“Tujuannya bukan sekadar membuat makanan terlihat lebih “wah”, tetapi membantu memenuhi kebutuhan protein, zat besi, zinc, dan berbagai zat gizi penting untuk tumbuh kembang anak,” tulis dr. Hendr dalam unggahannya.
Cegah Stunting, Benarkah Anak Harus Diberikan Double Protein Hewani?

Double prohe berarti mengombinasikan dua sumber protein hewani dalam satu menu MPASI, bukan menggandakan porsinya; cara ini diperbolehkan untuk membantu memenuhi protein, zat besi, zinc, dan nutrisi penting.
IDAI menyebut anak yang mengonsumsi lebih dari satu jenis makanan hewani berisiko stunting lebih rendah; konsumsi protein hewani rutin dan bervariasi mendukung pertumbuhan tinggi badan.
Double prohe tidak wajib setiap makan karena satu protein hewani tetap bergizi; MPASI perlu memperhatikan kecukupan gizi, variasi, porsi, tekstur, serta kemampuan anak menghabiskan makanan.
Masa MPASI menjadi fase penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan si Kecil. Pada periode ini, Mama perlu memastikan kebutuhan nutrisinya terpenuhi untuk mendukung pertumbuhan optimal sekaligus membantu mencegah stunting.
Salah satu nutrisi yang penting adalah protein hewani (prohe), yang perlu diberikan dalam menu MPASI sehari-hari. Bahkan, belakangan ini pemberian double prohe atau dua jenis protein hewani dalam satu porsi MPASI kerap dibahas sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan gizi anak.
Namun, benarkah anak harus diberikan double protein hewani untuk mencegah stunting? Simak informasi yang sudah Popmama.com siapkan berikut ini.
Cegah Stunting, Benarkah Anak Harus Diberikan Double Protein Hewani?

Pexels/Vanessa Loring Melansir dari informasi yang diberikan oleh dr. Hendra Wardhana, Sp.A., dalam akun Instagramnya @hendrawardhana, pemberian double prohe sebenarnya diperbolehkan jika memang orangtua ingin memberikannya kepada bayi.
Tetapi, masih banyak orangtua yang kurang tepat dalam memahami konsep istilah ini. Banyak yang mengira jika memberikan double prohe berarti menambah porsi protein hewaninya menjadi dua kali lipat. Padahal, arti double protein yang sebenarnya adalah mengombinasikan dua sumber protein hewani dalam satu menu makanan.
Terkait cegah stunting, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan, anak yang makan lebih dari satu jenis makanan hewani memiliki risiko stunting yang lebih rendah dibanding dengan anak yang hanya makan satu jenis.
Yang Perlu Diingat saat Memberikan Double Prohe

Pexels/Vanessa Loring Dalam unggahannya, dr. Hendra juga mengingatkan bahwa pemberian double prohe bukan berarti wajib dilakukan setiap kali si Kecil makan, Ma. Satu jenis protein hewani saja sebenarnya tetap bisa menjadi bagian dari menu MPASI bergizi.
Pemberian protein dalam jumlah lebih banyak juga tidak selalu berarti lebih baik, ya, Ma. Pasalnya, memenuhi kebutuhan nutrisi bayi bukan sekadar memberikan protein sebanyak-banyaknya, melainkan memastikan asupan gizinya sesuai dengan kebutuhan.
“Yang jauh lebih penting adalah kecukupan gizi secara keseluruhan, variasi makanan, porsi, tekstur, dan kemampuan anak menghabiskan makanannya,” tulis dr. Hendra.
Mengapa Protein Hewani Harus Bervariasi?

Magnific Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, double prohe merupakan pemberian dua jenis protein hewani dalam satu menu MPASI. Nah, variasi yang dilakukan ini tentunya memiliki manfaatnya tersendiri.
Mengutip dari laman resmi IDAI, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa anak yang rutin mengonsumsi protein hewani cenderung memiliki pertumbuhan tinggi badan yang lebih baik dan risiko stunting yang lebih rendah. Karena itu, Mama perlu memastikan menu MPASI dilengkapi lauk protein hewani secara rutin dan bervariasi.
IDAI juga menyebut, setiap jenis protein hewani memiliki kandungan nutrisi dan manfaat yang berbeda. Oleh karena itu, variasi sumber protein hewani penting agar kebutuhan gizi bayi dapat terpenuhi dengan lebih beragam. Protein hewani juga bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian penting dari menu MPASI usia 6–24 bulan.
Jika diberikan secara bervariasi, berbagai sumber protein hewani dapat saling melengkapi kebutuhan nutrisi anak. Dengan begitu, pertumbuhan tinggi badan, kesehatan, dan perkembangan kecerdasannya dapat didukung secara optimal.
Jadi, Mama tidak hanya perlu memperhatikan pemberian protein hewani, tetapi juga memvariasikan jenisnya sesuai ketersediaan bahan makanan dan kemampuan anak mengonsumsinya. Dengan begitu, kebutuhan nutrisi selama masa pertumbuhan dapat terpenuhi dengan lebih baik.
Sumber Protein Hewani yang bisa Diberikan

Magnific/timolina dr. Hendra juga memberikan beberapa contoh sumber protein hewani yang bisa Mama berikan kepada si Kecil, seperti:
- Belut. Mungkin belum banyak yang familiar dengan hewan ini. Padahal, belut mengandung sekitar 350 kalori per 100 gramnya.
- Daging bebek. Jika dikonsumsi bersama kulitnya, daging bebek bisa mengandung sekitar 300 kalori per 100 gram.
- Daging sapi cincang. Dalam 100 gram daging sapi cincang, terkandung sekitar 250 kalori.
- Ikan salmon dan ikan kembung. Kedua jenis ikan ini mengandung sekitar 250 kalori per 100 gram.
- Telur bebek. Telur bebek bisa mengandung sekitar 100–150 kalori per gram.
dr. Hendra merekomendasikan berbagai protein hewani di atas karena memiliki kandungan kalori yang tinggi. Jadi, jika Mama ingin memberikan si Kecil jenis-jenis protein hewani lain maka sangat diperbolehkan, ya.
“Kalau sedang mengejar kalori dan protein yang lebih tinggi, pemilihan bahan makanan juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan anak,” tulis dr. Hendra.
Itulah informasi mengenai pemberian double protein hewani untuk MPASI. Pemberian protein hewani sesuai kebutuhan memang dapat membantu menurunkan risiko stunting dan mendukung tumbuh kembang si Kecil agar sehat dan optimal.



















’ dan Terjemahannya-RyVwxKZqomb1si5G5GrfOUCB7mMmdNRJ.jpg)
-26f4d13c10e715400dd186381e859a88.png)



