Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Anak Marah saat WiFi Mati? Kenali Dampak Kecanduan Video Pendek

Anak Marah saat WiFi Mati? Kenali Dampak Kecanduan Video Pendek
Pexels/Helena Jankovičová Kováčová
Intinya Sih
  • Reaksi marah berlebihan saat internet terputus dapat menjadi tanda hubungan remaja dengan gadget kurang sehat, meski rasa kesal biasa tidak otomatis berarti kecanduan.

  • Video pendek memicu dopamin dan rasa penasaran berulang; otak remaja yang masih berkembang lebih rentan sulit mengendalikan impuls serta berhenti scrolling.

  • Scrolling berlebihan dapat mengganggu emosi, tidur, konsentrasi, dan aktivitas sosial; orangtua disarankan menyusun aturan gadget bersama, memberi teladan, serta mencari bantuan profesional bila diperlukan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Belakangan ini, media sosial diramaikan dengan video seorang remaja yang diduga mengamuk setelah password WiFi di rumah yang ia tumpangi diganti.

Cuplikan tersebut menuai beragam reaksi dari warganet. Ada yang menganggap perilakunya berlebihan, sementara yang lain menilai insiden itu bisa menjadi gambaran bagaimana ketergantungan terhadap internet dan media sosial mulai memengaruhi cara remaja mengelola emosi.

Perlu dipahami bahwa tidak semua remaja yang kesal saat internet terputus berarti mengalami kecanduan media sosial.

Namun, ketika kehilangan akses internet memicu kemarahan yang berlebihan hingga sulit mengendalikan diri, orangtua perlu mulai memperhatikan pola penggunaan gadget dan dampaknya terhadap kesehatan emosional anak.

Lantas, mengapa scrolling video pendek bisa membuat remaja sulit berhenti dan memengaruhi cara mereka merespons suatu masalah? Berikut Popmama.com telah merangkum penjelasannya beserta dampak yang perlu Mama waspadai.

1. Saat akses internet terputus, mengapa remaja bisa bereaksi berlebihan?

Anak tantrum ketika akses internet terputus
Popmama.com/Violin Heldina/AI

Viralnya video seorang remaja yang diduga marah setelah password WiFi di rumah yang ia tumpangi diganti memunculkan berbagai tanggapan dari masyarakat.

Banyak yang mempertanyakan mengapa kehilangan akses internet dapat memicu reaksi emosional yang begitu besar.

Padahal, bagi sebagian remaja, internet bukan lagi sekadar sarana hiburan.

Mereka menggunakannya untuk berkomunikasi dengan teman, mencari informasi, belajar, hingga menghabiskan waktu luang dengan menonton video pendek di media sosial.

Ketika aktivitas tersebut dilakukan setiap hari dalam durasi yang panjang, otak akan terbiasa menerima rangsangan yang terus-menerus.

Akibatnya, saat akses internet tiba-tiba terputus, sebagian remaja dapat merasakan frustrasi, gelisah, atau kesal karena rutinitas yang sudah mereka nikmati mendadak berhenti.

Reaksi ini dapat terasa lebih kuat apabila penggunaan gadget sudah menjadi sumber hiburan utama dalam kesehariannya.

Rasa kesal adalah respons yang wajar, terutama jika mereka sedang mengerjakan tugas atau berkomunikasi dengan teman.

Perlu menjadi perhatian ketika emosi yang muncul tampak tidak sebanding dengan penyebabnya, misalnya marah berlebihan, sulit ditenangkan, atau sampai kehilangan kontrol diri.

Kondisi tersebut bisa menjadi sinyal bahwa hubungan anak dengan gadget mulai kurang sehat.

2. Scrolling video pendek bisa membuat remaja sulit berhenti

Pola yang dibuat oleh media sosial membuat anak sulit berhenti scrolling
Pexels/cottonbro studio

Terdapat cara kerja otak yang membuat banyak orang sulit meletakkan ponsel. Platform seperti TikTok, Instagram Reels, hingga YouTube Shorts dirancang untuk menyajikan konten yang terus berganti dalam hitungan detik.

Setiap kali pengguna menggeser layar, mereka tidak tahu video seperti apa yang akan muncul berikutnya.

Pola ini menciptakan rasa penasaran yang membuat seseorang ingin terus melihat konten selanjutnya.

Setiap kali menemukan video yang dianggap lucu, menarik, atau menghibur, otak melepaskan dopamin, yaitu zat kimia yang berkaitan dengan rasa senang dan penghargaan.

Lama-kelamaan, otak mulai mengasosiasikan scrolling sebagai cara cepat untuk mendapatkan kesenangan.

Akibatnya, muncul dorongan untuk terus membuka media sosial meski awalnya hanya berniat beberapa menit.

Remaja termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami kondisi ini. Pasalnya, bagian otak yang berperan dalam mengendalikan impuls dan mengambil keputusan masih berkembang hingga usia dewasa muda.

Sementara itu, sistem penghargaan di otak mereka bekerja lebih aktif sehingga lebih mudah tertarik pada aktivitas yang memberikan kepuasan instan, termasuk menonton video pendek secara terus-menerus.

Inilah yang membuat sebagian remaja merasa gelisah ketika tidak bisa mengakses media sosial.

3. Dampak kecanduan scrolling terhadap emosi dan perilaku remaja

Kebiasaan scrolling video pendek dapat berdampak pada kesehatan mental
Pexels/Tima Miroshnichenko

Kebiasaan scrolling video pendek selama berjam-jam tidak hanya memengaruhi waktu luang remaja, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan emosional dan perilaku sehari-hari.

Semakin sering otak terbiasa menerima hiburan yang serba cepat dan instan, semakin sulit pula bagi remaja untuk menghadapi situasi yang menuntut kesabaran atau tidak memberikan kepuasan secara langsung.

Salah satu dampak yang paling sering terlihat adalah menurunnya kemampuan mengendalikan emosi.

Remaja yang terlalu lama menghabiskan waktu di media sosial mungkin menjadi lebih mudah tersinggung ketika diminta berhenti bermain ponsel, sulit menerima aturan yang dibuat orangtua, atau menunjukkan reaksi yang berlebihan saat akses internet terganggu.

Selain itu, scrolling tanpa henti juga dapat mengganggu kualitas tidur.

Banyak remaja yang tetap membuka media sosial hingga larut malam karena merasa hanya ingin melihat satu video lagi.

Padahal, paparan cahaya dari layar dan rangsangan konten yang terus berganti dapat membuat otak tetap aktif sehingga lebih sulit merasa mengantuk.

Kurang tidur pada akhirnya dapat memengaruhi suasana hati, konsentrasi saat belajar, hingga prestasi akademik.

Ketika sebagian besar waktu luang dihabiskan untuk menatap layar, kesempatan untuk mengobrol, berolahraga, menekuni hobi, atau melakukan aktivitas yang melatih keterampilan sosial menjadi berkurang.

4. Otak remaja lebih rentan mengalami kecanduan media sosial

Otak remaja masih dalam tahap perkembangan, maka dari itu lebih rentan
Pexels/Atlantic Ambience

Masa remaja merupakan periode ketika otak masih terus berkembang, terutama pada bagian prefrontal cortex, yaitu area yang berperan dalam:

  • mengambil keputusan,
  • mengendalikan impuls,
  • mempertimbangkan risiko,
  • mengatur emosi.

Sementara itu, sistem penghargaan (reward system) di otak berkembang lebih cepat sehingga remaja cenderung lebih tertarik pada aktivitas yang memberikan kesenangan secara instan.

Ketidakseimbangan inilah yang membuat mereka lebih mudah tergoda untuk terus membuka media sosial, termasuk menonton video pendek selama berjam-jam.

Setiap notifikasi, like, atau video menarik yang muncul di media sosial dapat memicu pelepasan dopamin, yaitu zat kimia di otak yang menimbulkan perasaan senang.

Karena sensasi tersebut muncul berulang kali, otak mulai belajar bahwa membuka media sosial adalah cara tercepat untuk mendapatkan hiburan.

Akibatnya, ketika akses internet terputus atau penggunaan gadget dibatasi, sebagian remaja dapat merasa gelisah, kesal, bahkan sulit mengendalikan emosinya karena sumber stimulasi yang biasa mereka terima tiba-tiba hilang.

Namun, penting dipahami bahwa tidak semua remaja yang gemar bermain media sosial mengalami kecanduan.

Penggunaan media sosial masih tergolong wajar apabila tidak mengganggu sekolah, waktu tidur, hubungan dengan keluarga, maupun aktivitas lainnya.

5. Cara membantu remaja membangun hubungan yang lebih sehat dengan gadget

Buat aturan penggunaan gadget agar anak tidak kecanduan
Pexels/Towfiqu barbhuiya

Melarang remaja menggunakan gadget sepenuhnya bukanlah solusi yang realistis. Internet telah menjadi bagian dari kehidupan mereka, baik untuk belajar, berkomunikasi, maupun mencari hiburan.

Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah membuat aturan penggunaan gadget bersama anak.

Misalnya, menyepakati waktu bebas gadget saat makan bersama, satu jam sebelum tidur, atau ketika sedang berkumpul dengan keluarga.

Ketika aturan disusun bersama, remaja cenderung merasa pendapatnya dihargai sehingga lebih mudah mematuhinya dibanding jika hanya menerima larangan sepihak.

Akan sulit meminta anak mengurangi waktu scrolling jika orangtua sendiri lebih sering menatap layar daripada mengobrol dengan keluarga.

Menunjukkan kebiasaan menggunakan ponsel secara seimbang dapat membantu anak memahami bahwa teknologi hanyalah alat, bukan pusat dari seluruh aktivitas sehari-hari.

Tak kalah penting, bantu remaja menemukan aktivitas lain yang membuat mereka merasa senang dan berprestasi.

Mengikuti olahraga, belajar musik, membaca buku, memasak, atau berkumpul dengan teman secara langsung dapat memberikan pengalaman positif yang tidak kalah menarik dibanding scrolling media sosial.

Apabila orangtua mulai melihat tanda-tanda seperti:

  • anak terus memikirkan media sosial,
  • sulit berhenti meski sudah berkali-kali diingatkan,
  • mengabaikan sekolah atau aktivitas penting,
  • menunjukkan ledakan emosi saat akses internet dibatasi,

Mama dan Papa jangan ragu untuk berdiskusi dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental.

Kalau menurut Mama, apakah anak di rumah sudah bisa mengendalikan penggunaan gadgetnya, atau justru masih sulit berhenti saat asyik scrolling media sosial?

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More