama.com/Sofya Wardhani/AI Untuk membantu memastikan kebutuhan nutrisi si Kecil terpenuhi, Mama dapat menerapkan beberapa kebiasaan dalam keseharian, yaitu:
Pantau pertumbuhan anak secara rutin, termasuk berat badan, panjang atau tinggi badan, serta lingkar kepala sesuai usia. Mama dapat memanfaatkan layanan Posyandu untuk melakukan pemantauan secara berkala.
Perhatikan perkembangan anak, termasuk kemampuan motorik dan perkembangan lainnya. Jika terdapat keterlambatan atau perubahan yang mengkhawatirkan, jangan menunggu terlalu lama untuk berkonsultasi.
Berikan makanan dengan gizi seimbang sesuai usia, termasuk sumber karbohidrat, protein, lemak, serta sayur dan buah dalam pola makan yang beragam.
Terapkan pola makan responsif, yaitu mengenali tanda lapar dan kenyang anak, memberikan waktu makan yang cukup, serta tidak memaksa anak menghabiskan makanan.
Periksakan anak jika pertumbuhannya tidak optimal. Jika berat badan sulit naik, anak terus mengalami penolakan makan, atau ditemukan masalah pertumbuhan dan perkembangan, konsultasikan dengan dokter anak untuk mendapatkan evaluasi yang sesuai.
Jadi, MPASI yang tidak habis belum tentu berarti anak akan kekurangan gizi, ya, Mama. Meski begitu, ketika MPASI sering tersisa, Mama dapat mengevaluasi beberapa hal, mungkin karena porsinya terlalu banyak atau anak sedang bosan dengan makanannya.

-49fd971aac8da0fcfdae0e3d057c8767.png)



















